Korporasi, Kompensasi dan Benefit

Gaji Naik, Lifestyle Nggak Harus Naik Juga – Coba Pertimbangkan 5 Hal Ini!

Hei, selamat ya, gaji naik! Ciyeee … makan-makan nih, karena negosiasi gaji berhasil! Atau mungkin, mendapatkan promosi ya? Eits! Sebentar, jangan buru-buru langsung undang semua teman untuk ditraktir makan atau ngopi untuk merayakan gaji naik. Tahan dulu, pikir dulu.

Ya, begitulah yang terjadi pada dunia kerja kita ya. Gaji naik means lebih royal dalam mengeluarkan uang. Standar hidup pun naik. Yang tadinya puas pakai netbook dengan spek paling minim, jadi beli Macbook Air. Yang tadinya bawa bekal dari rumah, sekarang mampir aja ke drive-thru atau pesan makanan online. Yang tadinya cukup ngopi sachet, sekarang ngopi mesti ke warung kopi dan minum kopi manual brew.

Salah emang? Enggak sih, nggak salah. Hanya saja, alangkah baiknya kalau dipertimbangkan lagi. Perlukah lifestyle juga naik standarnya kalau gaji naik?

Ada seorang pengusaha yang bertanya pada seseorang yang merupakan karyawan sebuah perusahaan, “Kalau gaji kamu Rp1.000.000, kamu bisa nabung Rp100.000. Lalu kalau gaji kamu naik jadi Rp2.000.000, berapa kamu bisa nabung?”

Saat dijawab, “Rp200.000.”, serta merta sang pengusaha menyergah, “Salah! Kalau kamu bisa nabung Rp100.000 saat gajimu Rp1.000.000, maka saat gajimu Rp2.000.000, kamu seharusnya bisa nabung Rp1.100.000. Gaji naik, boleh. Lifestyle, jangan.”

Hmmm …. Jadi mikir, iya nggak sih?

Jadi, apa yang harus kita lakukan saat gaji naik? Setop niat nraktir teman-teman, setop niat untuk segera ganti gawai atau beli laptop keluaran terbaru. Coba pertimbangkan 5 hal berikut dulu.

 

5 Hal tentang Gaji Naik tapi Lifestyle Tak Ikut Naik

 

Gaji Naik, Lifestyle Nggak Harus Naik Juga - Coba Pertimbangkan 5 Hal Ini!

1. Catat pengeluaran

Ini tip klise di setiap strategi pengelolaan uang untuk siapa pun, di mana pun, kapan pun. Tapi ya memang dari sinilah kita bisa memulai. Termasuk saat harus mengelola keuangan kalau gaji naik, supaya lifestyle nggak ikut naik.

Catat pengeluaran kita dalam satu bulan. Buat catatan ini berdasarkan pengeluaran saat sebelum gaji naik. Lalu, jadikan pengeluaran ini sebagai acuan atau patokan untuk membuat anggaran bulan berikutnya. Lalu, kalau sudah membuat anggaran, ya kita harus disiplin. Sekali dua kali cheating karena terpaksa dan darurat, ya apa boleh buat. Tapi usahakan supaya enggak keterusan.

 

2. Atur ulang alokasi

Nah, biasanya sih memang beberapa pos pengeluaran jadi bertambah karena jatahnya ditambah. So, coba deh pertimbangkan dan atur ulang alokasi gaji kita.

Mungkin tadinya memang ada keperluan yang tidak tercukupi, dan setelah gaji naik, kita jadi bisa memenuhi. Kalau seperti ini, ya sah-sah saja alokasi gaji untuk kebutuhan jadi naik. Yang penting, sesuaikan dengan persentase pos pengeluaran rutin seperti yang disarankan.

 

3. Tahan godaan

Saat jumlah saldo di rekening gaji kita naik atau membesar, sudah pasti godaan akan mengikuti kemudian. Kalau sudah begini, banyak-banyak istigfar. Maksudnya, kita harus tahan godaan.

Sekali lagi tanyakan pada diri sendiri, “Sekadar pengin atau benar-benar butuh? Kalau beli, kira-kira manfaatnya apa dan maksimal enggak? Kalau enggak beli, bakalan terhambat enggak kesehariannya?”

Tahan dulu, jangan langsung belanja apalagi sampai impulsif. Saat pengin beli ini itu, tahan dulu barang 2 – 3 hari. Semoga sih, dua atau tiga hari lagi, keinginan untuk belanja barang tersebut sudah berkurang. Tapi berganti dengan barang lain #hloh?

 

4. Pilah pengaruh

Perilaku konsumtif kadang timbul karena pengaruh lingkungan lo! Bener nggak? Kalau kita berada di lingkungan yang anteng-anteng saja, pasti kita juga akan anteng walau gaji naik. Tapi, ketika kita melihat orang-orang di sekitar kita yang sering memamerkan gawai terbaru mereka, liburan mereka yang tiada henti, maka pasti godaan untuk seperti mereka makin kenceng.

Hal yang seperti ini sebenarnya wajar. Memang pada dasarnya manusia, suka banget membandingkan diri dengan orang lain, yes? Karena itu, cobalah untuk tetap tenang. Kalau perlu, kurangi berada di sekitar orang-orang yang punya potensi untuk membuat keuangan kita jadi kacau.

Tetap berteman sih enggak masalah, tapi jangan sampai terseret gaya hidupnya.

 

5. Tambahkan di investasi

Hal terakhir yang harus kita lakukan kalau gaji naik adalah alokasikan pada investasi yang sudah berjalan. Topup reksa dananya, transfer ke rekening dana darurat, beli saham baru, tambah deposito, ataupun melakukan opsi-opsi yang lain.

Dengan demikian, gaji kita yang sekarang besar itu akan termanfaatkan dengan baik dan justru bisa menjadi jaminan bagi masa depan kita.

 

Nah, supaya makin mantap, coba usulkan pada HRD perusahaan tempat kita bekerja untuk mengadakan training keuangan, agar para karyawannya semakin bijak mengelola uang. Apalagi kalau gaji naik, supaya tidak ada yang terjebak dengan perilaku gaji naik, lifestyle naik.

Sila WA ke 0811 1500 688 (NITA), untuk mengatur jadwal yang paling baik. Atau, bisa juga ikut kelas finansial online yang sesuai dengan kebutuhan dalam Financial Clinic Online Series. Silakan cek jadwalnya ya. Jangan lupa follow juga akunĀ Instagram QM Financial.


Satu tanggapan untuk “Gaji Naik, Lifestyle Nggak Harus Naik Juga – Coba Pertimbangkan 5 Hal Ini!”

  1. […] Nah, ini nih, the most important thing! Jadi bos baru berarti gaji dan tunjangan naik. Ini wajar, karena kita harus mengelola wewenang dan tanggung jawab yang lebih besar. Tapi bukan berarti lantas lifestyle kita juga naik. […]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Daftarkan email Anda untuk update terbaru dari QM!

Contact Us

Ingin mengundang QM untuk kegiatan di tempat Anda? Punya pertanyaan seputar literasi finansial? Tinggalkan pesan dan kami akan segera menghubungi Anda!

Our Location

Grand Wijaya Center Blok D No. 11
Jl. Wijaya II
Jakarta Selatan
Telp: (021) 293 294 08 / 09
Email: info@qmfinancial.com

Keep in Touch