Practical Tips

When Passion Doesn’t Pay Your Bill!

Pertengahan November 2007, saya bertemu dengan Sekar Pandan Wangi – Program Director Hard Rock FM. Hasilnya, kami punya daftar topik untuk 2008.

Setelah pilih-pilih, kami sepakat, tahun baru harus dimulai dengan ngegas!

Jadilah bintang tamu pilihan kami untuk edisi perdana Financial Clinic adalah : my personal career coach Rene Suhardono.

Topiknya pun nyebelin : When Passion Doesn’t Pay Your Bill!

Jadi ceritanya begini. Sering banget saya menerima email dari teman-teman yang bunyinya kurang lebih sebagai berikut :

”Wina, sekali-sekali bikin dong topik untuk gaji kecil. Contohnya melulu untuk gaji yang besar-besar.”

Lho…. jadi judes banget deh kalau ada yang kirim email begitu.

Reaksi pertama saya adalah : I’m a financial planner. I’m not a career coach. I don’t care how much money you make, I care about how much is left after all your spending and how I can work with that kind of money towards investments.

So…
Are you happy with your job?
Are you happy with your salary?
Are you happy with life itself?

Orang dengan attitude : gaji gue kecil… akan terus jadi begitu…

7 tahun kemudian, gaji naik 7 x lipat pun, orang ini akan terus bilang : gaji gue kecil… kan sekarang anak gue 3.

7 tahun berikutnya, gaji naik lagi 5 x lipat, orang ini akan bilang : gaji gue kecil… dengan jabatan direktur, mana cukup gaji sebegitu, anak gue kan udah kuliah, biaya kuliah mahal, bensin naik, listrik naik…

I cannot help you if you don’t want to help yourself.

Seorang financial planner harus ketemu angka. Angka ini yang harus bicara, apa iya gajinya kecil? Apa iya gajinya gak cukup? Atau jangan-jangan ada pengeluaran gak penting yang membuat gaji ini berasa gak cukup? Atau jangan-jangan ada kebiasaan buruk yang membuat gaji ini habis terus?

Biasanya saya akan lempar body ke Rene. Tentu saja Rene akan ngakak habis-habisan dan dengan rese bilang begini : I’m a career coach. I’m not a financial planner.

Tuh kan…

Your money, your life, your responsibility!

TIPS dari WINA supaya gak merasa kekurangan melulu :

1. RINCI PENGELUARAN

Pekerjaan paling menyebalkan dalam financial planning adalah menyusun budget dan lebih parah lagi membandingkannya dengan pengeluaran aktual. Tapi kalau merasa kekurangan ini tetap harus dilakukan.

2. BUKTIKAN!

Bukan lagu Dewi Sandra, tapi ayo buktikan kalau memang gaji kita kurang. Hasil memerinci pengeluaran tadi harus dapat menunjukkan di mana kita kekurangan.

Beberapa contoh lucu :

Si gaji 4 juta, merasa gaji kecil dan minus melulu. Katanya karena harus menopang hidup keluarga. Hasil rincian anggaran menunjukkan bahwa 2 juta habis untuk pengeluaran ibu. Oklah 50% adalah angka yang besar. Tetapi dari 2 juta sisanya, 500 ribu untuk fitness, 500ribu untuk vitamin, 500ribu untuk internet dan TV kabel, 500ribu lagi untuk pengeluaran.

Si gaji 10 juta merasa kekurangan. Padahal untuk menyiapkan biasa masuk TK anaknya cuma 1 bulan lagi… ternyata cicilan LCD TV itu Rp 1 juta per bulan, tapi tabungan untuk TK anaknya cuma Rp 300ribu / bulan.

3. NAIKKAN PENGHASILAN, TURUNKAN PENGELUARAN

Iya iya tau, ini emang gak gampang prakteknya.

Turunkan pengeluaran – artinya kita periksa tuh daftar pengeluaran dan cek mana yang gak masuk akal. Hp 800ribu per bulan apa iya? Premi asuransi 2 juta per bulan, tapi Uang Pertanggungannya 50 juta, apa iya? Makan di luar setiap hari apa iya? Minimum payment kartu kredit kok sampai Rp 3 juta per bulan ya?

Sudah semuanya dihemat – gak seru banget ya disuruh hemat – sekarang gimana?

Biasanya dengan ngeyel akan ada yang bilang begini : Apalagi yang mau dihemat? Sekarang artinya penghasilan yang harus dinaikkan. Banyak caranya kok.

  • Istri boleh kerja (heheheh… viva feminista. Lo pikir Tante Wina boleh kerja lagi kenapa? Gaji Om Don naik terus juga, kalau keinginannya banyak kan gak cukup untuk investasi??
  • Cari kerja sampingan.
  • Buka warung.
  • Menyiapkan aset yang dapat menghasilkan : Bisnis, Properti, Surat Berharga
  • Jadi penulis.
  • Jadi dosen honorer.
  • Jadi editor buku.
  • Jualan asuransi (heheheheheheheheheh….)
  • Jualan panci presto cooker.
  • Jualan kaos dengan sablon lucu.
  • Ambil barang di Tanah Abang dan bawa ke kantor untuk dijual.
  • Ambil barang dari teman dan bawa ke kantor untuk dijual.

Tahu gak, dikasih daftar hal bisa dilakukan untuk menambah penghasilan, jawaban negatifnya bisa seperti ini :

  • Duh kerja sampingan gimana, pulang kantor udah sore banget.
  • Yah gak level… biasa ke mall kok disuruh jaga warung.
  • Aset? Perlu modal dong. Lo bisa minjemin gak? Gue kan gak punya duit.
  • Jadi penulis? Gak bakat.
  • Jadi dosen? Gak punya S2.
  • Jualan???? Oh My GOD, never!
  • Ke Tanah Abang? Apa itu Tanah Abang?

Tuh kan… alasan sih ada terus.. kapan majunya?

Kira-kira Rene akan punya komentar apa ya… Si gaji 1 juta merasa kekurangan…  Lho kan lagi magang? Tempat lain magang itu gak dibayar lho! Memangnya kamu punya kemampuan apa supaya gajinya gak 1 juta? Memangnya kalau dikasih gaji Rp15 juta lo bisa kasih kontribusi apa sama perusahaan?

Hasil cela-celaan dan diskusi dengan Rene menunjukkan kesimpulan sbb :

  • Always seek for your passion – kalau sampai belum ketemu jangan kapok (Wina menemukan passionnya setelah 5 tahun, Dondi menemukan passionnya setelah 7 tahun… jadi memang gak bisa ketemu dalam sekejap)
  • Develop your career – not just a job
  • Gaji gak datang dari langit, perhatikan proses bagaimana terjadinya gaji itu sendiri dalam perusahaan. Kalau ingin gaji kita naik, berarti perusahaan juga harus punya income lebih besar. Makanya fokus kerja kita harus juga memberikan kontribusi signifikan pada peningkatan penghasilan perusahaan.

Contoh yang sempat seru dibahas : bilang sama boss kalau kamu punya ide-ide cemerlang untuk meningkatkan penghasilan perusahaan. Jangan lupa tanyakan reward apa yang kamu dapatkan kalau ide itu bisa berhasil diimplementasikan. Kalau sampai ternyata rewardnya gak berasa – paling tidak kamu sudah berhasil mengembangkan karir kamu, jadi bisa ’shop around’ ke perusahaan lain dengan menunjukan achievement tadi : berhasil meningkatkan penghasilan perusahaan. This is more valuable than asking for a raise.

Belakangan ini Rene malah sering bertemu executive yang bersedia pindah  kerja dengan gaji pokok lebih kecil, tetapi dengan gaji variabel yang berpotensi memberikan hasil lebih besar.

Terakhir, tukar menukar jargon antara Wina dan Rene :

Tujuan lo apa?
Dana Darurat lo udah berapa seh?
You eat what you kill.
Love your career not your job.

Masih ada yang berani bilang gajinya kekecilan? Tongue out Biasanya ada aja yang masih bunyi : bagaimana dengan orang yang bekerja sebagai tukang becak?

Well, are you a tukang becak?
Do you make Rp 10.000 a day and spend it all in food? If you do, you need a break. You don’t need financial planning or career coaching. You need to be empowered!

Makanya ada zakat, sedekah, charity, perpuluhan atau apapun namanya yang membuat semua penghasilan kita itu ada bagiannya yang menjadi hak orang yang lebih gak mampu dibandingkan kita.

Or the wonder of microfinance. Check this brilliant program : www.kiva.org. CNBC pernah meliput juga ke lokasi pinjaman KIVA. Sakit jiwa, awalnya saya tidak percaya. Tapi ternyata ada dan terjadi di dunia nyata. Supir taksi sepeda di Afrika menerima pinjaman dari KIVA untuk memulai restorannya (baca : warung jelek dari terpal di pinggir jalan). Sehingga si supir taksi sepeda ini bisa memperbaiki hidupnya, pindah ke rumah yang pintunya besi (sebelumnya gak punya pintu) dan menyekolahkan anaknya.

Microfinance is lending to the poor. It is about creating big breaks. It is the business of creating champion out of noone. (quotes taken from www.kiva.org). By the way, this is Dondi’s passion. He is a credit specialist, working as head of risk management for a multi finance company. He is working very hard to make it into the gate of microfinance. He is improving his knowledge and skills. So when he meets the opportunity, he will be embracing it.

Now don’t tell me that you are ‘orang gak punya’ dengan gaji sejuta, HP Nokia seri N dan nongkrong-nongkrong di mall… I’ve seen too much of it. You gotta come up with better excuses! Smile

You ARE Responsible For Your Own Finances!


Ligwina Hananto

TOPICS


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Daftarkan email Anda untuk update terbaru dari QM!

Contact Us

Ingin mengundang QM untuk kegiatan di tempat Anda? Punya pertanyaan seputar literasi finansial? Tinggalkan pesan dan kami akan segera menghubungi Anda!

Our Location

Grand Wijaya Center Blok D No. 11
Jl. Wijaya II
Jakarta Selatan
Telp: (021) 293 294 08 / 09
Email: info@qmfinancial.com

Keep in Touch