Articles

Viral, Dana Kurban dari Uang Saku

Halo planners!

Bagaimana kabar anak-anak yang sudah beraktivitas kembali belajar di sekolah? Semoga selalu dalam keadaan sehat dan baik ya. Saya dan komite sekolah anak saya juga sudah mulai sibuk untuk mempersiapkan dana uang kurban Idul Adha. Dana kurban ini akan dikumpulkan dari uang saku anak anak oleh bendahara kelas anak dan kemudian disetorkan kepada panitia kurban di sekolah.

Hari Raya Idul Adha datang setiap tahun dan memiliki arti penting di dalam pengamalan agama bagi umat Muslim. Idul Adha mengingatkan umat Muslim atas keimanan, keikhlasan dan kesabaran Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS. Ketika itu, Nabi Ibrahim AS diperintahkan Allah SWT melalui mimpi untuk menyembelih anaknya yaitu Nabi Ismail AS. Walau berat, namun Nabi Ibrahim AS taat dan pada saat beliau hendak menyembelih Nabi Ismail AS, tiba tiba hadir seekor domba kibas sehingga Nabi Ibrahim AS menyembelih domba yang tersedia itu. Maka sejak saat itu, hari itu kita kenal sebagai Hari Raya Kurban atau Idul Adha.

Beberapa hari ini, berita mengenai 7 anak dari kota Bogor berhasil membeli sapi untuk kurban setelah menabung selama 10 bulan lamanya. Ketujuh anak tersebut adalah Abu Bakar (13) siswa kelas 3 SMP, Zhilal (11) siswa kelas 5 SD, Saugi (11) siswa kelas 6 SD, Fauzan (11) siswa kelas 6 SD, Sukatma (12) siswa kelas 1 SMP, Zalfa (12) siswa kelas 1 SMP dan Yudi (18) yang baru saja lulus SMA.

Tidak sampai di situ, ada juga siswa dari Sekolah Alam Bogor yang bernama Chalisya, siswa kelas 1 Granit menabung selama 1 tahun lamanya untuk membeli hewan kurban. Cerita ini menunjukkan kepada kita bahwa apabila menabung dengan tujuan maka kita dapat mencapai hal yang diinginkan.

Ketujuh anak yang viral membeli kurban dengan menggunakan uang saku sudah menerapkan konsep MBBM yaitu Menghasilkan Uang, Berbelanja, Berbagi dan Menabung.

Menghasilkan Uang

Proses pertama di dalam memperkenalkan literasi finansial adalah belajar menghasilkan uang. Pada anak, menghasilkan uang datang dalam berbagai bentuk, salah satunya dengan pemberian uang saku pada anak. Frekuensi uang saku untuk anak yang baru mengenal konsep uang diberikan secara harian. Apabila anak sudah semakin terbiasa untuk mengelola uang sakunya, dapat diberikan dengan frekuensi mingguan dan bulanan.

Berbelanja

Kalau melihat dari Abu Bakar dkk, proses kedua ini justru menjadi proses terakhir. Mereka sudah tahu bahwa pada akhir mereka mengumpulkan uang jajannya, mereka akan membeli kurban untuk Idul Adha. Anak perlu diajari proses membelanjakan uang agar mereka tahu bahwa uang merupakan alat tukar yang sah. Uang dapat digunakan untuk mendapatkan barang yang dibutuhkan dengan cara berbelanja. Pada proses berbelanja, anak akan belajar mengenai anggaran, bernegosiasi serta cara pembayaran atas barang yang mau dibeli. Yang lebih terpenting lagi, di konsep berbelanja ini, anak belajar membuat keputusan atas keuangannya yang pada saat dewasa nanti akan berdampak kepada kemampuannya untuk mengambil keputusan yang baik serta benar atas kehidupannya. Tentu saja anak harus menentukan berapa uang yang mau mereka bayarkan untuk membeli sebuah barang sesuai dengan fungsi yang mereka butuhkan. Mereka juga dapat melakukan negosiasi melalui tawar menawar secara langsung kepada penjual atau membandingkan harga produk yang sama atau sejenis di beberapa toko yang berbeda. Berbelanja juga mengajarkan anak cara apa yang akan mereka pilih untuk membayar hasil belanjanya, apakah menggunakan uang tunai atau kartu debit. Anak pun akan belajar produk keuangan yang tersedia di masyarakat.

Berbagi

Abu Bakar dkk sudah mengerti bahwa di dalam uang saku yang mereka dapatkan, ada hak orang lain yang harus mereka perhatikan. Pada konsep berbagi ini, anak belajar untuk mengasah empati dan memperhatikan lingkungan sekitarnya. Berbagi tidak akan membuat kita rugi, sebaliknya akan semakin memperkaya diri.

Menabung

Kita sudah tahu nasehat rajin menabung serta pepatah “Sedikit demi sedikit, lama lama menjadi bukit””, tapi anehnya seringkali juga kita tidak pernah berhasil untuk menabung. Sebenarnya, yang menyebabkan kita tidak pernah berhasil untuk menabung adalah karena kita menabung tanpa tujuan. Anak-anak ini sudah menentukan tujuan dari tabungan bersamanya yaitu Dana Kurban Idul Adha (Judul). Mereka juga sudah menentukan besaran nilai dari Dana Kurban sehingga mereka bias membeli seekor sapi (Nilai) serta jangka waktu kapan Dana Kurban Idul Adha sudah harus tersedia.
Menabung bukanlah proses yang sepele. Agar tabungan bisa berguna maka menabunglah dengan tujuan yang jelas yang memuat Judul + Nilai + Waktu.
Dalam menabung, anak juga diajar untuk menunggu waktu yang tepat saat tabungan sudah terkumpul dan dibelikan barang yang sesuai dengan kebutuhannya.

baca juga:  Tujuan Lo Apa

Mari belajar dari untuk mengajarkan konsep MBBM kepada anak-anak kita agar dapat bermanfaat bagi dirinya sendiri dan orang lain. Tapi kamu sebagai orang tua juga perlu mengingat bahwa kewajiban berkurban ada di tangan orang tua ya, jadi persiapkan setiap tahunnya dari penghasilan tahunan. Kalau anak sekolah saja bisa, kamu pasti lebih mampu!

Kamu ingin belajar juga bagaimana membuat rencana keuangan yang sederhana? Yuk ikuti saja kelas finansial online (FCOS) melalui aplikasi zoom. Informasi kelas dan pendaftaran bisa dilihat di event.qmfinancial.com

-Honey Josep-

*sumber gambar: suara.com

TOPICS


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Daftarkan email Anda untuk update terbaru dari QM!

Contact Us

Ingin mengundang QM untuk kegiatan di tempat Anda? Punya pertanyaan seputar literasi finansial? Tinggalkan pesan dan kami akan segera menghubungi Anda!

Our Location

Grand Wijaya Center Blok D No. 11
Jl. Wijaya II
Jakarta Selatan
Telp: (021) 293 294 08 / 09
Email: info@qmfinancial.com

Keep in Touch