Articles

Belajar dari Mama: Tentang Keuangan dan Kehidupan

“Ibu adalah sekolah pertama bagi anak-anaknya.”

Saya sering sekali membaca dan mendengar kutipan tersebut. Saya juga yakin, sebagian besar dari kita meyakini dan mengalami sendiri hal serupa.

Ibu saya, yang sehari-harinya saya panggil Mama, tidak banyak mengajari dengan kata-kata. Saya jarang mendengar, “Kamu harus begini..” atau “Kamu harus begitu..” Sebaliknya, Mama lebih banyak memberi teladan, dan saya seringkali belajar dari pengalaman, hasil didikan dan aturan beliau.

Mengelola Keuangan, Membedakan Antara Kebutuhan dan Keinginan

Sejak masuk SD, saya sudah menerima uang saku. Awalnya harian, lalu sejak kelas 4 SD menjadi mingguan. Kelas 1 SMP, saya mulai menerima uang saku setiap bulan. Dalam penentuan besar uang saku pun, Mama mendiskusikan jumlahnya dengan saya dan adik. Ongkos ke sekolah, jajan dan makan siang di sekolah dan tempat kursus, membeli keperluan pribadi, hingga jatah menonton bioskop pun ikut diperhitungkan.

Sejak itu, saya belajar bertanggung jawab. Jumlah yang diberikan tidak berlebihan, tapi jelas mencukupi. Sisa uang saku tentunya ditabung.

Di masa itu, rekening tabungan saya di bank masih atas nama Mama. Karena sisa uang saku tiap bulan tidaklah seberapa, maka uangnya dititipkan di Mama dulu. Barulah beberapa bulan sekali, biasanya setelah Lebaran, musim penerimaan rapor, atau hari ulang tahun (artinya akan ada angpau, hadiah juara kelas, atau kado, horeee!), uangnya ditabung ke bank.

Sebaliknya, kalau sampai saya kehabisan uang sebelum bulan berganti, Mama takkan mau memberi tambahan. Jalan keluarnya, saya bisa meminjam uang yang dititipkan ke Mama. Seumur-umur, ini cuma terjadi sekali, ketika saya kehilangan uang cukup banyak karena dompet saya jatuh entah di mana.

Selain mengelola keuangan, saya pun belajar membedakan antara kebutuhan dan keinginan.

Saya tergila-gila membaca, dan kalau mengikuti keinginan, niscaya saya bisa membeli sekian banyak majalah setiap bulannya. Tapi karena keterbatasan dana (dan sayang uangnya), saya hanya berlangganan satu majalah mingguan dan menghabiskan waktu di perpustakaan. Sesekali saya bertukar bacaan dengan teman-teman. Saya tak pernah mengalami kehebohan berbelanja kaset atau CD (sementara sahabat saya bisa membeli selusin kaset dan CD sekaligus!). Sebagai gantinya, saya adalah penggemar radio, yang lagu-lagunya terus-menerus hits top 40, hehe..

Miliki Tujuan, Perluas Wawasan

Satu hal yang saya sadari ketika beranjak dewasa, keinginan saya nyaris tak pernah dipenuhi secara instan. Enam bulan pertama les piano, saya berlatih di tempat kursus dan di rumah teman baik Mama. Ketika mulai belajar bermain tenis, raket dan sepatu kets saya adalah lungsuran Mama. Saya pernah setengah memaksa dibelikan kumpulan cerita Enid Blyton dalam bahasa Inggris yang harganya hampir senilai uang saku bulanan saya, dan tentu saja, tidak dipenuhi.

Istilah sekarangnya, delayed gratification. Belajar bersabar. Berorientasi proses, bukan hasil. Tak semua yang diinginkan harus diperoleh saat ini juga.

Sebelum membeli piano (yang harganya jelas tidak murah), orangtua saya ingin memastikan bahwa saya memang tertarik untuk menguasai alat musik tersebut. Setahun setelah rutin berlatih tenis, barulah Papa membawa pulang sepasang sepatu baru, oleh-oleh dari perjalanan dinas ke luar negeri. Tak sekali pun saya dibelikan buku berbahasa Inggris di Jakarta (karena harganya mahal luar biasa), tapi saya punya puluhan buku oleh-oleh dari mancanegara.

Ada beberapa keinginan yang membuat saya harus menyisihkan uang saku dengan berbagai cara. Membawa bekal, libur nonton bioskop beberapa bulan, dan seterusnya. Menanti-nanti datangnya Lebaran, penerimaan rapor dan ulang tahun. Oh iya, sejak kelas 2 SMP, saya juga sudah menerima upah mengetik komputer dan menerjemahkan dokumen dari kantor Papa. Berhemat dan mencari tambahan uangnya semangat, karena sudah tahu tujuannya. Ketika akhirnya uangnya cukup, waahh, senang luar biasa! Saya juga percaya, bahwa kita akan lebih menghargai apa-apa yang diperoleh dengan usaha.

Lalu ketika saya mulai memperoleh penghasilan sendiri, tujuan keuangan pertama saya (dan ternyata menjadi tujuan setiap tahun, hehe..): Dana Liburan! Tak hanya menyisihkan gaji, saya pun menabung hari cuti, agar bisa mengambil cuti panjang di waktu yang direncanakan.

Ada satu kebiasaan (dan hasil didikan orangtua) sejak kecil yang terbawa hingga sekarang. Saya hobi membaca. Suka ingin tahu. Kombinasi antara kegemaran mencari informasi dan kemampuan dasar mengelola keuangan yang dilatih Mama, membuat mata saya terbuka.

Saya tahu manfaat kartu kredit (point rewards untuk terbang gratis tuh super penting, hehe..), asalkan tagihan dibayar penuh setiap bulannya. Artinya, uangnya harus ada untuk membayar tagihan.

Bahwa investasi tidak sama dengan menabung, high risk high gain, maka kenali produk investasi dan risikonya. Tak hanya mencari informasi, saya pun mencoba-coba. Nggak semuanya sukses, sih.. tapi tingkat risikonya kan sudah diukur, sehingga bisa saya terima. Anggap saja ongkos belajar, hehe...

Bahwa kalau saya ditanggung kantor ketika sakit dengan limit yang layak, nggak perlu sibuk-sibuk punya asuransi kesehatan tambahan yang memperbolehkan double claim. Alhamdulillah, saya sehat sehingga nggak pernah sampai perlu klaim. Bahwa selama tidak memiliki tanggungan, saya tak memerlukan asuransi jiwa (apalagi yang digabung dengan produk investasi).

Walaupun rasanya saya sudah tahu cukup banyak, ternyata masih lebih banyak lagi yang tidak saya ketahui. Belajar memang tak pernah boleh berhenti.

Sore tadi, Mama masuk ke kamar saya, mengobrol tentang perkembangan sebuah berita kecelakaan minggu lalu. Ternyata, saya nggak update, dan terus terang saya jadi malu sendiri. Dengan koneksi internet 24 jam, nyaris tak ada alasan bagi saya untuk kalah update’ dari Mama, yang sumber informasi utamanya adalah koran, tabloid dan TV, dan di usianya yang ke-63 tahun, baru mulai belajar mengetik pesan WhatsApp dari smartphone­-nya beberapa bulan terakhir.

 

I guess that’s the most important thing she teaches me all along.
Nobody knows everything and most probably, nobody will.
But really, nothing stops you from learning.

 

selamat-hari-ibu

Selamat Hari Ibu 2015!

 

Emiralda Noviarti / QM Planner

 


 

Untuk mengetahui lebih banyak tentang perencanaan keuangan dan konsultasi lebih lanjut, silakan email ke: info@qmfinancial.com atau hubungi kami melalui halaman Kontak.


 

SHARE THIS ARTICLE

Diskusi yuk!

Be the First to Comment!

Notify of
avatar

wpDiscuz

Daftarkan email Anda untuk update terbaru dari QM!

Contact Us

Ingin mengundang QM untuk kegiatan di tempat Anda? Punya pertanyaan seputar literasi finansial? Tinggalkan pesan dan kami akan segera menghubungi Anda!

Our Offices

Grand Wijaya Center Blok D No. 11
Jl. Wijaya II
Jakarta Selatan
Telp: (021) 293 294 08 / 09
Email: info@qmfinancial.com

Gedung Spazio Lt 6 Unit S632
Kompleks Graha Festival
Jl Mayjen Yono Soewoyo Kav 3
Surabaya 60226, Indonesia
Telp: (031) 99001241
Email: surabaya@qmfinancial.com

Keep in Touch