Articles

Inspirasi Kartini: Sebuah Perjuangan Kemandirian

Siapa yang tak kenal Kartini? Setiap tanggal 21 April kita memperingati hari lahir Raden Ajeng Kartini atau yang lebih dikenal dengan Kartini. Kartini merupakan salah satu inspirasi perjuangan kemandirian. Kartini berjuang agar perempuan bisa mandiri dan sejajar dengan laki-laki. Pertanyaannya, sudahkah kita perempuan menjadi mandiri, termasuk mandiri secara finansial?

Perempuan yang mandiri secara finansial ini diwujudkan dalam dua hal: bisa menghasilkan uang sendiri dan punya kebiasaan mengatur uang dengan baik. Dalam kehidupan kita akan melewati tiga fase: muda, mapan, dan pensiun. Di tahapan mana pun kita saat ini, kita harus bisa mengurus uang. Kebiasaan baik mengurus uang seperti apa sih yang sebaiknya kita lakukan di tiga tahap kehidupan tersebut?

MUDA

Masa muda adalah masa yang paling tepat untuk memulai kebiasaan keuangan yang baik. Enggak perlu ribet. Buat kamu yang berusia kurang dari 30 tahun, mulai dari yang basic dulu seperti:

  1. Memilih mau mulai membangun karir, kuliah lagi, atau mulai bisnis? Pilihan hidup mana yang kamu pilih? Mau mulai membangun karir di perusahaan top? Mau kuliah lagi? Atau mau mulai bisnis sendiri? Pilihannya terserah kamu. Setiap pilihan disertai konsekuensi, termasuk konsekuensi keuangan.
  2. Biasakan menabung minimal 10% dari penghasilan. Menabung minimal 10% dari penghasilan ini kelihatannya sepele, padahal kenyataannya enggak. Jangan nunggu sisa kalau mau nabung. Aktifkan fasilitas auto debet dari rekeningmu setiap bulan sehabis gajian. Sebelum kamu sempat berkedip, sebagian penghasilan sudah berhasil disisihkan untuk masa depan.
  3. Kumpulin DP untuk rumah. Memiliki properti sendiri adalah sebuah perjalanan yang menghangatkan hati. Tak perlu buru-buru, yang penting mulai aja dulu. Kumpulkan dana down payment senilai 30% harga rumah.
  4. Investasi senilai 1/2 pasang sepatu untuk Dana Pensiun. Kebutuhan dana pensiun kita itu besar. Dengan berinvestasi sejak muda, dana yang kamu investasikan bisa lebih kecil. Read more: Investasi Dana Pensiun Mulai Dari Setengah Harga Sepatumu!
  5. Liburan vs shopping tolong dijaga! Untuk kategori lifestyle ini, kamu boleh alokasikan maksimal 20% dari penghasilan bulanan. Kalau belum punya cukup dana untuk liburan, nabung dulu lah. Jangan sampai kamu utang buat Dana Liburan.

MAPAN

Di usia mapan – biasanya kepala empat – kita sudah harus melangkah lebih lanjut ke fase  akumulasi aset. Di usia ini biasanya penghasilan sedang tinggi-tingginya. Sebagian penghasilan sebaiknya diubah menjadi aset. Aset yang dikumpulkan adalah aset aktif yang terdiri dari kombinasi bisnis, properti, dan surat berharga.  Kebiasaan keuangan di tahap ini antara lain:

  1. Memiliki penghasilan dari banyak pintu. Di tahap ini penghasilan tidak hanya dari gaji saja, tapi juga dari aset aktif yang sudah mulai memberikan penghasilan pasif.
  2. Menjaga porsi cicilan max 30%. Jumlah cicilan, termasuk rumah, mobil, dan cicilan lain harus dijaga maksimal 30% dari penghasilan  bulanan keluarga.
  3. Sudah punya properti sendiri. Kalau di usia muda memiliki properti sendiri masih merupakan opsi. Saat mapan, kita sudah harus punya properti sendiri. Bahkan perlu ditanya, punya properti berapa?
  4. Membeli aset aktif. Dengan tingkat penghasilan yang tinggi, usia mapan adalah usia yang tepat untuk membeli aset aktif. Aset aktif inilah yang akan memberikan penghasilan pasif saat masa pensiun nanti.
  5. Menjaga pengeluaran lifestyle.Penghasilan naik, gaya hidup naik? Tetap dijaga maksimal 20% saja ya.

PENSIUN

Pensiun tidak selalu berarti berhenti bekerja loh. Bisa jadi ini kesempatan karir kedua. Tapi di usia ini kita tak lagi bekerja demi sesuap nasi. Kita bekerja karena kecintaan pada apa yang kita kerjakan. Kebiasaan keuangan di tahap ini antara lain:

  1. Terima uang pensiun. Di usia pensiun saatnya kita menerima uang pensiun. Uang pensiun bisa berasal dari beberapa sumber antara lain, dana pensiun dari kantor, dana pensiun lembaga keuangan, BPJS Ketenagakerjaan, atau dana pensiun yang disiapkan sendiri.
  2. Bebas utang. Seharusnya di usia ini kita tak lagi mempunyai utang. Semua utang sudah dilunasi di fase mapan. Kita pun bisa menjalani masa pensiun tanpa beban.
  3. Memiliki rumah pensiun. Setelah berlelah-lelah bekerja di masa produktif, mungkin ada keinginan untuk menjalani masa pensiun di daerah yang lebih tenang, bebas dari keruwetan lalu lintas. Ini harus dipikirkan sejak awal.
  4. Punya aset yang menghasilkan. Di fase ini sebaiknya kita sudah mencapai fase kebebasan finansial, di mana penghasilan pasif sudah melebihi pengeluaran bulanan. Penghasilan pasif didapat dari kombinasi kepemilikan aset aktif.
  5. Menjalani lifestyle pensiun yang diinginkan. Lifestyle pensiun seperti apa yang ingin Anda jalani? Tinggal di kota kecil yang tenang, menghabiskan waktu dengan cucu tercinta, atau berlibur keliling dunia? Setiap pilihan membawa konsekuensi finansial. Pastikan dana pensiunmu cukup untuk membiayaai pilihan lifestyle ini ya!

Ada di fase manakah kamu sekarang? Di fase mana pun, miliki kebiasaan keuangan yang baik. Kita bisa kok jadi perempuan yang mandiri secara finansial!

– QM Admin –


2 tanggapan untuk “Inspirasi Kartini: Sebuah Perjuangan Kemandirian”

  1. Yana Asetta berkata:

    Kereen tee wina makin cinntaa deh. 😍😍😍

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Daftarkan email Anda untuk update terbaru dari QM!

Contact Us

Ingin mengundang QM untuk kegiatan di tempat Anda? Punya pertanyaan seputar literasi finansial? Tinggalkan pesan dan kami akan segera menghubungi Anda!

Our Location

Grand Wijaya Center Blok D No. 11
Jl. Wijaya II
Jakarta Selatan
Telp: (021) 293 294 08 / 09
Email: info@qmfinancial.com

Keep in Touch