Planner Blog

Investasi Reksadana

Dalam rencana keuangan, yang paling umum dilakukan saat ini adalah berinvestasi reksadana. Sejak tahun 2005, reksadana di Indonesia mulai dikenal dan saat ini terdapat kurang lebih 711 produk. Memilih beberapa reksadana di antara begitu banyak pilihan tentu saja tidak mudah. Apalagi kalau kita tidak mengerti apa sebenarnya reksadana dan tidak memiliki banyak pengalaman berinvestasi. Banyak yang kemudian mengalami Decision Paralysis dan akhirnya terus menunda berinvestasi justru karena banyaknya informasi dan pilihan yang tersedia.

Well, saya sering bilang kalau imbal hasil investasi juga tergantung rejeki masing-masing orang. Oleh karena itu, lakukan pekerjaan rumah Anda untuk belajar mengenai reksadana dan bertindaklah. Jangan sampai ketakutan Anda akhirnya membuat Anda tidak menjalankan rencana keuangan Anda.

Menurut Undang Undang No. 8 tentang Pasar Modal, reksadana adalah wadah yang dipergunakan untuk menghimpun dana dari masyarakat pemodal untuk diinvestasikan dalam portfolio efek, seperti deposito, obligasi atau saham oleh Manajer Investasi.

Saya sering mengatakan bahwa reksadana adalah investasi patungan karena Anda sebagai investor akan masuk kedalam reksadana bersama-sama dengan investor lainnya. Dalam reksadana, selain investor ada Bank Kustodian yang berperan menyimpan dana, melakukan transaksi dan administrasi serta Manajer Investasi, badan yang berperan mengelola dana yang terkumpul sesuai dengan ketentuan dalam prospektus.

Jumlah seluruh dana dalam wadah reksadana dibagi dengan jumlah unit yang dikeluarkan manajer investasi adalah Nilai Aktiva Bersih (NAB) per unit. Inilah harga atau angka yang kita perhatikan pada saat kita membeli reksadana.

Sebagai contoh, produk reksadana XYZ, pada tanggal 1 Januari 2011 mempunyai harga NAB perunit sebesar  Rp5.000. Pada hari itu, investor A memutuskan untuk berinvestasi dalam reksadana XYZ sebesar Rp1.000.000. Maka, investor A akan memperoleh unit sebanyak investasi/harga NAB perunit. Sehingga perhitungannya menjadi Rp1.000.000/Rp5.000= 200 unit penyertaan.

Pada tanggal 1 Feb 2011, investor A mendapatkan laporan perkembangan harga unit dari manajer investasi yang NAB per unit reksadana XYZ adalah Rp4.000. Jumlah dana investor A berkurang menjadi Rp800.000 atau turun sebesar 25%.

Sebulan kemudian, Investor A kembali mendapatkan laporan perkembangan dana. Pada tanggal 1 Maret 2012, NAB perunit reksadana XYZ adalah Rp6.000. Sehingga dapat dikatakan bahwa dana investor A sudah berkembang menjadi Rp1.200.000 atau naik sebesar 25%.

Namun, perlu diingat bahwa jika investor A tidak menarik dananya dari reksadana XYZ maka kerugian atau keuntungan yang terjadi bukanlah merupakan realized loss atau realized gain.

Keuntungan berinvestasi dalam reksadana adalah

  • Terjangkau. Dengan jumlah dana relatif kecil, misalnya Rp500.000, investor sudah dapat membeli reksadana. Bandingkan dengan membuka rekening deposito atau rekening sekuritas yang membutuhkan dana hingga puluhan juta.
  • Pengelolaan portfolio yang profesional oleh manajer investasi dan bank kustodian. Investor cukup memantau harga NAB perunit dari produk reksadana yang dipilihnya.
  • Diversifikasi investasi dengan biaya terjangkau. Portofolio dalam sebuah reksadana dapat diinvestasikan kedalam berbagai instrumen investasi sekaligus.
  • Likuiditas tinggi. Manajer investasi menjamin bahwa unit dapat di jual kembali kapanpun investor memutuskan untuk menarik dananya.
  • Informasi yang transparan. Investor dapat mengetahui perkembangkan reksadananya melalui berbagi situs internet dan koran bisnis terkemuka.

Selain keuntungan, jangan lupa bahwa berinvestasi di reksadana memiliki resiko, antara lain:

  • Reksadana adalah produk investasi bukan produk bank, sehingga tidak termasuk ke dalam cakupan obyek penyimpanan yang dijamin pemerintah.
  • Nilai unit penyertaan reksadana dapat berkurang mengikuti perubahan NAB perunitnya. Hal ini dapat disebabkan antara lain oleh kondisi pasar atau gagal bayarnya perusahaan yang menerbitkan obligasi.
  • Untuk reksadana dalam mata uang asing, ada resiko terhadap nilai tukar karena memiliki fluktuasi yang cukup tinggi.

Jadi, bagaimana memilih reksadana yang sesuai? Berikut hal yang perlu diperhatikan:

  • Penting untuk diingat bahwa resiko investasi reksadana berbanding lurus dengan imbal hasilnya.
  • Pahami tujuan rencana keuangan pribadi, profil resiko dan jangka waktu investasi.

Semoga setelah memahami  reksadana, kita dapat menikmati hasil investasinya.

Yasmeen Danu |Planner |@yasmeen__

TOPICS


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Daftarkan email Anda untuk update terbaru dari QM!

Contact Us

Grand Wijaya Centre Blok A no.3-4
Jl. Wijaya II, Pulo-Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Anda juga dapat menghubungi kami melalui:
WhatsApp/SMS/Call: 08111500688
Email: info@qmfinancial.com

atau silakan isi form kontak berikut:

Berkarir bersama QM

QM Financial memiliki mimpi mewujudkan masyarakat yang memiliki literasi keuangan agar berdaya secara finansial. Anda dapat mengirimkan CV dan menceritakan kenapa Anda tertarik untuk bergabung dengan kami serta bagaimana cara Anda dapat berkontribusi melalui surel ke hr@qmfinancial.com

Keep in Touch