Articles

Tak Lagi Butuh Work Life Balance, Hasil Penelitian Terbaru Terhadap Para Ibu Bekerja Generasi Millenial

Konon, work life balance menjadi salah satu hal yang paling diinginkan oleh para karyawan yang selalu bekerja keras selama hidupnya–tak terkecuali para ibu bekerja. Konon lagi, work life balance ini harus dicapai, agar tingkat stres para pekerja bisa ditekan.

Tapi mari kita lebih realistis: kapan sih kehidupan seorang ibu bekerja bisa benar-benar seimbang? Jawabannya, hampir tidak pernah. Bisa dibilang, semua tercampur aduk dalam kehidupan sehari-hari, dan harus dihadapi satu per satu. Setiap hari bisa saja muncul masalah baru, entah terkait pekerjaan atau soal keluarga, dan semua selalu minta untuk diselesaikan dengan cepat.

Hingga akhirnya makna dan pengertian work life balance bagi seorang ibu bekerja zaman now pun bergeser. Bahkan, ada survei yang dilakukan oleh situs The Mom Project yang menemukan, bahwa para ibu bekerja zaman now–yang berarti adalah mereka, para ibu generasi millenial–tak butuh lagi yang namanya work life balance.

 

Apa Arti Work Life Balance Bagi Para Ibu Bekerja Generasi Millenial?

Ibu bekerja generasi millenial percaya, the key to making complicated lives work is realizing that everything has to work together throughout the day. Saat semua hal bisa dikerjakan dan diselesaikan dengan baik, maka hal itu sudah cukup memberi mereka kepuasan.

Alih-alih menyebutnya sebagai work life balance, ibu generasi millenial akan menyebutnya sebagai work life integration.

Seperti hasil penelitian oleh The Mom Project yang telah meneliti lebih dari 1.000 ibu generasi millenial, yang menyebutkan bahwa:

“Work life balance is kind of an older term. Balance makes me think we work for eight hours, and then we adjust and we don’t work after that. We don’t work like that anymore. Sometimes it’s not about purely shutting it off from 5 p.m. on. I take time for family, but then I’ll get back to it at 8 p.m.”

Kecenderungan memang telah bergeser. “Bekerja” bukan lagi berarti kita berangkat ke kantor, lalu berkutat seharian di dalam dan di seputar kubikel membereskan tugas, dan bekerja dengan paperworks yang bertumpuk-tumpuk.

Bagi seorang ibu millenial, bekerja bisa berarti mereka berada di rumah, menghadap laptop di meja makan, sembari mengawasi si balita yang sedang asyik bermain di dekat kakinya, lalu sesekali juga bermain dengannya. Saat makan siang, mungkin bukan makan siang di kantin bersama rekan kerja, tapi artinya adalah menyuapkan makanan sehat yang dimasaknya sendiri pada si balita, sembari menikmati makan siang seadanya yang juga sudah disiapkan sendiri.

So, nggak heran kalau kata-kata, “Asal semuanya bisa berjalan lancar tanpa ada masalah berarti” sudah membuat seorang ibu bekerja generasi millenial bersyukur dan bisa enjoy dengan hari-hari sibuknya. Karena dengan demikian, mereka sudah menikmati work life balance versi mereka sendiri.

Lalu, apa artinya ini?

Work life balance bagi para ibu bekerja generasi millenial berarti adalah fleksibilitas dalam kehidupan kerja, baik fleksibilitas jam kerja maupun tempat. Karena itu, ibu generasi millenial cenderung memilih bekerja secara remote, freelance, ataupun paruh waktu, meski hal itu berarti ada pengurangan upah karyawan.

Selain itu, pengetahuan literasi keuangan dan tingkat kemandirian mereka juga lebih baik, sehingga mereka juga ingin berperan dalam pencapaian tujuan keuangan keluarga.

 

Lalu, Bagaimana Caranya Para Ibu Bekerja Generasi Millenial Bisa Mendapatkan Fleksibilitas ini?

Tak Lagi Butuh Work Life Balance, Hasil Penelitian Terbaru Terhadap Para Ibu Bekerja Generasi Millenial

1. Ask for it

Meski banyak perusahaan sekarang lebih terbuka untuk membicarakan hak dan kewajiban karyawan, namun banyak yang tak memanfaatkan hal ini dengan baik. Hingga kemudian para karyawan–baca: para ibu bekerja generasi millenial–ini mengalami burnout dan kemudian memilih resign.

Karena itu, sebelum memutuskan resign, ada baiknya untuk mendiskusikan kondisi ini terlebih dahulu dengan pihak HR. Apakah mungkin pekerjaan dan tugas yang sekarang dilakukan ini dibawa dan dikerjakan dari rumah? Harus melakukan penyesuaian di sana sini itu wajar saja, namun nggak berarti tak mungkin dilakukan, bukan?

Karena itu, ask for it.

 

2. Kenali apa kebutuhan kita

Apa sih yang membuat kita berpikir bahwa kita butuh jam kerja yang lebih fleksibel?

Misalnya saja, kondisi keluarga. Rincikan apa saja yang keluarga butuhkan dari kita; seperti zaman sekarang sulit menemukan pengasuh yang cocok, sehingga akan lebih baik jika langsung ditangani saja oleh ibu. Atau anak-anak yang mulai sekolah ternyata butuh pengawasan yang lebih–karena pendidikan zaman now juga menuntut peran orang tua yang lebih aktif. Atau mungkin, kondisi orang tua yang mulai sakit-sakitan. Dan sebagainya.

Proyeksikan kebutuhan ini menjadi rincian solusi. Sebagai contoh, karena anak-anak butuh waktu pengawasan lebih saat belajar, maka jam kerja harus disesuaikan. Misalnya, saat anak-anak sekolah, maka itulah waktunya kita menyelesaikan beberapa target pekerjaan sekaligus.

Memang kemampuan untuk mengenali kapan waktu yang tepat untuk menyelesaikan pekerjaan ini akan penting, jika kita bekerja dari rumah, dan hal ini ditentukan oleh keberhasilan kita mengamati jam-jam sibuk setiap harinya.

 

3. Kenali kebutuhan perusahaan

Ketahui target-target perusahaan dengan pasti. Hal ini akan menjadi penentu, bagaimana seorang ibu bekerja generasi millenial bisa mengelola waktu dan dirinya sendiri.

Bekerjalah dengan berorientasi pada target dan kualitas hasil. Dengan begini, kita bisa mengatur dan mengefisienkan waktu secara lebih baik dengan prinsip work smart, alih-alih work hard.

Buktikan bahwa dengan cara kerja yang baru ini, produktivitas kita tidak menurun tapi malah meningkat dengan memberikan kualitas hasil yang lebih baik, dan capaian target seperti yang diharapkan.

 

Konsep work life balance memang sudah bergeser. Zaman sekarang, tak ada yang lebih produktif dan inovatif selain tim yang dibiarkan untuk bekerja sesuai caranya masing-masing demi mencapai target kerja yang sudah ditentukan bersama.

Maka dari itu, ketimbang harus selalu minta izin karena mesti menghadiri acara-acara di sekolah anak-anak, akan lebih baik jika para ibu bekerja dibiarkan mengelola waktunya sendiri. Mereka akan bisa menentukan dengan baik, kapan mereka harus mengurus keluarga, dan kapan mereka harus menyerahkan hasil kerja terbaiknya.

TOPICS


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Daftarkan email Anda untuk update terbaru dari QM!

Contact Us

Ingin mengundang QM untuk kegiatan di tempat Anda? Punya pertanyaan seputar literasi finansial? Tinggalkan pesan dan kami akan segera menghubungi Anda!

Our Location

Grand Wijaya Center Blok D No. 11
Jl. Wijaya II
Jakarta Selatan
Telp: (021) 293 294 08 / 09
Email: info@qmfinancial.com

Keep in Touch