Personal Views

Rupiah melemah, saatnya beli Dollar$? Eits ntar dulu…

Begini data yang gue lihat di MetroTV tadi malam :
30 Sept 08 : IDR 9.425/USD 1
10 Oct 08 : IDR 9.860/USD 1

Siapa yang gak “geumpeur” atau deg2an melihat Rupiah tiba2 drop dalam 2 minggu? Nembus Rp 10.000 lagi nih?

Apakah sekarang saatnya beli USDollar$???
Kalau lo seorang penjudi dan spekulan… Yuk mari!

Gue paling gak tahan tuh, kalo ketemu orang yang ngeributin harga Rupiah. Mumpung belum 10.000 kita beli sekarang, nanti kalo udh di atas 10.000 kita jual… Hiiii spekulan abeys… Model gini nih yang bikin ngaco nilai tukar mata uang kita. Tau gak sih kerjaan 1 orang aja spekulatif, tapi kalau digabung jadi jutaan orang pastinya akan mengacaukan ekonomi negara kita. Itu pasti akan merugikan banyak orang. Kecuali kalau lo gak perduli ekonomi negara kita rusak gara2 lo ikutan spekulan USD$.

Jadi kapan harus jual atau beli USD$?

Ada suatu hal yang disebut “home currency exposure”.

Artinya kita memegang satu mata uang karena itulah kebutuhan mata uang kita.

Penghasilan dalam Rupiah, pengeluaran dalam Rupiah. Menurut lo, “home currency” gue apa??? Hehehehe…

Memang ada beberapa kasus yang akhirnya gue sarankan memegang mata uang asing.

Misalnya lawyer yang gajinya USD$. Orang ini pasti harus punya sejumlah uang dalam USD$. Jangan sirik dulu, orang ini gajinya turun lho kalau Rupiah menguat, pusing kan, padahal kebutuhan hidupnya tinggal di Jakarta ya Rupiah semua bukan? Jadi orang ini perlu menyimpan sejumlah uang dalam USD$ supaya bisa jual beli di saat tertentu dan memastikan ada cukup Rupiah untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Orang Australia yang sudah menikah dg orang Indonesia. Keluarga ini berencana hidup lama di Indonesia, jadi Plan dibuat dalam Rupiah. Tapi karena si bapak orang Australia, maka ia perlu exposure mata uang USD$ dan AUD$. Sebagian investasi pun perlu dilakukan dalam mata uang asing itu.

Mereka yang pekerjaan nya menuntut banyak travelling, nah perlu nih simpan uang dalam mata uang asing seperti USD$, AUD$, SGD$, GBP£ atau Euro€. Tergantung negara tempat mereka bekerja.

Contoh terakhir adalah pensiunan atau orang-orang dengan dana kas terinvestasikan dalam jumlah besar > Rp 3Milyar. Gak bisa cuma naro uang dalam Rupiah karena jumlah uangnya juga banyak. Biasanya orang dengan uang sebanyak itu gak sekadar bikin Plan. Tapi juga perlu dana lari yang menghasilkan return besar. Tujuan Finansial udah selesai dalam Reksadana Rupiah, eits masih ada nih sisa uang dalam jumlah besar. Maka alternatif investasi nya pun jadi lebih beragam.

Tapi kalau lo sekadar “everyday Indonesian” seperti gue… Gak usah ikut2 aneh2 sok mau spekulan USD$ deh. Untung sesaat itu gak akan bawa manfaat apa2.

Gue hanya membeli USD$ atau mata uang asing lain saat akan berangkat liburan ke luar negeri. Ini kan gak dilakukan tiap bulan. Kemungkinan kami akan berangkat lagi ke luar negeri akhir bulan oktober dan rencana berikutnya maret2009. Jadi paling2 beli sedikit2 aja tergantung penggunaan. Bukan untuk jadi spekulan, ntar jual pas harganya naik. Emang ngambil barang di Tanah Abang???

Don punya rekening USD$, GBP£ dan SGD$, tapi itu pun sisa dulu pernah menerima uang dlm mata uang asing waktu masih kerja di bank asing asal Inggris itu. Jadi sekarang rekening itu isinya virtually NOL.

Pendidikan anak2 yang direncanakan ke luar negeri pun, masih lama 12-15 tahun yad. Setelah dihitung, saat ini masih perlu lari2 dalam Rupiah.

Kebetulan jumlah dana kas yang gue miliki juga belum banyak2 amat dan semuanya masih harus lari di Rupiah. Jadi saat ini “home currency exposure” gue adalah : RUPIAH.

Bayangin nya gini deh.

Punya USD$ dalam jumlah kecil… Misalnya USD$3.000, lo akan kesulitan mencari produk investasi yang bagus. Paling2 cuma bisa masuk deposito atau reksadana dengan return rendah. Simpan di rumah, risikonya besar, bank note USD$ di Indonesia harus dalam kondisi mint 100% sempurna, gak boleh ngelipet atau ada titiknya bla bla bla. Di tabungan, bunganya kecil malah kegerus biaya admin.

FYI Reksadana Off Shore rata2 membutuhkan minimal equivalen USD$ 20.000.

Padahal, uang USD$ 3.000 dalam Rupiah berasa bener gedenya. Masuk Deposito atau Reksadana Pasar Uang aja, kerasa kan hampir Rp 30.000.000! Wah bisa jadi Tujuan Finansial yang mana tuh…

Jangan salah, gue juga punya kok keinginan menyimpan uang dalam mata uang asing. Tapi dihitung2 memang gue masih butuhnya Rupiah semua.

Jadi kalau urusannya dengan Rupiah Versus Mata Uang Asing, tanya deh pada diri sendiri… TUJUAN LO APA? Kebutuhan lo seperti apa? Home currency lo apa?

What are you going to do with your money?
Ligwina Hananto

TOPICS


Satu tanggapan untuk “Rupiah melemah, saatnya beli Dollar$? Eits ntar dulu…”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Daftarkan email Anda untuk update terbaru dari QM!

Contact Us

Grand Wijaya Centre Blok A no.3-4
Jl. Wijaya II, Pulo-Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Anda juga dapat menghubungi kami melalui:
WhatsApp/SMS/Call: 08111500688
Email: info@qmfinancial.com

atau silakan isi form kontak berikut:

Berkarir bersama QM

QM Financial memiliki mimpi mewujudkan masyarakat yang memiliki literasi keuangan agar berdaya secara finansial. Anda dapat mengirimkan CV dan menceritakan kenapa Anda tertarik untuk bergabung dengan kami serta bagaimana cara Anda dapat berkontribusi melalui surel ke hr@qmfinancial.com

Keep in Touch