C.E.O Blog
Wina's hints, tips and views about everything financial.

Kenapa Tidak Pada Unitlink (Bagian 3-Habis)  Print 
Category: Practical Tips
Wednesday, 24 August 2011

Ini adalah bagian terakhir dari tulisan saya mengenai kesulitan saya dan tim QM Financial merekomendasikan produk Unitlink. Pada 2 edisi sebelumnya, saya sudah menjelaskan bahwa Unitlink adalah sebuah produk hibrid yang dijual oleh perusahaan asuransi. Produk ini berupa sebuah paket Asuransi Jiwa yang digabungkan dengan produk asuransi tambahan lain beserta Unit Investasi. Saya juga sudah menjelaskan bagaimana ilustrasi dalam proposal sebuah produk Unitlink menunjukkan hasil investasi yang tidak maksimal karena tingginya cost of insurance yang dipotong dari unit investasi.

Pertanyaan paling sering yang saya terima soal Unitlink adalah :

“Apa yang harus saya lakukan jika sudah terlanjur memiliki produk Unitlink?”

Jawabannya adalah :

“Ayo perhatikan kembali Tujuan Finansial keluarga Anda.”

Tujuan Finansial harus dibuat spesifik. Ada judulnya, ada nilai di masa depan dan berapa jangka waktu yang dibutuhkan untuk mencapai Tujuan tersebut.

Misalnya Tujuan Finansial Anda adalah Dana Pendidikan. Anda perlu mengetahui asumsi nilai Uang Pangkal Perguruan Tinggi saat ini dan  menghitung berapa nilainya di masa depan saat anak Anda masuk ke jenjang tersebut. Produk apapun yang Anda pilih seharusnya dalam proyeksi sudah bisa menunjukkan kemungkinan pencapaian Tujuan. Jika produk tersebut – baru dalam proyeksi saja – sudah tidak mencapai Tujuan, artinya produk ini bisa membawa Anda nyasar di jalan.

Jika produk Unitlink tidak dapat memberikan proyeksi yang sesuai dengan Tujuan Finansial Anda, maka waktunya untuk keluar dan mencari produk lain. Yang harus diperhatikan adalah, ada fungsi Asuransi dan fungsi Investasi dalam produk Unitlink. Jadi jika ingin menutup Unitlink, Anda HARUS mencari produk pengganti dengan fungsi yang sama. Asuransi dan Investasi dapat dilakukan terpisah jika Anda mau berpikir dan melakukan riset sendiri.

Berikut ini adalah beberapa contoh kasus di mana produk Unitlink tidak dapat ditutup atau bahkan dapat terus digunakan. Perhatikan bahwa ada kondisi-kondisi khusus yang menyertai penggunaan produk Unitlink.

Contoh 1 : Haryono (48 tahun) – Karyawan Bank

Bapak Haryono ingin menutup 4 polis asuransi Unitilink yang ia miliki. Ternyata keempatnya dibuat dengan nama tertanggung yang berbeda-beda, atas nama diri sendiri, istri (ibu rumah tangga berusia 30 tahun) dan 2 anak (6 tahun dan 3 tahun). Pak Haryono sudah memiliki Asuransi Kesehatan dan Asuransi Penyakit Kritis dengan manfaat yang sesuai kebutuhan. Ia pun sudah berinvestasi di Reksadana untuk Dana Pendidikan dan Dana Pensiun.

Untuk kasus Pak Haryono, ia bisa saja menutup 3 polis asuransi Unitlink atas nama ibu dan anak-anak karena kebutuhan proteksi dan investasi sudah terpenuhi. Tetapi saya keberatan jika Pak Haryono menutup Unitlink atas namanya sendiri. Saat ini Pak Haryono sudah berusia 48 tahun, jika ingin membeli Asuransi Jiwa murni dengan Uang Pertanggungan yang besar (di atas 1 Milyar) maka Pak Haryono harus melewati proses medical check up dan belum tentu hasilnya baik. Karena itu sebelum memiliki Asuransi Jiwa pengganti, Pak Haryono tidak bisa menutup dulu polis asuransi Unitlinknya.

Contoh 2 : Kemala (35 tahun) – Pemilik Butik

Ibu Kemala sudah bekerja keras selama 10 tahun terakhir tanpa nafkah dari suaminya. Kemala ingin membuat Dana Pendidikan untuk kedua anaknya (usia 10 tahun & 8 tahun). Standar rekomendasi adalah untuk Ibu Kemala berinvestasi secara reguler menggunakan produk Reksadana dengan cara investasi bulanan. Produk ini dapat diproyeksikan untuk mencapai Tujuan Dana Pendidikan masing-masing anak hingga ke jenjang yang diinginkan (SD, SMP, SMA, Perguruan Tinggi). Tidak ketinggalan adalah rekomendasi proteksi jiwa. Asuransi Jiwa murni Term Life 10 tahun dapat digunakan untuk perlindungan, jika terjadi sesuatu pada Ibu Kemala dalam kurun waktu 10 tahun ke depan, Uang Pertanggungan dapat digunakan untuk menjadi Aset Aktif yang menghasilkan dana bulanan untuk biaya hidup dan investasi bulanan anak-anak.

Namun, Ibu Kemala kuatir jika terjadi sesuatu pada dirinya hingga cacat tetap total dan tidak bisa berkarya lagi, suaminya tidak akan melanjutkan investasi bulanan untuk mencapai Tujuan Dana Pendidikan.

Alternatif yang dapat dipilih adalah sebagai berikut. Pilihan pertama, Ibu Kemala bisa membeli juga Asuransi Kecelakaan dan Asuransi Penyakit Kritis. Jika terjadi kecelakaan atau penyakit kritis yang menyebabkan cacat tetap total, ada Uang Pertanggungan yang dapat digunakan keluarganya.

Pilihan kedua adalah menggunakan Unitlink. Waiver of premium dalam produk ini dapat melanjutkan pembayaran premi jika kondisi Ibu Kemala cacat tetap total. Walaupun dengan ongkos yang cenderung lebih besar. Perlu diperhatikan agar porsi investasi harus lebih besar dari porsi asuransi pada saat menentukan premi bulanan.

Contoh 3 : Julius (55 tahun) – Pengusaha

Bapak Julius memiliki aset kas yang cukup besar dalam bentuk Rupiah dan mata uang asing. Pak Julius tidak membutuhkan perlindungan jiwa karena ketiga anaknya semua sudah lulus dari perguruan tinggi dan sudah bekerja. Tanggungan Pak Julius adalah istrinya yang seorang ibu rumah tangga. Usaha yang dimiliki Pak Julius juga ketiga anaknya dapat membiayai hidup istri jika sampai terjadi sesuatu pada Pak Julius.

Pada prinsipnya Pak Julius tidak lagi membutuhkan proteksi jiwa. Aset yang ada sudah cukup besar untuk Dana Pensiun dan ia pun sudah memiliki Rencana Waris. Namun Pak Julius menginginkan diversifikasi produk. Dana dalam mata uang asing yang ia miliki tidak berkembang jika hanya disimpan di Tabungan atau Deposito.

Saat ini Pak Julius memiliki Asuransi Unitlink Khusus. Asuransi Unitlink ini menggunakan Asuransi Kecelakaan sebagai dasar produk asuransi. Sehinga biaya asuransi yang dikenakan pada porsi unit investasi sangat rendah. Sementara unit investasi sendiri berupa setoran sekaligus – bukan setoran bulanan (top up). Unit investasi ini pun ditempatkan pada sebuah produk di luar negeri menggunakan mata uang asing dengan penempatan minimum dalam jumlah besar (biasanya di atas Rp 500 juta)

Khusus untuk Pak Julius, tidak ada alasan untuk menutup produk Unitlink. Pilihan lain jika ingin berinvestasi pada produk sejenis adalah dengan pergi ke luar negeri dan membuka rekening pada perusahana manajer investasi asing di luar negeri. Pak Julius tidak tertarik karena ingin bisa mengurus semua dananya dari Indonesia.

Apakah Anda seorang Haryono, Kemala atau Julius? Atau Anda memiliki contoh kasus lain? Setiap contoh kasus akan memberikan hasil keputusan yang berbeda.

Sekarang giliran Anda. Apakah Anda sudah mengerti tentang isi dari produk Unitlink? Apakah Anda menerima kenyataan potongan cost of insurance yang sangat besar pada unit investasi dalam produk Unitlink? Apakah Anda memang tidak punya pilihan lain? Atau mungkin memang Anda punya alasan personal yang bukan finansial untuk membeli produk Unitlink ini?

Bicaralah pada agen asuransi Anda dan tanyakan seperti apa alternatif produk Asuransi Kesehatan, Asuransi Jiwa, Asuransi Kecelakaan dan Asuransi Penyakit Kritis yang dapat Anda gunakan. Anda juga dapat bicara pada perencana keuangan independen agar membandingkan ilustrasi dari satu produk dengan produk lainnnya.

Terakhir, soal edukasi. Merencanakan keuangan adalah upaya menyiapkan sebuah sistem agar kita dapat mencapai Tujuan Finansial dengan efisien. Ini bukan soal siapa yang paling jagoan menjual sebuah produk keuangan. Karena itu conflict of interest dapat terjadi saat fungsi merencanakan keuangan tergabung dengan fungsi menjual produk.

Ini uang Anda! Ini hidup Anda! Anda sendiri yang menentukan produk mana yang cocok untuk memperbaiki Rencana Keuangan Anda. You are responsible for your own finances!

Finance Should be Practical!

                                              

Tulisan ini pernah dimuat di Tabloid Kontan edisi 25 – 31 Juli 2011

Anda dapat melakukan Konsultasi / Jam dengan QM Planner untuk mendiskusikan kondisi keuangan keluarga Anda – mulai dari pemeriksaan kesehatan keuangan, periksa polis asuransi hingga diskusi Rencana Waris. Silakan hubungi :

Tim Sales ~ Mario & Yani

021-57948040 / This e-mail address is being protected from spam bots, you need JavaScript enabled to view it / @QM_Sales

                                                                                                           

~ * * * ~

 
Kenapa Tidak Pada Unitlink (Bagian 2)  Print 
Category: Practical Tips
Wednesday, 17 August 2011

Pada edisi yang lalu saya sudah menjelaskan bahwa Unitlink adalah sebuah produk hibrid yang dijual oleh perusahaan asuransi. Produk ini berupa sebuah paket Asuransi Jiwa yang digabungkan dengan produk asuransi tambahan lain beserta Unit Investasi.

Sekarang mari kita beda seperti apa perhitungan yang terjadi saat Anda menerima penawaran produk Unitlink. Contoh berikut adalah sebuah contoh penawaran produk yang diterima oleh teman saya, sebut saja bernama Irwan (40 tahun).

Irwan ditawari produk Unitlink dengan basis Asuransi Jiwa Wholelife dan memiliki unsur unit investasi. Setiap bulan Irwan perlu membayar premi Rp 2 juta per bulan. Uang Pertanggungan Jiwa dalam polis Asuransi Jiwa, Kecelakaan dan Penyakit Kritis ini adalah masing-masing Rp 400 juta. Alokasi unit investasi pun ditempatkan pada produk berbasis saham / equity sehingga menggunakan asumsi pertumbuhan 17% per tahun.

 
Klik gambar untuk perbesar

Dari tabel di atas, terlihat bahwa premi yang Irwan setorkan terbagi menjadi biaya asuransi dan alokasi unit investasi. Di tahun-tahun awal, biaya asuransi ini komposisinya jauh lebih besar. Dalam masa pembayaran 10 tahun, total premi disetorkan adalah Rp 240.000.000 dengan pembagian porsi asuransi Rp 39.000.000 dan porsi investasi Rp 200.100.000

Sekilas contoh proposal ini baik-baik saja. Porsi investasi sebesar Rp 200.100.000 diproyeksikan akan tumbuh di unit investasi berbasis saham dengan target hasil investasi 17% per tahun menjadi Rp 283.000.000. Asumsi pertumbuhan 17% per tahun ini bukan sebuah nilai pasti, melainkan sebuah asumsi pertumbuhan produk berbasis saham saat kondisi pasar saham sedang bullish.


Klik gambar untuk perbesar

Sekarang perhatikan Tabel selanjutnya, yaitu Perhitungan Investasi Berdasarkan Contoh Proposal Unitlink. Pada tahun pertama, setoran porsi investasi Rp 5.700.000 diproyeksikan tumbuh 17% per tahun menjadi Rp 6.690.000. Di tahun kedua, ada tambahan setoran porsi investasi Rp 12.900.000 yang bersama-sama dengan hasil tahun sebelumnya Rp 6.690.000 diproyeksikan tumbuh 17% per tahun menjadi Rp 14.472.000.

Padahal jika Anda tambahkan saja porsi investasi tahun pertama Rp 5.700.000 dengan porsi investasi tahun kedua Rp 12.900.000 dan tumbuh 0% per tahun, hasilnya adalah Rp 18.600.000. Lalu bagaimana mungkin proyeksi pertumbuhan 17% per tahun hasilnya hanya Rp 14.472.000?

Ternyata kekurangan ini berlanjut terus hingga tahun keenam. Saat sudah menyetorkan porsi investasi selama 6 tahun sebesar akumulasi Rp 105.236.000, proyeksi pertumbuhan 17% per tahun hasilnya adalah Rp 105.236.000 juga. Ternyata setoran porsi investasi ini tidak tumbuh seperti proyeksi 17% per tahun melainkan seperti terlihat dalam kolom D. Terjadi pertumbuhan negatif di tahun kedua, ketiga, keempat dan kelima walaupun asumsi pertumbuhan produk berbasis saham sebesar 17% per tahun.

Untuk mencapai proyeksi pertumbuhan 17% per tahun seperti kolom B, ternyata nilai aktual yang dibutuhkan sebagai setoran bukan seperti pada kolom A, melainkan seperti pada kolom E. Setiap kali Irwan menyetorkan premi yang sudah dialokasikan untuk asuransi dan investasi, terjadi selisih atau potongan lagi pada bagian porsi investasi. Jumlah potongan ini bisa jadi sebesar nilai pada kolom F.

Apa sebetulnya yang akan terjadi jika porsi investasi Irwan sesuai kolom A memang tidak dipotong dan disetorkan seluruhnya untuk investasi? Ternyata seharusnya proyeksi tersebut bukan seperti pada kolom B melainkan seperti pada kolom G.

Jika Irwan menyetorkan total Rp 200.100.000 dalam kurun waktu 10 tahun, dan diproyeksikan tumbuh sebesar 17 % per tahun, seharusnya total dana yang dapat diperoleh adalah sebesar Rp 465.534.641. Jumlah ini berbeda jauh sekali dibandingkan proyeksi dalam contoh proposal Unitlink yaitu Rp 283.637.000.

Setelah  melihat angka perhitungan seperti ini – yang tentu saja baru berupa contoh proposal dan belum merupakan hasil sebenarnya – Irwan memiliki informasi lengkap untuk memilih produk yang ia ingin gunakan.

Sekarang Anda perlu juga berpikir...

 ·         Apakah Anda memiliki produk dengan skema seperti di atas?

·     Apakah Anda mengetahui penjelasan perhitungan produk dengan skema seperti di atas?

·       Apakah Anda sudah nyaman dengan manfaat yang Anda terima dari produk dengan skema seperti di atas?

Tentu saja tidak semua skema Unitlink berbentuk seperti contoh di atas. Tetapi saya banyak bertemu dengan kasus nasabah bingung memiliki produk dengan skema seperti di atas. Kebanyakan membeli saja karena iming-iming ‘balik modal setelah 6 tahun’, ‘tabungan investasi’ atau ‘tidak perlu kuatir soal risiko investasi’. Padahal kenyataannya mereka mendapat kepastian kerugian yang cukup besar, bahkan saat contoh proposal menggunakan asumsi pasar saham dalam keadaan bullish.

Ini semua terjadi karena financial literacy yang rendah. Sudah seharusnya kita tahu dan mengerti apa produk yang kita beli dan bagaimana manfaat produk tersebut dalam Rencana Keuangan Komprehensif.

Contoh perhitungan di atas menunjukkan betapa mahalnya ongkos yang harus dibayarkan oleh seseorang saat mengikuti program Unitlink. Sementara kita perlu melakukan efisiensi biaya agar ada porsi yang lebih banyak bisa disetorkan untuk mencapai Tujuan Finansial yang jumlahnya tentu tidak sedikit. Ini menyebabkan saya dan tim QMPlanner kesulitan memberikan rekomendasi pada produk dengan skema seperti ini. Setiap Rencana Keuangan yang kami buat pasti memuat rekomendasi produk yang beriisi proteksi dan investasi. Kami pun perlu melakukan efisiensi dana klien agar dapat membeli Asuransi dan Reksadana pada porsi dan pertumbuhan yang sesuai dengan kebutuhan mereka.

Lalu apakah semua produk Unitlink tidak dapat digunakan? Dan apa yang perlu Anda lakukan jika Anda sudah terlanjur memiliki produk yang ternyata tidak sesuai dengan kebutuhan Anda? Ikuti edisi berikut, saya akan menjelaskan beberapa contoh kasus khusus penggunaan produk Unitlink. [bersambung]

 

Finance Should be Practical!

Tulisan ini pernah dimuat di Tabloid Kontan edisi 18 – 24Juli 2011

Anda dapat melakukan Konsultasi / Jam dengan QM Planner untuk mendiskusikan kondisi keuangan keluarga Anda – mulai dari pemeriksaan kesehatan keuangan, periksa polis asuransi hingga diskusi Rencana Waris. Silakan hubungi :

Tim Sales ~ Mario & Yani

021-57948040 / This e-mail address is being protected from spam bots, you need JavaScript enabled to view it / @QM_Sales

 
Kenapa Tidak Pada Unitlink (Bagian 1)  Print 
Category: Practical Tips
Wednesday, 10 August 2011

Unitlink adalah sebuah produk hibrid yang dijual oleh perusahaan asuransi. Biasanya jenis paling populer adalah Unitlink dengan produk dasar berupa Asuransi Jiwa Whole Life untuk pembayaran premi 10 tahun dengan coverage hingga umur 99 tahun. Kemudian, produk ini akan ditempeli produk-produk tambahan seperti Asuransi Kesehatan, Asuransi Kecelakaan, Asuransi Penyakit Kritis dan Unit Investasi.

Pertanyaannya adalah, yang mana dari sekian banyak produk yang saling menempel tersebut yang memang betul-betul Anda butuhkan? Jika memang membutuhkan semuanya, apakah produk-produk sudah dalam manfaat yang maksimal? Apakah produk-produk tersebut dapat Anda peroleh terpisah dengan manfaat lebih besar dan biaya lebih rendah?

Simak kisah teman saya, sebut saja bernama Reni. Reni adalah perempuan muda berumur 26 tahun, bekerja freelance untuk sebuah biro periklanan. Reni masih tinggal bersama orang tuanya di sebuah daerah elit di Jakarta Selatan. Singkat cerita, Reni dan keluarganya dalam kondisi keuangan yang tidak kekurangan.

Reni datang pada saya membawa sebuah polis asuransi Unitlink. Asuransi ini terdiri dari Asuransi Jiwa, Asuransi Kesehatan dan Unit Investasi. Reni merasa bingung karena ia sudah menyetorkan uang cukup besar untuk ukuran seorang pekerja freelance dalam 12 bulan terakhir. Tetapi saat membuka laporan kinerja yang dikirimkan perusahaan asuransi, Reni tidak melihat saldo yang seharusnya lebih besar dari premi yang telah disetor.

Ada beberapa problem dari pilihan Reni ini. Mari kita bahas satu per satu. 



1) Proteksi Jiwa

Asuransi Jiwa dalam Unitlink biasanya berupa Asuransi Jiwa Whole Life. Tentu ini penting untuk Anda yang memiliki tanggungan. Jika terjadi meninggal dan Anda belum memiliki Aset cukup besar untuk menggantikan penghasilan Anda, maka keluarga akan menghadapi masalah keuangan yang serius.

Khusus untuk kasus Reni, ia belum memiliki tanggungan. Reni malah masih tinggal dengan orang tuanya dan menjadi tanggungan. Dalam polis asuransinya, tertera bahwa Uang Pertanggungan (nilai uang yang diberikan oleh perusahaan Asuransi jika Reni meninggal dunia) adalah sebesar Rp 20 juta.

Tadinya Reni berpikir, “Lumayan kalau saya meninggal, Ibu bisa menerima Rp 20 juta.” Tetapi sebetulnya Ibunda Reni tidak membutuhkan dana tersebut. Artinya saat ini Reni belum membutuhkan proteksi jiwa.



2) Proteksi Kesehatan

Semua orang tanpa kecuali membutuhkan fasilitas kesehatan. Reni bekerja freelance, artinya perusahaan tempatnya bekerja tidak memberikan fasilitas kesehatan apa pun. Maka, Reni sangat membutuhkan fasilitas kesehatan sendiri dalam bentuk Asuransi Kesehatan.

Polis asuransi Unitlink yang Reni miliki memuat Asuransi Kesehatan sebagai salah satu produknya. Hanya saja Reni lengah tidak memperhatikan manfaat Asuransi Kesehatan yang telah ia beli. Ternyata manfaat dalam Asuransi Kesehatan ini adalah rawat inap untuk kamar kelas Rp 125.000 per malam. Padahal jika sampai sakit, Reni akan memilih Rumah Sakit terdekat dengan kamar kelas Rp 1.500.000 per malam.

Tentu saja Asuransi Kesehatan dalam polis asuransi Unitlink Reni ini tidak memadai untuk kebutuhan proteksi kesehatan Reni.



3) Unit Investasi

Berikutnya adalah unit investasi. Premi yang Reni setorkan di tahun pertama terbagi menjadi biaya asuransi dan unit investasi. Sebetulnya Reni dapat memilih jenis dari unit investasi ini, bisa di pasar uang atau pasar modal (pendapatan tetap, campuran atau saham). Sebetulnya di usia sangat muda dan tanpa tanggungan, Reni dapat mengambil risiko tinggi untuk investasi Dana Pensiun. Sehingga jika memang ingin berinvestasi untuk periode yang panjang di atas 15 tahun, Reni dapat mempertimbangkan jenis saham untuk unit investasinya.



Kenyataannya Reni tidak mengerti produk yang ia beli. Unit investasi yang ia pilih dalam asuransi Unitlink ini adalah pasar uang (money market). Sehingga porsi dari premi yang Reni setorkan memiliki pertumbuhan yang sangat rendah. Saat bertemu saya, hasil unit investasi pasar uang ini adalah 2% per tahun. Padahal seharusnya untuk unit investasi pasar uang di tahun tersebut paling dapat menghasilkan 5%-7% per tahun.

Artinya Reni membutuhkan hasil investasi yang lebih tinggi dan tentu saja pemahaman risiko yang lebih tinggi juga.

Kesimpulannya, produk Asuransi Unitlink ini tidak cocok untuk seorang Reni. Jika ditutup tentu rugi, namun jika diteruskan tidak memberi manfaat maksimal untuk Reni. Jika ingin menutup produk ini, Reni perlu segera membeli dulu Asuransi Kesehatan agar memiliki proteksi kesehatan sebagai pengganti. Sebetulnya ada lho Asuransi Kesehatan yang tersedia untuk individual dan dijual terpisah dari Asuransi Jiwa. Biasanya ini disediakan oleh perusahaan General Insurance dengan premi yang rendah dan manfaat yang sesuai kebutuhan kita.

Selain itu, Reni juga harus segera berinvestasi. Ia memiliki ekspektasi yang tinggi terhadap premi yang telah ia setorkan. Seharusnya Reni tahu bahwa premi yang disetorkan selama ini memang memiliki komponen biaya asuransi. Jika ingin menutup asuransi Unitlink dan memiliki nilai dari jumlah uang premi yang mampu ia setor, maka Reni harus berinvestasi secara terpisah. Ini dapat dilakukan melalui produk Reksadana. Risiko investasi yang dihadapi unit investasi dalam UnitLink adalah sama saja dengan risiko unit investasi dalam Reksadana. Keduanya akan masuk dalam Pasar Uang atau Pasar Modal Indonesia. Hanya saja unit investasi dalam Reksadana tidak dikenakan lagi biaya asuransi seperti dalam Unitlink sehingga pertumbuhan unit bisa lebih efisien.

Pembaca Kontan tentu memiliki usia dan latar belakang yang berbeda dengan Reni. Setiap orang akan memiliki kebutuhan masing-masing. Sudahkah Anda memeriksa polis asuransi Unitlink yang Anda miliki? Pastikan Anda memang memiliki produk yang sesuai dengan kebutuhan. Jangan sampai Anda hanya rajin saja membayar premi tanpa tahu manfaat apa yang harusnya Anda dapatkan dari produk yang Anda miliki.

Pada edisi berikut saya akan membahas lebih lanjut tentang Asuransi Unitlink ini lengkap dengan perhitungan yang lebih detil. Juga penjelasan bagaimana Anda sebagai konsumen dapat meminta alternatif produk asuransi seperti asuransi tradisional dan bagaimana Anda sebagai agen asuransi dapat menjelaskan pilihan asuransi tradisional [Bersambung]





Finance Should be Practical!



Tulisan ini pernah dimuat di Tabloid Kontan edisi 11 – 17 Juli 2011

Anda dapat melakukan Konsultasi / Jam dengan QM Planner untuk mendiskusikan kondisi keuangan keluarga Anda – mulai dari pemeriksaan kesehatan keuangan, periksa polis asuransi hingga diskusi Rencana Waris. Silakan hubungi :

Tim Sales ~ Mario & Yani

021-57948040 /  This e-mail address is being protected from spam bots, you need JavaScript enabled to view it  / @QM_Sales





 
Ngomongin Warisan yang Katanya Tabu Itu  Print 
Category: Practical Tips
Tuesday, 02 August 2011

Tabu ya ngomongin Waris?

Kayak nyumpahin orang mati? Gitu?

Padahal sebetulnya, waris itu urusan panjang yang terjadi setelah seseorang meninggal dunia. Yang ribet adalah = mereka yang masih hidup! Jadi yang namanya Rencana Waris justru dibuat saat kita masih waras dan masih bernapas!

Ada yang pikir, ngomongin waris itu sama ortu atau kakek nenek, karena usia mereka sudah sepuh. Heits, padahal sebetulnya ini urusan buat kita juga yang umurnya mungkin lewat 35 tahun aja belum.

Ada 3 hal yang harus kita perhatikan :

1)      Daftar Harta / Utang

Punya apa aja?

Rumah, mobil, rekening di bank, reksadana, saham, obligasi, bisnis?

Nilainya berapa?

Jangan lupa, utangnya apa aja, sama siapa, ada asuransi kreditnya gak?

Repotnya, ada lho orang yang boro-boro tahu rekeningnya di mana aja, gaji pasangan berapa aja gak tauk! Terus kalau ada apa-apa, siapa yang mau ngurus harta / utang ini?

 2)      Akses dan Status Kepemilikan

Punya tabungan saldonya Rp 10 juta. Tapi atas nama siapa? Banknya di mana? Orang di bank sana kenal gak sama sanak saudara kita? Pikirin orang yang akan ngurusin tabungan ini. Informasinya harus jelas supaya gak ngerepotin orang lain.

Soal status kepemilikan ini juga bisa jadi ribet. Ada UU Perkawinan tahun 1974 yagn menyatakan harta / utang yang dihasilkan saat menikah adalah miliki BERSAMA! Kecuali ada perjanjian pra nikah / pisah harta.

Nah, punya kita statusnya gimana? Jangan sampai, terjadi apa-apa sama suami – semua atas nama dia – terus si istri kebingungan sendiri yang mana punya dia, yang mana harta waris.

Prinsipnya, perjelas status kepemilikan harta dan utang kita!

 3)      Hukum yang Digunakan

Ada 3 hukum waris di negeri ini :

·      Hukum BW – hukum negara yang sudah ada & berlaku sejak jaman Belanda, juga disebut ‘hukum barat’

·       Hukum Waris Islam – khusus untuk yang beragama Islam, dibuat berdasarkan aturan dalam Al-Qur’an.

·      Hukum Adat – berlaku di daerah tertentu, biasanya untuk pembagian waris barang tertentu. Misalnya Rumah Gadang di Sumatera Barat atau Keris di Jawa Tengah.

Contoh kasus ya!

Ibu Anisa menikah dengan Bapak Jo. Dari pernikahan sebelumnya Bapak Jo sudah memiliki 2 orang anak laki-laki dewasa. Ibu Anisa dan Bapak Jo memiliki 1 orang anak laki-laki berusia 10 tahun. Rencana waris seperti apa yang harus dipersiapkan Ibu Anisa?

Persiapannya seperti ini:

1)      Daftar Harta / Utang

Ibu Anisa perlu membuat daftar harta dan utang yang ia miliki. Mulai dari rumah, mobil, rekening di bank, reksadana, bisnis hingga saham perusahaan publik. Ibu Anisa juga perlu membuat daftar utang yang ia miliki, misalnya KPR terhadap rumah yang ia tempati.

2)      Akses & Status Kepemilikan

Ibu Anisa perlu menjelaskan kepada Bapak Jo soal daftar harta dan utang ini. Lalu mereka juga harus diskusi mana yang miliki bersama, mana yang milik pribadi. Gak fair dong kalau Ibu Anisa cerita lengkap daftar harta / utang tapi Bapak Jo gak cerita?

Kalau keduanya gak punya perjanjian pra nikah, artinya secara hukum sih semua milik bersama. Tapi bisa aja mereka bikin surat pernyataan mana yang milik Bapak Jo dan mana yang milik Ibu Anisa. Walaupun gak berkekuatan hukum, tapi paling gak surat pernyataan ini bisa kasih penjelasan sama keluarga yang harus mengurusi pembagian waris. Ini penting terutama karena mereka punya anak yang baru umur 10 tahun dan ada 2 anak Bapak Jo dari pernikahan sebelumnya.

3)      Hukum yang Digunakan

Ibu Anisa dan Bapak Jo beragama Islam. Maka mereka akan menggunakan Hukum Waris Islam. Ahli waris utama mereka adalah : ortu, pasangan + anak kandung. Jadi untuk Ibu Anisa, kedua anak Pak Jo dari pernikahan sebelumnya tidak menjadi ahli warisnya. Maka penting sekali agar mana saja harta Ibu Anisa dipisahkan dari harta Pak Jo. Biar anak-anak juga gak bingung kan?

Sampai sini aja? Masih ada lagi sih. Ada urusan Asuransi Jiwa.

Ibu Anisa punya Asuransi Jiwa Term Life dengan Uang Pertanggungan Rp 2 Milyar selama 15 tahun ke depan. Niatnya Ibu Anisa mau selama anak mereka yang baru berusia 10 tahun itu sekolah, ada perlindungan dengan nilai yang bagus. Jadi kalau sampai urusan waris dari harta yang ada sekarang perlu waktu, paling gak Uang Pertanggungan dari Asuransi Jiwa ini bisa dipakai dulu oleh anaknya untuk biaya hidup dan uang sekolah. Jangan lupa kalau Ibu Anisa & Bapak Jo perlu  menunjuk orang ketiga sebagai Wali dari anak mereka. Kalau terjadi meninggal pada keduanya secara bersama-sama, Wali ini yang akan mengurusi semua keperluan anak mereka.

Emang gak gampang sih buka pintu diskusi tentang waris ini dengan pasangan. Tapi kalau nanti salah satu meninggal, pintu diskusi itu sudah terkunci rapat! Gue sendiri baru berani nanya-nanya pendapat suami soal status kepemilikan dan bagi waris tahun lalu sebelum berangkat Haji. Momennya pas gitu J hehehe...

Jadi... tunggu apa lagi! Jangan pake daster/kaos busuk, dandan yang cakep, siapkan makan malam dan mulai dengan...

                “Sayang... udah baca artikel ini belum?”

Good luck J

Cheers,

Ligwina Hananto

Anda dapat melakukan Konsultasi / Jam dengan QM Planner untuk mendiskusikan kondisi keuangan keluarga Anda – mulai dari pemeriksaan kesehatan keuangan, periksa polis asuransi hingga diskusi Rencana Waris. Silakan hubungi :

Tim Sales ~ Mario & Yani

021-57948040 / This e-mail address is being protected from spam bots, you need JavaScript enabled to view it / @QM_Sales

 
1st Indonesia Financial Planning Expo 2011  Print 
Category: Practical Tips
Friday, 18 March 2011
1st Indonesia Financial Planning Expo 2011
Ingin konsultasi dengan perencana keuangan independen tp khawatir biayanya?

Ingin tahu tentang bagaimana menggunakan jasa perencana keuangan?
Ingin menambah pengetahuan tentang cara mengelola pendapatan yg baik dan bijak?
Ingin memeriksakan kondisi kesehatan keuangan anda?
Sudahkah anda membuat Perencanaan Keuangan untuk masa depan yang lebih nyaman ?
Independent Financial Planners Club mengadakan
” The 1st Indonesian Financial Planning Expo 2011” yang akan diselenggarakan pada tanggal 26 Maret 2011

Semua perencana firma keuangan independen akan hadir, seperti :
Aidil Akbar (Akbar’s Financial Check Up), Ligwina Hananto (QM Financial), Safir Senduk/Ahmad Gozali (Biro Perencanaan Keuangan Safir Senduk & Rekan), Mike Rini ( Mike Rini & Associates – Financial Counselling), Eko Endarto ( Finansia Consulting), M. Andoko/ Budi Raharjo (OneConsulting), Rizsa Bambang ( Shildt Consulting), Sri Kurniatun ( Sri Kurniatun & Rekan), Freddy Pieloor (MoneynLove Financial Planning), Prita Hapsari Ghozie (Zapfin), Tejasari (Tata Dana Consulting)

Mereka semua akan mengisi acara tersebut melalui :
a. Talkshow

b. FREE FINANCIAL CLINIC

Selama 1 hari penuh (08.30 – 16.30) dengan dana investasi yang hanya sebesar :
Early Bird :
Sampai dengan 25 Maret 2011, sebesar Rp.150.000,-

Hari “H” sebesar Rp.200.000,-

Tempat :
Plaza Bapindo – Assembly Hall

Lantai 9, Hall A & B

Jl. Jend Sudirman

Jakarta

No Rekening : 524 019 1573

A.n Endang Setiawan

BCA Cab Wolter Mongonsidi

Bukti Transfer dapat di fax ke 021 725 0640

atau email :

magda.wijaya@
akbarfinancialcheckup.comPerlu kami sampaikan bahwa setiap peserta akan memperoleh :
1. Buku – buku perencana keuangan

2. Software kalkulator keuangan

3. Free Financial Clinic

4. Menjadi member milis yang akan dikelola oleh IFPC

5. Hadiah lain dari sponsor (akan dikonfirmasi kemudian)

Untuk pendaftaran bisa menghubungi :
Magda Wijaya

Telp : 021-7250851

Mari Menata dan Merencanakan Masa Depan Demi Kesejahteraan dan Kebahagiaan, BE THERE!
IFPC ” GREAT PLAN BETTER FUTURE
 
Pemenang Eksperimen #30Hari  Print 
Category: Practical Tips
Monday, 21 February 2011

Ini dia pengumuman Pemenang Eksperimen #30Hari!

 

Setelah berkutat depan komputer dengan banjir bandang email yang masuk (THX YA! YOU GUYS ARE AWESOME!) akhirnya gue pilih-pilih juga orang-orang yang beruntung. Pilih-pilih pemenangnya random ya gak ada KKN :p gak ada surat menyurat! Ada lebih dari 500 email yang masuk dengan formulir #30Hari. Gue bangga sekali karena ada sebanyak itu dari kalian yang bersedia diterpa nestapa (du’ile drama hahaha) dan mencatat Pengeluaran masing-masing selama #30Hari! Jangan kuatir, semua file akan disimpan dengan sistim penomoran sehingga semua file anonim.

 

Berikut para pemenang Eksperimen #30Hari :

Pemenang Hadiah Buku “Untuk Indonesia Yang Kuat – 100 Langkah Untuk Tidak Miskin”

1.                                                                           Dinny

2.                                                                           Ando

3.                                                                           Erni

4.                                                                           Yustina

5.                                                                           Sartika

 

Pemenang Hadiah Voucher dari MarketPlus Magazine

1.                                                                           Alya

2.                                                                           Dstia

3.                                                                           Beriozka

 

Pemenang Hadiah Paket MAMA Ice Cream / Cookies

1.                                                                           Ana

2.                                                                           Tia

3.                                                                           Tiara

4.                                                                           Engkhoy

5.                                                                           Din

 

Pemenang Hadiah Voucher Bebek Cak Topa

1.                                                                           Triagung

2.                                                                           Listiya

3.                                                                           Febrie

 

Pemenang Hadiah Konsultasi 1 jam dengan QM Planner ==> salah satu dari 5 Pemenang Konsultasi ini akan dipilih untuk jadi 1 Pemenang Utama ==> Kontrak Plan dengan QM Financial

1.                                                                           Adhi

2.                                                                           Kartina

3.                                                                           Rininta

4.                                                                           Rohasian

5.                                                                           Alusnaria

 

Kalian yang beruntung seharusnya sekarang sudah menerima email dan bisa membalas email itu ke gue & Risma (Miss Sekretaris yang juara) untuk mengurus pengiriman hadiahnya dan atur pertemuan Pemenang Konsultasi dengan QM Planner. Beberapa bahkan sudah menerima hadiahnya ya! Horeee....

 

Sekarang... tugas gue adalah melanjutkan kompilasi data Formulir #30Hari. This will take some time I tell you J tapi begitulah hebatnya social media. Partisipasi kalian akan turut menentukan riset besar tentang pola hidup kita sebagai Golongan Menengah. Mudah-mudahan dari hasil riset ini kita semua bisa belajar lebih banyak lagi!

 

Buat yang belum sempat ikutan, ayo coba sendiri formulir #30Hari nya! Emang gak enak sih. Gue juga gak suka nulisnya. Tapi ini perlu dilakukan 1 tahun 1x supaya kita betul-betul tahu, uang kita sebetulnya pergi ke mana aja. Kelebihan utama ikutan isi formulir ini adalah anggaran yang kita buat jadi lebih ‘real’. Angkanya gak bohong kan? Wink

 

Jadi, walaupun Eksperimen #30Hari sudah berakhir, silakan lho kalau masih mau coba-coba, download filenya klik di sini.

 

Yuk mari lanjutkan bekerja Smile

Ligwina                                   

 
FAQ Eksperimen #30Hari Catat Pengeluaran Bulanan  Print 
Category: Practical Tips
Wednesday, 05 January 2011

Jakarta, 5th January 2011

 

Read more...
 
Eksperimen #30Hari Catat Pengeluaran Bulanan (Formulir Dapat Diunduh Di Sini)  Print 
Category: Practical Tips
Wednesday, 05 January 2011

 Halo! Selamat datang 2011!

Ini blog entry gue yang pertama di tahun 2011!

Dan ayo langsung bikin gebrakan  Wink

Read more...
 
<< Start < Prev 1 2 3 4 Next > End >>


Results 1 - 17 of 66