Personal Views

I Want Change!

Ligwina : Jd lo kmrn tuh apaan? Anxiety attack? Mau nyobain homeotheraphy gak?
Alex : Asam lambung gila2an. Itu di mana?
Ligwina : Pake obat2 herbal
Alex : Gw takutnya radang usus jg. Krn skrg dah mulai perih nih
Ligwina : I think you have a cronic condition, has to be dealth with properly. No modern medicine is gonna cure it. Urusan perasaan juga ya? Sama ama gw hakhakhak
Alex : Heheheh… batin neeeyk… batiiin…

Itu sebagian percakapan terakhir saya dengan seorang teman. Namanya Alexander Abimanyu. Kamis 11/04/2010 pagi, Alex meninggal dunia. Diduga serangan jantung.

Gue dan segudang temannya begitu kaget. Tentu gak terbayang bagaimana rasanya jadi Dinda, istri Alex yang memeluknya di saat-saat terakhir.

Gue kenal Alex jaman sekolah di Perth. Sama-sama ikutan program Year12 di Tuart College, Tuart Hill – suburb di sebelah utara Perth. Gue masih ingat pertama kali ketemu di perpustakaan Tuart College. Dengan gayanya yang anak Jakarta banget (maklum gue kan anak Bandung hihihi) dia nyamperin gue dan Sarah – roommate gue yang orang Perancis tapi WNI asal Bali.

“Heeeei… anak Indo ya?”

Moment penting lain adalah… ketika sedang ‘dekat’ dengan Alex, gue ketemu dia di Gelare Northbridge, Perth dengan Dondi J. Besoknya dengan semangat ’45 gue nanyain siapa cowok gondrong sebelah Alex. Setelah itu Alex berhenti telpon ke rumah hahahahah…

Setahun kemudian gue dan Dondi jalan ke mana-mana selalu berdua. Ketemu Alex di City, Perth. Dia nunjuk kami dan ngakak kenceng banget. Akhirnya dia berbagi juga cerita kalo ternyata waktu pertemuan di Northbridge itu, Dondi juga nanyain gue. Tapi dia sebel makanya gak dia kasih tahu ke gue atau ke Dondi… hahaha maap ya Alex, so inconsiderate of us!

Terus ketemu lagi di Jakarta, gue sudah menikah dengan Dondi. Ketemu lagi (selalu di mall, dasar tukang jalan ya) kami sudah bawa 2 anak. Lalu kami mendengar kabar Alex menikah dengan Dinda. Setahun terakhir ini Alex dan Dinda termasuk ‘geng nongkrong’ bersama gue kalo lagi butuh ngadu ke Rene Suhardono, sang kepala suku ‘geng nongkrong’ ini :) Jadi berlanjut dari ngopi-ngopi, makan-makan dan terakhir masih sempat nonton bareng film Confucius.

Sekarang gue udah bisa ketawa inget hari-hari kenal Alex. Terus terang gue dulu suka ngetawain dia. He is Mr. Drama! Sering mendramatisir suasana. That’s just the way he is. Nothing is wrong. Harmless.

Bahkan caranya meninggalkan kita semua pun, tetap khas Mr. Drama. Rabu masih ngobrol kok Kamis udah gak ada? Like him or not, he is a dot connector. Is not was. Karena justru setelah Alex pergi, gue banyak sekali bisa berhubungan lagi dengan teman-teman lama, dari jaman
sekolah di Perth, sampai teman-teman yang di Jakarta dan jarang ngobrol. Salah satunya adalah juga dengan persahabatan baru dengan Dinda, istri Alex.

Sebetulnya ada pesan sangat penting dari kepergian Alex. Alex left us so abruptly. He was only 33 year old. Something must be very wrong with the way we live!

Setiap Rabu pagi masih suka kaget sendiri dan baca lagi BBM dari Alex (tiap Rabu pagi gue dianter Dondi meluncur ke CosmopolitanFM di Sarinah Thamrin). Setelah hampir sebulan, seperti diskusi gue dengan Dinda – istri Alex, kita semua perlu closure. Here is my version of closure with Alex.

I want change. I want to live to my fullest life. I want better quality of life.

Dan ini hanya bisa terjadi dengan cara yang elegan.

1. Bekerja maksimal 60 jam per minggu – dulu 80 jam per minggu sih lewat, tapi untuk apa? In the name of passion?
2. Makan makanan sehat – dulu makan sekena nya aja. Sekarang sudah menyusun menu untuk 2 minggu ke depan akan memasukkan nutrisi apa ke badan ringkih ini. Bukan hanya junk asal lewat lagi.
3. Akan punya ME TIME reguler! – ke gym minimal 3 x seminggu dan spa 1 x seminggu.

Konyol dan lebay mungkin. Tapi buat gue pribadi, memang ini pesan dari kepergian seorang Alex. Orang yang banyak bikin gue ketawa. Kadang gue ngetawain dia, kadang kami ketawa bersama. I wasn’t the best of friend he could have. But he gave me something at the end of his life : recognition to life itself.

This piece of writing is dedicated to Dinda Nawangwulan. I read your loveletter, very sad and very sweet at the same time. You of all people would know that life… is… for… today.

Gue mohon untuk semua teman-teman gue, mulai melihat lagi cara hidup masing-masing. Selalu ada cara untuk membuat perbaikan dari cara hidup kita yang serba cepat ini.

~Ligwina~

20.14, menunggu dijemput Dondi pulang. Memastikan ada chicken pesto sandwich yang sehat untuk Dondi makan. Sampai rumah akan menyiapkan makanan sehat untuk sarapan dan makan siang besok. Dan juga memastikan akan tidur cukup (6 jam) malam ini.


TOPICS


Satu tanggapan untuk “I Want Change!”

  1. Titi Andjarwati berkata:

    WIna, thanks alot for your story about my Alex. Sayangnya gue baru liat sekarang , baru sempet browsing2 lagi kangen sama Alex. (Nyuri waktu di kantor. Anyway thanks a lot to my son’s best friend. It is making me proud to my son and you. May GBU always.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Daftarkan email Anda untuk update terbaru dari QM!

Contact Us

Grand Wijaya Centre Blok A no.3-4
Jl. Wijaya II, Pulo-Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Anda juga dapat menghubungi kami melalui:
WhatsApp/SMS/Call: 08111500688
Email: info@qmfinancial.com

atau silakan isi form kontak berikut:

Berkarir bersama QM

QM Financial memiliki mimpi mewujudkan masyarakat yang memiliki literasi keuangan agar berdaya secara finansial. Anda dapat mengirimkan CV dan menceritakan kenapa Anda tertarik untuk bergabung dengan kami serta bagaimana cara Anda dapat berkontribusi melalui surel ke hr@qmfinancial.com

Keep in Touch