Articles

Merencanakan Pensiun Dini dan Menikmati Hidup? Bisa, Tapi Persiapkan Dulu 5 Hal Ini

Betapa menyenangkan, membayangkan diri sendiri menikmati hidup, tanpa beban pekerjaan atau hal-hal lain yang terlalu memusingkan. Kalaupun hanya di rumah, ya kita bisa seharian penuh membaca buku, atau berkebun, atau mungkin membuat karya-karya lain tanpa intensi untuk mendapatkan upah atas hasil kerja. Itulah barangkali kondisi pensiun dini yang kita bayangkan. Mungkin nggak sih? Mungkin saja, asal kita merencanakan pensiun dini dengan tepat.

Segala sesuatu yang kita pengin itu sebenarnya hampir selalu bisa kita capai kok. Dengan perencanaan yang matang, usaha yang maksimal, dan sedikit semestakung–alias semesta yang mendukung–impian untuk bisa pensiun dini ini juga bisa kita wujudkan.

Lalu, apa yang perlu dipersiapkan dalam merencanakan pensiun dini? Setidaknya ada 5 hal nih. Mari kita lihat satu per satu.

 

5 Hal yang Harus Dipersiapkan Jika Merencanakan Pensiun Dini

 

Merencanakan Pensiun Dini dan Menikmati Hidup? Bisa, Tapi Persiapkan Dulu 5 Hal Ini

1. Miliki rencana keuangan sejak dini

Persiapan ini akan lebih baik jika kita merencanakan pensiun dini bahkan sejak masih first jobber, saat kita baru saja terjun ke dunia kerja.

Coba bikin coret-coretan di kertas, dan perkirakan. Berapa kira-kira usia yang tepat untuk bisa pensiun dini? Usia normal untuk pensiun adalah 55 tahun (menurut undang-undang, dan kemungkinan akan bertambah dalam beberapa waktu ke depan). Usia yang layak untuk pensiun dini? Mungkin 40 tahun, atau 45 tahun. Atau boleh juga kalau mau ambil 50 tahun. Itu juga sudah termasuk pensiun dini.

Lalu, berapa kebutuhan kita untuk bisa pensiun sejahtera? Kalau sudah pernah ikutan kelas Dana Pensiun dari QM Financial, pasti sudah dapat deh angkanya.

Dengan demikian, kita sudah mendapatkan angka-angka yang menjadi tujuan keuangan tersebut. Dengan berdasarkan angka-angka tersebut, rencanakan beberapa step perencanaan untuk mewujudkannya.

 

2. Bereskan utang

Jika ingin merencanakan pensiun dini, yang pertama kali harus dipastikan terlebih dahulu adalah kita harus bebas utang.

Ayo, segera periksa, sampai di usia berapa utang-utang yang sekarang ada itu terlunaskan? Ada utang apa saja? Apakah mungkin ada cara lain agar bisa melunasi utang-utang lebih cepat?

Mulailah dengan melakukan financial checkup, dan kemudian baru merencanakan pensiun dini.

 

3. Rencanakan aktivitas setelah pensiun

Meski  merencanakan pensiun dini dengan tujuan agar dapat menikmati hidup, tapi “kenikmatan” itu mungkin saja hanya sebentar bisa dirasakan.

Setelahnya, yah karena terbiasa sibuk dengan pekerjaan dan rutinitas ini itu yang terkait dengan pekerjaan, “doing nothing” lama-lama akhirnya akan sangat membosankan. Setidaknya, kita mesti punya beberapa kegiatan menyenangkan yang bisa menyibukkan dalam keseharian.

Mau menekuni hobi yang kemudian menjadi bisnis? Bisa saja. Meski pada akhirnya kita mendapatkan upah atau penghasilan dari hobi, namun intensinya akan berbeda dengan saat kita harus bekerja bagai quda sebelumnya. Membisniskan hobi akan terasa lebih menyenangkan, karena pada akhirnya yang menjadi target adalah kualitas dan kepuasan hati.

Jadi, merencanakan pensiun dini? Rencanakan dulu mau ngapain aja selama masa pensiun nanti.

 

4. Punyai proteksi

Salah satu hal yang bisa bikin rencana keuangan bocor adalah ketika kita tertimpa musibah atau sakit. Ini terutama akan terasa berat ketika kita tak lagi ada pemasukan, seperti di masa pensiun nanti.

Karena itu, segera rencanakan untuk memiliki beberapa proteksi dasar yang penting. Ligwina Hananto, lead trainer QM Financial menyebutkan, bahwa seorang karyawan setidaknya harus punya 3 macam proteksi yang penting, yaitu proteksi kesehatan, proteksi jiwa, dan proteksi aset.

Nah, lengkapilah ketiga jenis proteksi di atas, sebagai jaminan bagi diri sendiri.

 

5. Pertimbangkan alternatif lain

Oke, mungkin merencanakan pensiun dini di usia 40, 45, dan 50 tahun terasa berat banget, dengan adanya beberapa bekal yang harus dipersiapkan seperti di atas. Kita masih bisa kok merencanakan hal lain, yang “kenikmatan”-nya mungkin (hampir) sama dengan pensiun dini.

Menekuni hobi jadi bisnis–seperti yang sudah diulas di atas–bisa jadi salah satu alternatif. Atau mungkin bekerja part time? Atau malah freelance? Sama-sama mengerjakan sesuatu untuk mendapatkan upah, tetapi waktu kerja bisa diatur sesuai kondisi. Pun soal passion, bisa menjadi salah satu hal yang bisa dikejar juga.

Tapi, karena masih ada intensi untuk mendapatkan upah, maka pekerjaan part time, freelance, atau apa pun itu harus tetap dikerjakan secara profesional. Nggak mungkin juga kita kerjakan hanya berdasarkan mood saja, seperti kalau kita kerjakan benar-benar di masa pensiun.

Jadi, coba pertimbangkan dengan saksama.

 

Bagaimana? Sudah benar-benar merencanakan pensiun dini, setelah membaca artikel ini? Well, ini pilihan.

Proses merencanakan pensiun dini Anda akan lebih baik lagi dengan bekal berupa edukasi literasi keuangan yang tepat. Anda bisa mengundang tim QM Financial untuk memberikan edukasi mengenai literasi keuangan di perusahaan Anda dengan WA ke 0811 1500 688 (NITA/MIA). Jangan lupa follow juga Instagram QM Financial untuk info-info kelas finansial online terbaru yang sesuai kebutuhan.

TOPICS


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Daftarkan email Anda untuk update terbaru dari QM!

Contact Us

Ingin mengundang QM untuk kegiatan di tempat Anda? Punya pertanyaan seputar literasi finansial? Tinggalkan pesan dan kami akan segera menghubungi Anda!

Our Location

Grand Wijaya Center Blok D No. 11
Jl. Wijaya II
Jakarta Selatan
Telp: (021) 293 294 08 / 09
Email: info@qmfinancial.com

Keep in Touch