|
Belajar Membuat Business Plan |
Print
|
| Category:
#BisnisKecilku
|
|
Friday, 11 November 2011 |
|
Berikut ringkasan tweets #bisniskecilku 5Nov11, tentang pentingnya punya Business Plan:
- Byk bgt yg tertarik u memulai sebuah bisnis. Dg berbagai alasan. Tp kadang kita semangat dagangnya, lupa bikin bisnisnya.
- Apalg kl motivasinya hanya uang saja, maka yg dipikirin adalah gw jual berapa, titik. Omzet omzet omzet. Lupain aja bisnisnya.
- Blm sempat sadar, bisnisnya gak berkembang, mungkin stock numpuk tp uang entah ke mana, dagang jalan, untung gak ya?
- Ini biasanya krn kita gak mikirin kl bisnis itu sebuah "entity" dg sistem yg bs menggerakkan spy menghasilkan profit.
- Bisnis gw kecil dibandingin bisnis lain. Tp kl inget awal mulai, berkembang dari thn ke thn, ketahuan belajar dari kesalahan2.
- Gw termsk org yg rejekinya mulai bisnis tanpa perlu ngotot nyari duit. Gw ibu rmh tg, ngasuh balita, ngerjain apa ya biar seru.
- Gw tau ada teman2 yg resepnya hrs "kepepet" biar bisnis jalan. Nah kebetulan gw gak. Suami gw support keuangan keluarga 100%.
- Jd wkt mulai @QM_Financial semua dimulai dg idealisme. Boro2 mikirin profit :p eh ini bikin yayasan atau bisnis yak? :)
- Jd kesalahan no1 = no business plan :) gak berarti bikin bisnis hrs ada business plan dulu. Tp ya belajar dong. Skrg jd punya.
- Menurut gw ya... Mulai bisnis itu resepnya 1: MULAI! Begitu udah mulai, mau gak mau mikir. Di sini Business Plan bisa dibentuk.
- BussPlan sederhana: what who how. Ini gw kembangin wkt jd dosen BusinessCommunication di IPMI+Binus. Project seru u mahasiswa.
- "What" Bisnisnya apa? Gw paling gemes kl ada yg nanya : apa bisnis yg oke? Ya kl tau udh gw bikin gak blg2 sama lo.
- Jd wkt m bikin bisnis prusahaan prencanaan keuangan independen »"what"ny dbahas.Cara bkn Plan itu ky apa si?
- Jd untuk tau "what" dr bisnis perencanaan keuangan, gw kursus di mana2, jg kuliah lg, gak malu2 u belajar lg
- "Who" Yg mau bayar kita siapa? Pembeli ya bukan peminat atau sekedar suka sm produk/jasa kita. Definisinya harus spesifik.
- Semua bisnis pasti punya "pembeli pertama". Kenalan! Cari tau mrk ky apa, knp mrk sampe bersedia bayar kita.
- Untuk @QM_Financial dulu ada 13 klien pertama : teman kuliah, sepupu + teman pengajian. "Who are these people?"
- Sampe ketauan "Who", 13 klien pertama ini punya persamaan : percaya+kenal bgt gw bisa ngapain + dengerin @hardrockfm
- Akhirnya bisa kembangin "How". Cara jualan lbh jelas, sdh tau "What" & "Who". Prosesnya 3thn lho hi3 Business Plan telat tapi ada!
- Kl gak bikin BussPlan sederhana WhatWhoHow itu... Mungkin gak pernah bisa identifikasi kebutuhan msk radio spt apa.
- Wkt mulai Financial Clinic thn 2006, kebykan financial radio show di Business Radios, gak di Lifestyle Radios
- Krn mau belajar bikin BussPlan, "kenalan" dg klien pertama, nyambung dg pendengar @hardrockfm » hasil 2006 lbh baik dari 2003-2005.
- Gw pegang prinsip sederhana aja. Thn berikut hrs lbh bagus. Thn ke thn selalu ada kesalahan, pelajaran, prestasi baru lagi.
- Dan gw yakin ada byk lg pelajaran dari org2 yg bisnisnya udh duluan, jauh lbh besar dari bisnis gw. Jd gw suka "nguping" :)
- "Pick on somebody's brain"»dr kenalan,dngerin ceritany,blajar dia ud ngapain aj. Seru deh.Cek pny tmn ky apa.
- Wktnya gak cukup u bikin semua kesalahan & belajar sebyk itu. Jd selain belajar dari kesalahan sendiri, denger cerita org.
- Bikin BusinessPlan di 2006 mulainya cuma WhatWhoHow. Itu blm ada itung2an finance nya yah. Gw baru bikin dg projection tahun... 2010 :)
- Ini @QM_Financial #bisniskecilku bukan bisnis raksasa. Gw menikmati setiap proses belajarnya. Dan perubahan + perbaikan yg harus dilakukan setiap tahun.
- Untuk #bisniskecilku. Gw percaya kelebihan utama kita: populasi yg besar. Jd bisnis yg lgsg link dg populasi harusnya bisa dikembangin.
- Contoh: makanan, energi, properti, sampe kebutuhan untuk "gaya" dari pakaian, sepatu, elektronik » direct link to population.
- Fakta: Org bikin resto itu byk bgt. Yg tutup jg byk kan? Jd bukan soal "bikin bisnis apa ya?" Ya lo maunya apa siapa bagaimana?
- Jd kl ada yg nanya "bikin bisnis yg begini prospeknya gmn?" Brisik ah, bikin ya bikin aja yuk. Gagal, bikin lg, lg dan lg.
Bonus Notes :
I pick on these people’s brains to learn more on how to manage my business :
Dondi Hananto - dia suami saya, mentor saya, yang kasih duit untuk jadi modal usaha juga. Dondi has the brain & heart to be a good coach. Dia secara rutin ganggu saya dengan pertanyaan seperti "Profit Q3 berapa? Sesuai target gak?". Kl dia tidak nanya gitu, mungkin saya keasyikan jualan doang. Rene Suhardono - proud to call him my bestfriend. Rene punya beberapa keahlian dan selalu "evolving". Saya rajin ajak dia makan cuma untuk dengerin dia ngoceh dengan project terbarunya. Jd saya akan tertantang supaya maju dengan project baru juga. Kami sahabat yang sangat kompetitif, sampe ke jumlah anak :p
Yoris – the creative junkie! Buat saya dia jenius. Dan memang kalau orang pinter beneran tuh ilmu padinya kelihatan. Setiap pertemuan dengan Yoris sukses bikin saya mikir lebih banyak, lebih kreatif. Yoris buat saya adalah contoh bagaimana sekolah itu ada di kehidupan sehari-hari. Juga diingetin kalau saya bukan Yoris jadi saya harus belajar 100x lebih keras.
Farhan - Dia memang berprofesi sbg presenter. Cita2 saya bahkan ingin siaran di HardrockFM gara-gara ngefans sama Farhan. Tp setelah lebih kenal, saya jadi belajar sisi entrepreneurship seorang Farhan. Dua hal dari Farhan : fokus sama core business gimana cara bisnis menghasilkan uang dan udah "sesenior" apapun harus mau belajar. Petty S. Fatimah - Mari tidak melupakan bahwa saya generasi yang dibesarkan Majalah Gadis pimpinan Mbak Pet. Begitu jadi perempuan dewasa ya bacanya Majalah Femina pimpinan Mbak Pet juga. Jadi dia tentu sebagai seorang inspirator. Pertama kali ketemu saya deg-degan banget :) dari Mbak Pet saya diingetin kalo posisi saya bukan sekadar finplanner, saya memimpin sebuah perusahaan dan dibutuhkan "kegilaan". We share that kind of madness ;) Iim Fahima - CEO Virtual Consulting. Umurnya lebih muda dari saya, bisnisnya lebih besar dari QM Financial. Tp Iim gak malu untuk "belajar" hal yang menurut dia saya lebih tau. Maka saya pun tidak malu belajar banyak dari dia. Satu hal yang penting dari obrolan dengan Iim » intuisi harus jalan. Feel more! Bahkan untuk berbagai keputusan strategis, jangan otak doang yang dipake, dengerin kata hati lo. |
|
|
|
Kenapa Tidak Pada Unitlink (Bagian 3-Habis) |
Print
|
| Category:
Practical Tips
|
|
Wednesday, 24 August 2011 |
|
Ini adalah bagian terakhir dari tulisan saya mengenai kesulitan saya dan tim QM Financial merekomendasikan produk Unitlink. Pada 2 edisi sebelumnya, saya sudah menjelaskan bahwa Unitlink adalah sebuah produk hibrid yang dijual oleh perusahaan asuransi. Produk ini berupa sebuah paket Asuransi Jiwa yang digabungkan dengan produk asuransi tambahan lain beserta Unit Investasi. Saya juga sudah menjelaskan bagaimana ilustrasi dalam proposal sebuah produk Unitlink menunjukkan hasil investasi yang tidak maksimal karena tingginya cost of insurance yang dipotong dari unit investasi. Pertanyaan paling sering yang saya terima soal Unitlink adalah : “Apa yang harus saya lakukan jika sudah terlanjur memiliki produk Unitlink?” Jawabannya adalah : “Ayo perhatikan kembali Tujuan Finansial keluarga Anda.” Tujuan Finansial harus dibuat spesifik. Ada judulnya, ada nilai di masa depan dan berapa jangka waktu yang dibutuhkan untuk mencapai Tujuan tersebut. Misalnya Tujuan Finansial Anda adalah Dana Pendidikan. Anda perlu mengetahui asumsi nilai Uang Pangkal Perguruan Tinggi saat ini dan menghitung berapa nilainya di masa depan saat anak Anda masuk ke jenjang tersebut. Produk apapun yang Anda pilih seharusnya dalam proyeksi sudah bisa menunjukkan kemungkinan pencapaian Tujuan. Jika produk tersebut – baru dalam proyeksi saja – sudah tidak mencapai Tujuan, artinya produk ini bisa membawa Anda nyasar di jalan. Jika produk Unitlink tidak dapat memberikan proyeksi yang sesuai dengan Tujuan Finansial Anda, maka waktunya untuk keluar dan mencari produk lain. Yang harus diperhatikan adalah, ada fungsi Asuransi dan fungsi Investasi dalam produk Unitlink. Jadi jika ingin menutup Unitlink, Anda HARUS mencari produk pengganti dengan fungsi yang sama. Asuransi dan Investasi dapat dilakukan terpisah jika Anda mau berpikir dan melakukan riset sendiri. Berikut ini adalah beberapa contoh kasus di mana produk Unitlink tidak dapat ditutup atau bahkan dapat terus digunakan. Perhatikan bahwa ada kondisi-kondisi khusus yang menyertai penggunaan produk Unitlink. Contoh 1 : Haryono (48 tahun) – Karyawan Bank Bapak Haryono ingin menutup 4 polis asuransi Unitilink yang ia miliki. Ternyata keempatnya dibuat dengan nama tertanggung yang berbeda-beda, atas nama diri sendiri, istri (ibu rumah tangga berusia 30 tahun) dan 2 anak (6 tahun dan 3 tahun). Pak Haryono sudah memiliki Asuransi Kesehatan dan Asuransi Penyakit Kritis dengan manfaat yang sesuai kebutuhan. Ia pun sudah berinvestasi di Reksadana untuk Dana Pendidikan dan Dana Pensiun. Untuk kasus Pak Haryono, ia bisa saja menutup 3 polis asuransi Unitlink atas nama ibu dan anak-anak karena kebutuhan proteksi dan investasi sudah terpenuhi. Tetapi saya keberatan jika Pak Haryono menutup Unitlink atas namanya sendiri. Saat ini Pak Haryono sudah berusia 48 tahun, jika ingin membeli Asuransi Jiwa murni dengan Uang Pertanggungan yang besar (di atas 1 Milyar) maka Pak Haryono harus melewati proses medical check up dan belum tentu hasilnya baik. Karena itu sebelum memiliki Asuransi Jiwa pengganti, Pak Haryono tidak bisa menutup dulu polis asuransi Unitlinknya. Contoh 2 : Kemala (35 tahun) – Pemilik Butik Ibu Kemala sudah bekerja keras selama 10 tahun terakhir tanpa nafkah dari suaminya. Kemala ingin membuat Dana Pendidikan untuk kedua anaknya (usia 10 tahun & 8 tahun). Standar rekomendasi adalah untuk Ibu Kemala berinvestasi secara reguler menggunakan produk Reksadana dengan cara investasi bulanan. Produk ini dapat diproyeksikan untuk mencapai Tujuan Dana Pendidikan masing-masing anak hingga ke jenjang yang diinginkan (SD, SMP, SMA, Perguruan Tinggi). Tidak ketinggalan adalah rekomendasi proteksi jiwa. Asuransi Jiwa murni Term Life 10 tahun dapat digunakan untuk perlindungan, jika terjadi sesuatu pada Ibu Kemala dalam kurun waktu 10 tahun ke depan, Uang Pertanggungan dapat digunakan untuk menjadi Aset Aktif yang menghasilkan dana bulanan untuk biaya hidup dan investasi bulanan anak-anak. Namun, Ibu Kemala kuatir jika terjadi sesuatu pada dirinya hingga cacat tetap total dan tidak bisa berkarya lagi, suaminya tidak akan melanjutkan investasi bulanan untuk mencapai Tujuan Dana Pendidikan. Alternatif yang dapat dipilih adalah sebagai berikut. Pilihan pertama, Ibu Kemala bisa membeli juga Asuransi Kecelakaan dan Asuransi Penyakit Kritis. Jika terjadi kecelakaan atau penyakit kritis yang menyebabkan cacat tetap total, ada Uang Pertanggungan yang dapat digunakan keluarganya. Pilihan kedua adalah menggunakan Unitlink. Waiver of premium dalam produk ini dapat melanjutkan pembayaran premi jika kondisi Ibu Kemala cacat tetap total. Walaupun dengan ongkos yang cenderung lebih besar. Perlu diperhatikan agar porsi investasi harus lebih besar dari porsi asuransi pada saat menentukan premi bulanan. Contoh 3 : Julius (55 tahun) – Pengusaha Bapak Julius memiliki aset kas yang cukup besar dalam bentuk Rupiah dan mata uang asing. Pak Julius tidak membutuhkan perlindungan jiwa karena ketiga anaknya semua sudah lulus dari perguruan tinggi dan sudah bekerja. Tanggungan Pak Julius adalah istrinya yang seorang ibu rumah tangga. Usaha yang dimiliki Pak Julius juga ketiga anaknya dapat membiayai hidup istri jika sampai terjadi sesuatu pada Pak Julius. Pada prinsipnya Pak Julius tidak lagi membutuhkan proteksi jiwa. Aset yang ada sudah cukup besar untuk Dana Pensiun dan ia pun sudah memiliki Rencana Waris. Namun Pak Julius menginginkan diversifikasi produk. Dana dalam mata uang asing yang ia miliki tidak berkembang jika hanya disimpan di Tabungan atau Deposito. Saat ini Pak Julius memiliki Asuransi Unitlink Khusus. Asuransi Unitlink ini menggunakan Asuransi Kecelakaan sebagai dasar produk asuransi. Sehinga biaya asuransi yang dikenakan pada porsi unit investasi sangat rendah. Sementara unit investasi sendiri berupa setoran sekaligus – bukan setoran bulanan (top up). Unit investasi ini pun ditempatkan pada sebuah produk di luar negeri menggunakan mata uang asing dengan penempatan minimum dalam jumlah besar (biasanya di atas Rp 500 juta) Khusus untuk Pak Julius, tidak ada alasan untuk menutup produk Unitlink. Pilihan lain jika ingin berinvestasi pada produk sejenis adalah dengan pergi ke luar negeri dan membuka rekening pada perusahana manajer investasi asing di luar negeri. Pak Julius tidak tertarik karena ingin bisa mengurus semua dananya dari Indonesia. Apakah Anda seorang Haryono, Kemala atau Julius? Atau Anda memiliki contoh kasus lain? Setiap contoh kasus akan memberikan hasil keputusan yang berbeda. Sekarang giliran Anda. Apakah Anda sudah mengerti tentang isi dari produk Unitlink? Apakah Anda menerima kenyataan potongan cost of insurance yang sangat besar pada unit investasi dalam produk Unitlink? Apakah Anda memang tidak punya pilihan lain? Atau mungkin memang Anda punya alasan personal yang bukan finansial untuk membeli produk Unitlink ini? Bicaralah pada agen asuransi Anda dan tanyakan seperti apa alternatif produk Asuransi Kesehatan, Asuransi Jiwa, Asuransi Kecelakaan dan Asuransi Penyakit Kritis yang dapat Anda gunakan. Anda juga dapat bicara pada perencana keuangan independen agar membandingkan ilustrasi dari satu produk dengan produk lainnnya. Terakhir, soal edukasi. Merencanakan keuangan adalah upaya menyiapkan sebuah sistem agar kita dapat mencapai Tujuan Finansial dengan efisien. Ini bukan soal siapa yang paling jagoan menjual sebuah produk keuangan. Karena itu conflict of interest dapat terjadi saat fungsi merencanakan keuangan tergabung dengan fungsi menjual produk. Ini uang Anda! Ini hidup Anda! Anda sendiri yang menentukan produk mana yang cocok untuk memperbaiki Rencana Keuangan Anda. You are responsible for your own finances! Finance Should be Practical! Tulisan ini pernah dimuat di Tabloid Kontan edisi 25 – 31 Juli 2011 Anda dapat melakukan Konsultasi / Jam dengan QM Planner untuk mendiskusikan kondisi keuangan keluarga Anda – mulai dari pemeriksaan kesehatan keuangan, periksa polis asuransi hingga diskusi Rencana Waris. Silakan hubungi : Tim Sales ~ Mario & Yani 021-57948040 /
This e-mail address is being protected from spam bots, you need JavaScript enabled to view it
/ @QM_Sales ~ * * * ~ |
|
|
Kenapa Tidak Pada Unitlink (Bagian 2) |
Print
|
| Category:
Practical Tips
|
|
Wednesday, 17 August 2011 |
|
Pada edisi yang lalu saya sudah menjelaskan bahwa Unitlink adalah sebuah produk hibrid yang dijual oleh perusahaan asuransi. Produk ini berupa sebuah paket Asuransi Jiwa yang digabungkan dengan produk asuransi tambahan lain beserta Unit Investasi. Sekarang mari kita beda seperti apa perhitungan yang terjadi saat Anda menerima penawaran produk Unitlink. Contoh berikut adalah sebuah contoh penawaran produk yang diterima oleh teman saya, sebut saja bernama Irwan (40 tahun). Irwan ditawari produk Unitlink dengan basis Asuransi Jiwa Wholelife dan memiliki unsur unit investasi. Setiap bulan Irwan perlu membayar premi Rp 2 juta per bulan. Uang Pertanggungan Jiwa dalam polis Asuransi Jiwa, Kecelakaan dan Penyakit Kritis ini adalah masing-masing Rp 400 juta. Alokasi unit investasi pun ditempatkan pada produk berbasis saham / equity sehingga menggunakan asumsi pertumbuhan 17% per tahun.  Klik gambar untuk perbesar Dari tabel di atas, terlihat bahwa premi yang Irwan setorkan terbagi menjadi biaya asuransi dan alokasi unit investasi. Di tahun-tahun awal, biaya asuransi ini komposisinya jauh lebih besar. Dalam masa pembayaran 10 tahun, total premi disetorkan adalah Rp 240.000.000 dengan pembagian porsi asuransi Rp 39.000.000 dan porsi investasi Rp 200.100.000 Sekilas contoh proposal ini baik-baik saja. Porsi investasi sebesar Rp 200.100.000 diproyeksikan akan tumbuh di unit investasi berbasis saham dengan target hasil investasi 17% per tahun menjadi Rp 283.000.000. Asumsi pertumbuhan 17% per tahun ini bukan sebuah nilai pasti, melainkan sebuah asumsi pertumbuhan produk berbasis saham saat kondisi pasar saham sedang bullish.  Klik gambar untuk perbesar Sekarang perhatikan Tabel selanjutnya, yaitu Perhitungan Investasi Berdasarkan Contoh Proposal Unitlink. Pada tahun pertama, setoran porsi investasi Rp 5.700.000 diproyeksikan tumbuh 17% per tahun menjadi Rp 6.690.000. Di tahun kedua, ada tambahan setoran porsi investasi Rp 12.900.000 yang bersama-sama dengan hasil tahun sebelumnya Rp 6.690.000 diproyeksikan tumbuh 17% per tahun menjadi Rp 14.472.000. Padahal jika Anda tambahkan saja porsi investasi tahun pertama Rp 5.700.000 dengan porsi investasi tahun kedua Rp 12.900.000 dan tumbuh 0% per tahun, hasilnya adalah Rp 18.600.000. Lalu bagaimana mungkin proyeksi pertumbuhan 17% per tahun hasilnya hanya Rp 14.472.000? Ternyata kekurangan ini berlanjut terus hingga tahun keenam. Saat sudah menyetorkan porsi investasi selama 6 tahun sebesar akumulasi Rp 105.236.000, proyeksi pertumbuhan 17% per tahun hasilnya adalah Rp 105.236.000 juga. Ternyata setoran porsi investasi ini tidak tumbuh seperti proyeksi 17% per tahun melainkan seperti terlihat dalam kolom D. Terjadi pertumbuhan negatif di tahun kedua, ketiga, keempat dan kelima walaupun asumsi pertumbuhan produk berbasis saham sebesar 17% per tahun. Untuk mencapai proyeksi pertumbuhan 17% per tahun seperti kolom B, ternyata nilai aktual yang dibutuhkan sebagai setoran bukan seperti pada kolom A, melainkan seperti pada kolom E. Setiap kali Irwan menyetorkan premi yang sudah dialokasikan untuk asuransi dan investasi, terjadi selisih atau potongan lagi pada bagian porsi investasi. Jumlah potongan ini bisa jadi sebesar nilai pada kolom F. Apa sebetulnya yang akan terjadi jika porsi investasi Irwan sesuai kolom A memang tidak dipotong dan disetorkan seluruhnya untuk investasi? Ternyata seharusnya proyeksi tersebut bukan seperti pada kolom B melainkan seperti pada kolom G. Jika Irwan menyetorkan total Rp 200.100.000 dalam kurun waktu 10 tahun, dan diproyeksikan tumbuh sebesar 17 % per tahun, seharusnya total dana yang dapat diperoleh adalah sebesar Rp 465.534.641. Jumlah ini berbeda jauh sekali dibandingkan proyeksi dalam contoh proposal Unitlink yaitu Rp 283.637.000. Setelah melihat angka perhitungan seperti ini – yang tentu saja baru berupa contoh proposal dan belum merupakan hasil sebenarnya – Irwan memiliki informasi lengkap untuk memilih produk yang ia ingin gunakan. Sekarang Anda perlu juga berpikir... · Apakah Anda memiliki produk dengan skema seperti di atas? · Apakah Anda mengetahui penjelasan perhitungan produk dengan skema seperti di atas? · Apakah Anda sudah nyaman dengan manfaat yang Anda terima dari produk dengan skema seperti di atas? Tentu saja tidak semua skema Unitlink berbentuk seperti contoh di atas. Tetapi saya banyak bertemu dengan kasus nasabah bingung memiliki produk dengan skema seperti di atas. Kebanyakan membeli saja karena iming-iming ‘balik modal setelah 6 tahun’, ‘tabungan investasi’ atau ‘tidak perlu kuatir soal risiko investasi’. Padahal kenyataannya mereka mendapat kepastian kerugian yang cukup besar, bahkan saat contoh proposal menggunakan asumsi pasar saham dalam keadaan bullish. Ini semua terjadi karena financial literacy yang rendah. Sudah seharusnya kita tahu dan mengerti apa produk yang kita beli dan bagaimana manfaat produk tersebut dalam Rencana Keuangan Komprehensif. Contoh perhitungan di atas menunjukkan betapa mahalnya ongkos yang harus dibayarkan oleh seseorang saat mengikuti program Unitlink. Sementara kita perlu melakukan efisiensi biaya agar ada porsi yang lebih banyak bisa disetorkan untuk mencapai Tujuan Finansial yang jumlahnya tentu tidak sedikit. Ini menyebabkan saya dan tim QMPlanner kesulitan memberikan rekomendasi pada produk dengan skema seperti ini. Setiap Rencana Keuangan yang kami buat pasti memuat rekomendasi produk yang beriisi proteksi dan investasi. Kami pun perlu melakukan efisiensi dana klien agar dapat membeli Asuransi dan Reksadana pada porsi dan pertumbuhan yang sesuai dengan kebutuhan mereka. Lalu apakah semua produk Unitlink tidak dapat digunakan? Dan apa yang perlu Anda lakukan jika Anda sudah terlanjur memiliki produk yang ternyata tidak sesuai dengan kebutuhan Anda? Ikuti edisi berikut, saya akan menjelaskan beberapa contoh kasus khusus penggunaan produk Unitlink. [bersambung] Finance Should be Practical! Tulisan ini pernah dimuat di Tabloid Kontan edisi 18 – 24Juli 2011 Anda dapat melakukan Konsultasi / Jam dengan QM Planner untuk mendiskusikan kondisi keuangan keluarga Anda – mulai dari pemeriksaan kesehatan keuangan, periksa polis asuransi hingga diskusi Rencana Waris. Silakan hubungi : Tim Sales ~ Mario & Yani 021-57948040 /
This e-mail address is being protected from spam bots, you need JavaScript enabled to view it
/ @QM_Sales |
|
|
Kenapa Tidak Pada Unitlink (Bagian 1) |
Print
|
| Category:
Practical Tips
|
|
Wednesday, 10 August 2011 |
|
Unitlink adalah sebuah produk hibrid yang dijual oleh perusahaan asuransi. Biasanya jenis paling populer adalah Unitlink dengan produk dasar berupa Asuransi Jiwa Whole Life untuk pembayaran premi 10 tahun dengan coverage hingga umur 99 tahun. Kemudian, produk ini akan ditempeli produk-produk tambahan seperti Asuransi Kesehatan, Asuransi Kecelakaan, Asuransi Penyakit Kritis dan Unit Investasi.
Pertanyaannya adalah, yang mana dari sekian banyak produk yang saling menempel tersebut yang memang betul-betul Anda butuhkan? Jika memang membutuhkan semuanya, apakah produk-produk sudah dalam manfaat yang maksimal? Apakah produk-produk tersebut dapat Anda peroleh terpisah dengan manfaat lebih besar dan biaya lebih rendah?
Simak kisah teman saya, sebut saja bernama Reni. Reni adalah perempuan muda berumur 26 tahun, bekerja freelance untuk sebuah biro periklanan. Reni masih tinggal bersama orang tuanya di sebuah daerah elit di Jakarta Selatan. Singkat cerita, Reni dan keluarganya dalam kondisi keuangan yang tidak kekurangan.
Reni datang pada saya membawa sebuah polis asuransi Unitlink. Asuransi ini terdiri dari Asuransi Jiwa, Asuransi Kesehatan dan Unit Investasi. Reni merasa bingung karena ia sudah menyetorkan uang cukup besar untuk ukuran seorang pekerja freelance dalam 12 bulan terakhir. Tetapi saat membuka laporan kinerja yang dikirimkan perusahaan asuransi, Reni tidak melihat saldo yang seharusnya lebih besar dari premi yang telah disetor.
Ada beberapa problem dari pilihan Reni ini. Mari kita bahas satu per satu.
1) Proteksi Jiwa
Asuransi Jiwa dalam Unitlink biasanya berupa Asuransi Jiwa Whole Life. Tentu ini penting untuk Anda yang memiliki tanggungan. Jika terjadi meninggal dan Anda belum memiliki Aset cukup besar untuk menggantikan penghasilan Anda, maka keluarga akan menghadapi masalah keuangan yang serius.
Khusus untuk kasus Reni, ia belum memiliki tanggungan. Reni malah masih tinggal dengan orang tuanya dan menjadi tanggungan. Dalam polis asuransinya, tertera bahwa Uang Pertanggungan (nilai uang yang diberikan oleh perusahaan Asuransi jika Reni meninggal dunia) adalah sebesar Rp 20 juta.
Tadinya Reni berpikir, “Lumayan kalau saya meninggal, Ibu bisa menerima Rp 20 juta.” Tetapi sebetulnya Ibunda Reni tidak membutuhkan dana tersebut. Artinya saat ini Reni belum membutuhkan proteksi jiwa.
2) Proteksi Kesehatan
Semua orang tanpa kecuali membutuhkan fasilitas kesehatan. Reni bekerja freelance, artinya perusahaan tempatnya bekerja tidak memberikan fasilitas kesehatan apa pun. Maka, Reni sangat membutuhkan fasilitas kesehatan sendiri dalam bentuk Asuransi Kesehatan.
Polis asuransi Unitlink yang Reni miliki memuat Asuransi Kesehatan sebagai salah satu produknya. Hanya saja Reni lengah tidak memperhatikan manfaat Asuransi Kesehatan yang telah ia beli. Ternyata manfaat dalam Asuransi Kesehatan ini adalah rawat inap untuk kamar kelas Rp 125.000 per malam. Padahal jika sampai sakit, Reni akan memilih Rumah Sakit terdekat dengan kamar kelas Rp 1.500.000 per malam.
Tentu saja Asuransi Kesehatan dalam polis asuransi Unitlink Reni ini tidak memadai untuk kebutuhan proteksi kesehatan Reni.
3) Unit Investasi
Berikutnya adalah unit investasi. Premi yang Reni setorkan di tahun pertama terbagi menjadi biaya asuransi dan unit investasi. Sebetulnya Reni dapat memilih jenis dari unit investasi ini, bisa di pasar uang atau pasar modal (pendapatan tetap, campuran atau saham). Sebetulnya di usia sangat muda dan tanpa tanggungan, Reni dapat mengambil risiko tinggi untuk investasi Dana Pensiun. Sehingga jika memang ingin berinvestasi untuk periode yang panjang di atas 15 tahun, Reni dapat mempertimbangkan jenis saham untuk unit investasinya.
Kenyataannya Reni tidak mengerti produk yang ia beli. Unit investasi yang ia pilih dalam asuransi Unitlink ini adalah pasar uang (money market). Sehingga porsi dari premi yang Reni setorkan memiliki pertumbuhan yang sangat rendah. Saat bertemu saya, hasil unit investasi pasar uang ini adalah 2% per tahun. Padahal seharusnya untuk unit investasi pasar uang di tahun tersebut paling dapat menghasilkan 5%-7% per tahun.
Artinya Reni membutuhkan hasil investasi yang lebih tinggi dan tentu saja pemahaman risiko yang lebih tinggi juga.
Kesimpulannya, produk Asuransi Unitlink ini tidak cocok untuk seorang Reni. Jika ditutup tentu rugi, namun jika diteruskan tidak memberi manfaat maksimal untuk Reni. Jika ingin menutup produk ini, Reni perlu segera membeli dulu Asuransi Kesehatan agar memiliki proteksi kesehatan sebagai pengganti. Sebetulnya ada lho Asuransi Kesehatan yang tersedia untuk individual dan dijual terpisah dari Asuransi Jiwa. Biasanya ini disediakan oleh perusahaan General Insurance dengan premi yang rendah dan manfaat yang sesuai kebutuhan kita.
Selain itu, Reni juga harus segera berinvestasi. Ia memiliki ekspektasi yang tinggi terhadap premi yang telah ia setorkan. Seharusnya Reni tahu bahwa premi yang disetorkan selama ini memang memiliki komponen biaya asuransi. Jika ingin menutup asuransi Unitlink dan memiliki nilai dari jumlah uang premi yang mampu ia setor, maka Reni harus berinvestasi secara terpisah. Ini dapat dilakukan melalui produk Reksadana. Risiko investasi yang dihadapi unit investasi dalam UnitLink adalah sama saja dengan risiko unit investasi dalam Reksadana. Keduanya akan masuk dalam Pasar Uang atau Pasar Modal Indonesia. Hanya saja unit investasi dalam Reksadana tidak dikenakan lagi biaya asuransi seperti dalam Unitlink sehingga pertumbuhan unit bisa lebih efisien.
Pembaca Kontan tentu memiliki usia dan latar belakang yang berbeda dengan Reni. Setiap orang akan memiliki kebutuhan masing-masing. Sudahkah Anda memeriksa polis asuransi Unitlink yang Anda miliki? Pastikan Anda memang memiliki produk yang sesuai dengan kebutuhan. Jangan sampai Anda hanya rajin saja membayar premi tanpa tahu manfaat apa yang harusnya Anda dapatkan dari produk yang Anda miliki.
Pada edisi berikut saya akan membahas lebih lanjut tentang Asuransi Unitlink ini lengkap dengan perhitungan yang lebih detil. Juga penjelasan bagaimana Anda sebagai konsumen dapat meminta alternatif produk asuransi seperti asuransi tradisional dan bagaimana Anda sebagai agen asuransi dapat menjelaskan pilihan asuransi tradisional [Bersambung]
Finance Should be Practical!
Tulisan ini pernah dimuat di Tabloid Kontan edisi 11 – 17 Juli 2011
Anda dapat melakukan Konsultasi / Jam dengan QM Planner untuk mendiskusikan kondisi keuangan keluarga Anda – mulai dari pemeriksaan kesehatan keuangan, periksa polis asuransi hingga diskusi Rencana Waris. Silakan hubungi :
Tim Sales ~ Mario & Yani
021-57948040 /
This e-mail address is being protected from spam bots, you need JavaScript enabled to view it
/ @QM_Sales
|
|
|
Ngomongin Warisan yang Katanya Tabu Itu |
Print
|
| Category:
Practical Tips
|
|
Tuesday, 02 August 2011 |
|
Tabu ya ngomongin Waris? Kayak nyumpahin orang mati? Gitu? Padahal sebetulnya, waris itu urusan panjang yang terjadi setelah seseorang meninggal dunia. Yang ribet adalah = mereka yang masih hidup! Jadi yang namanya Rencana Waris justru dibuat saat kita masih waras dan masih bernapas! Ada yang pikir, ngomongin waris itu sama ortu atau kakek nenek, karena usia mereka sudah sepuh. Heits, padahal sebetulnya ini urusan buat kita juga yang umurnya mungkin lewat 35 tahun aja belum.
Ada 3 hal yang harus kita perhatikan : 1) Daftar Harta / Utang Punya apa aja? Rumah, mobil, rekening di bank, reksadana, saham, obligasi, bisnis? Nilainya berapa? Jangan lupa, utangnya apa aja, sama siapa, ada asuransi kreditnya gak?
Repotnya, ada lho orang yang boro-boro tahu rekeningnya di mana aja, gaji pasangan berapa aja gak tauk! Terus kalau ada apa-apa, siapa yang mau ngurus harta / utang ini? 2) Akses dan Status Kepemilikan Punya tabungan saldonya Rp 10 juta. Tapi atas nama siapa? Banknya di mana? Orang di bank sana kenal gak sama sanak saudara kita? Pikirin orang yang akan ngurusin tabungan ini. Informasinya harus jelas supaya gak ngerepotin orang lain. Soal status kepemilikan ini juga bisa jadi ribet. Ada UU Perkawinan tahun 1974 yagn menyatakan harta / utang yang dihasilkan saat menikah adalah miliki BERSAMA! Kecuali ada perjanjian pra nikah / pisah harta.
Nah, punya kita statusnya gimana? Jangan sampai, terjadi apa-apa sama suami – semua atas nama dia – terus si istri kebingungan sendiri yang mana punya dia, yang mana harta waris. Prinsipnya, perjelas status kepemilikan harta dan utang kita! 3) Hukum yang Digunakan Ada 3 hukum waris di negeri ini : · Hukum BW – hukum negara yang sudah ada & berlaku sejak jaman Belanda, juga disebut ‘hukum barat’ · Hukum Waris Islam – khusus untuk yang beragama Islam, dibuat berdasarkan aturan dalam Al-Qur’an. · Hukum Adat – berlaku di daerah tertentu, biasanya untuk pembagian waris barang tertentu. Misalnya Rumah Gadang di Sumatera Barat atau Keris di Jawa Tengah. Contoh kasus ya! Ibu Anisa menikah dengan Bapak Jo. Dari pernikahan sebelumnya Bapak Jo sudah memiliki 2 orang anak laki-laki dewasa. Ibu Anisa dan Bapak Jo memiliki 1 orang anak laki-laki berusia 10 tahun. Rencana waris seperti apa yang harus dipersiapkan Ibu Anisa? Persiapannya seperti ini: 1) Daftar Harta / Utang Ibu Anisa perlu membuat daftar harta dan utang yang ia miliki. Mulai dari rumah, mobil, rekening di bank, reksadana, bisnis hingga saham perusahaan publik. Ibu Anisa juga perlu membuat daftar utang yang ia miliki, misalnya KPR terhadap rumah yang ia tempati. 2) Akses & Status Kepemilikan Ibu Anisa perlu menjelaskan kepada Bapak Jo soal daftar harta dan utang ini. Lalu mereka juga harus diskusi mana yang miliki bersama, mana yang milik pribadi. Gak fair dong kalau Ibu Anisa cerita lengkap daftar harta / utang tapi Bapak Jo gak cerita? Kalau keduanya gak punya perjanjian pra nikah, artinya secara hukum sih semua milik bersama. Tapi bisa aja mereka bikin surat pernyataan mana yang milik Bapak Jo dan mana yang milik Ibu Anisa. Walaupun gak berkekuatan hukum, tapi paling gak surat pernyataan ini bisa kasih penjelasan sama keluarga yang harus mengurusi pembagian waris. Ini penting terutama karena mereka punya anak yang baru umur 10 tahun dan ada 2 anak Bapak Jo dari pernikahan sebelumnya. 3) Hukum yang Digunakan Ibu Anisa dan Bapak Jo beragama Islam. Maka mereka akan menggunakan Hukum Waris Islam. Ahli waris utama mereka adalah : ortu, pasangan + anak kandung. Jadi untuk Ibu Anisa, kedua anak Pak Jo dari pernikahan sebelumnya tidak menjadi ahli warisnya. Maka penting sekali agar mana saja harta Ibu Anisa dipisahkan dari harta Pak Jo. Biar anak-anak juga gak bingung kan? Sampai sini aja? Masih ada lagi sih. Ada urusan Asuransi Jiwa. Ibu Anisa punya Asuransi Jiwa Term Life dengan Uang Pertanggungan Rp 2 Milyar selama 15 tahun ke depan. Niatnya Ibu Anisa mau selama anak mereka yang baru berusia 10 tahun itu sekolah, ada perlindungan dengan nilai yang bagus. Jadi kalau sampai urusan waris dari harta yang ada sekarang perlu waktu, paling gak Uang Pertanggungan dari Asuransi Jiwa ini bisa dipakai dulu oleh anaknya untuk biaya hidup dan uang sekolah. Jangan lupa kalau Ibu Anisa & Bapak Jo perlu menunjuk orang ketiga sebagai Wali dari anak mereka. Kalau terjadi meninggal pada keduanya secara bersama-sama, Wali ini yang akan mengurusi semua keperluan anak mereka. Emang gak gampang sih buka pintu diskusi tentang waris ini dengan pasangan. Tapi kalau nanti salah satu meninggal, pintu diskusi itu sudah terkunci rapat! Gue sendiri baru berani nanya-nanya pendapat suami soal status kepemilikan dan bagi waris tahun lalu sebelum berangkat Haji. Momennya pas gitu J hehehe... Jadi... tunggu apa lagi! Jangan pake daster/kaos busuk, dandan yang cakep, siapkan makan malam dan mulai dengan... “Sayang... udah baca artikel ini belum?” Good luck J Cheers, Ligwina Hananto Anda dapat melakukan Konsultasi / Jam dengan QM Planner untuk mendiskusikan kondisi keuangan keluarga Anda – mulai dari pemeriksaan kesehatan keuangan, periksa polis asuransi hingga diskusi Rencana Waris. Silakan hubungi : Tim Sales ~ Mario & Yani 021-57948040 /
This e-mail address is being protected from spam bots, you need JavaScript enabled to view it
/ @QM_Sales |
|
|
The CNN International & BBC Radio Interview |
Print
|
| Category:
Personal Views
|
|
Wednesday, 01 June 2011 |
Hai... Barangkali ada yang mau lihat liputan berikut ini dari sepenggal kisah hidup gue tahun 2010. Pengalaman bertemu Sarah Sidner dari CNN International & Peter Day dari BBC Radio membuat gue berpikir terus betapa hebatnya Yang Maha Mengatur Hidup. Lebih penting lagi, di hari CNN International berkunjung ke kantor QM Financial, gue sedang disibukkan dengan acara sekolah anak-anak yaitu Karnaval Kostum. Azra ingin kostum Jedi dari film Star Wars sedangkan Dena ingin kostum Princess Aurora dari film Sleeping Beauty. Keep yourself grounded to reality! Buat gue sukses hari itu bukanlah kedatangan CNN, tetapi melihat wajah gembira anak-anak ketika kostum yang gue pilihkan sesuai dengan isi hati mereka. Selamat menikmati link berikut ini... gue tahu yang gue buat bangga adalah orang tua gue. Seperti gue bangga mengantar anak-anak ke sekolah hari itu dengan kostum mereka. The CNN International Feature Story: INDONESIAN YOUNG & RICH (Video)
The BBC Radio Interview: TWO WOMEN (Audio) Cheers, Ligwina Hananto |
|
|
Dana Kesehatan Pensiun – Garuda Indonesia |
Print
|
| Category:
Notes from My Events
|
|
Friday, 27 May 2011 |
|
Salah satu topik penting yang sering mendapat perhatian dari pihak Human Resource Department sebuah perusahaan adalah : Dana Kesehatan Pensiun. Kebanyakan perusahaan besar memberikan fasilitas kesehatan bagi karyawannya, selama karyawan tersebut masih bekerja. Ada juga perusahaan yang menanggung biaya kesehatan saat karyawan sudah pensiun, tetapi belakangan ini saya melihat ada trend baru, beberapa perusahaan sudah membatalkan fasilitas tersebut. Pada 5 Mei 2011 saya berkesempatan untuk ngobrol-ngobrol dengan karyawan Garuda Indonesia dengan topik bahasan : Dana Kesehatan Pensiun. Ada 3 hal yang harus diperhatikan saat pensiun yaitu : 1) Asuransi Kesehatan 2) Dana Kesehatan Pensiun 3) Asuransi Penyakit Kritis Obrolan ternyata tidak hanya seputar Dana Kesehatan Pensiun, karena tetap saja, kita perlu menyiapkan Dana Pendidikan untuk anak-anak. Bahkan untuk beberapa peserta, niat mereka membeli Asuransi adalah demi pendidikan anaknya, padahal asuransi yang mereka miliki fungsinya untuk menjadi fasilitas kesehatan. Berikut sepenggal Q&A seru di acara tersebut : Edward : Tadi Wina sudah menjelaskan tentang pentingnya Aset Aktif Bisnis, Properti dan Surat Berharga. Bisa dijelaskan gak efek pajaknya seperti apa? Jawaban : Masing-masing Aset Aktif tentu punya implikasi pajak yang berbeda-beda. Untuk Bisnis, tergantung apa hasil yang Anda terima. Jika Anda bekerja dalam Bisnis tersebut, tentu ada pajak penghasilan. Sebagai pemilik Bisnis, mungkin saja ada pembagian dividen sehingga pajak yang berlakupun untuk pajak dividen – sudah final. Sementara untuk Properti, pajak berlaku untuk sewa yang diterima juga jika Anda menjual Properti tersebut. Untuk Surat Berharga, mulai dari Deposito, Obligasi, Saham, masing-masing dengan ketentuan pajak yang berbeda-beda. Jadi jangan kuatir soal kepemilikan Aset Aktif ini, jika memang kita miliki dengan halal, melaporkan pajaknya akan sangat mudah. Tinggal dicantumkan dalam SPT masing-masing. Majidi : Saya sudah mendekati pensiun. Apa yang segera harus dilakukan? Jawaban : Usia Bapak sudah mendekati pensiun, maka seharusnya Bapak sudah dalam fase kepemilikan aset – bukan lagi berupaya mengejar hasil investasi demi meningkatkan dana yang dimiliki. Perhatikan Aset Aktif yang Bapak miliki, ada berapa penghasilan dari aset-aset tersebut. Kepemilikan aset ini akan sangat bermanfaat untuk mengurangi target Dana Pensiun yang dibutuhkan. Jangan lupa bahwa Dana Pensiun dari kantor tidak akan dapat memenuhi gaya hidup yang sama yang sedang Bapak nikmati. Maka tetap perlu investasi terpisah untuk Dana Pensiun – menggunakan Reksadana – bahkan bisa dibagi 3 periode pensiun : 55-65, 65-75, 75-85 tahun. Luki : Kapan sebaiknya saya yang akan pensiun ini membeli Asuransi Kesehatan? Jawaban : Saat usia Bapak sudah 50 tahun, perusahaan masih akan cover kesehatan Bapak hingga pensiun di usia 60 tahun. Sementara, kebanyakan Asuransi Kesehatan tidak akan cover kesehatan melebihi usia 65 tahun. Jika ada yang cover hingga 80 tahun pun dengan berbagai limitasi dan tambahan biaya. Jadi pilihan untuk Fasilitas Kesehatan ini adalah : 1) Beli Asuransi Kesehatan saat masih aktif bekerja agar dapat memiliki coverage hingga batas usia maksimal. Kelemahannya, Anda harus membayarkan premi dari Asuransi Kesehatan ini saat masih bekerja dan memiliki coverage dari kantor. 2) Memiliki Dana Kesehatan Pensiun. Dana ini harus diinvestasikan dari sekarang menggunakan aset dan sisa arus kas setiap bulan. Sangat diharapkan agar dana ini dapat siap begitu memasuki usia pensiun. Kelemahannya, ada asumsi jumlah yang dapat digunakan yaitu sebesar biaya pengobatan selama 3 tahun saja. Prialdi : Saya punya Asuransi Pendidikan dan kalau diperhatikan dengan baik, hasil dari Asuransi Pendidikan ini sudah pasti tidak cukup dengan kebutuhan sekolah anak-anak saya. Perlu ditutup atau dipertahankan? Jawaban : Kalau Bapak masuk jalan tol Jagorawi arah Bogor, sudah sampai Sentul, padahal sebetulnya mau berangkat ke Bandara di Cengkareng... artinya Bapak sudah salah arah. Bapak perlu segera mengambil pintu exit terdekat dan putar arah menuju Cengkareng. Perhatikan Asuransi Pendidikan yang Bapak miliki. Apakah Bapak sudah tahu berapa kebutuhan Dana Pendidikan Anak yang sebetulnya? Ini adalah tujuan atau pintu exit tol yang Bapak akan tuju. Jika ilustrasi dalam Asuransi Pendidikan itu saja tidak sesuai dengan perhitungan kebutuhan, ditutup tentu akan rugi – namu diteruskan pun tidak dapat mencapai kebutuhan. Jika ingin menutup Asuransi Pendidikan, pastikan ada penggantinya berupa : Asuransi Jiwa baru untuk proteksi dengan nilai Uang Pertanggungan yang sesuai kebutuhan [klik di sini untuk perhitungan] DAN memiliki investasi agar dapat mencapai tujuan Dana Pendidikan [klik di sini untuk perhitungan]. Penting untuk semua orang menyadari betapa besarnya risiko yang kita hadapi saat menderita sakit di hari tua nanti. Untuk Anda yang sudah mendekati usia pensiun tentu perlu segera menyiapkan Dana Kesehatan Pensuin. Untuk Anda yang masih jauh dari usia pensiun, tolong ngobrol dengan orang tua masing-masing. You never know when you’re gonna need this Health Fund. Cheers, Ligwina Hananto Bagian ini adalah bagian dari CEO Blog yang berisi catatan perjalanan saya keliling bertemu banyak orang. Saya punya kebiasaan baru membuat catatan kecil setiap kali jadi pembicara. Selalu banyak pertanyaan dari peserta seminar yang saya hadiri. Siapa tahu ada di antara Anda yang punya pertanyaan yang sama, bisa terjawab di sini J Semoga Anda menikmati artikel ini seperti saya menikmati setiap seminarnya! Disclaimer : semua tanya jawab di atas bukan berupa rekomendasi, para pembaca harus memahami produk keuangan / investasi dengan baik sebelum melakukan implementasi. Ayo undang Tim QM Financial untuk hadir di acara kantor / kampus / keluarga Anda, silakan hubungi : Tim Sales ~ Mario & Yani di 021-57948040 /
This e-mail address is being protected from spam bots, you need JavaScript enabled to view it
|
|
|
Women Power Day 2011 di FE-UI |
Print
|
| Category:
Notes from My Events
|
|
Thursday, 19 May 2011 |
|
Pada 29 April 2011 lalu saya mendapat undangan dari teman-teman mahasiswa UI untuk hadir pada acara Women Power Day 2011. Acara ini juga adalah hasil kerja sama mahasiswa dengan UKM Center yang dipimpin oleh Ibu Nining. Kebetulan sudah pernah ketemu dengan Ibu Nining beberapa kali, jadi riang gembira sekali rasanya bisa ketemu lagi. Peserta seminar pun bervariasi, mulai dari pelajar, mahasiswa, ibu rumah tanggak, perempuan yang berwirausaha dan juga beberapa laki-laki yang memberanikan diri hadir hehehe...
Topik yang saya bawakan pada acara tersebut adalah “Peran Perempuan sebagai Manajer Keuangan di Rumah”. Topik ini sudah sering saya bawakan, biasanya memang ‘laku’ di bulan April sekitar hari Kartini hehehehe... Saya sering memberikan pernyataan mengganggu. “Katanya manajer keuangan keluarga, tapi kok gaji suami berapa malah gak tau.”
“Perempuan sebagai manajer keuangan keluarga, tapi kok cuma tahu harga cabe.” “Perempuan sering kali ketinggalan dalam hal pengetahuan keuangan.” “Ada suami yang gak percaya sama istrinya untuk ngurus uang karena emang tukang belanja.”
Biasanya ini jadi ice breaker yang seru karena para perempuan gak akan terima kalau perannya sebagai manajer keuangan ternyata ‘manajer bohongan’. Ternyata banyak sekali di antara kita yang hanya menjadi ‘tukang belanja’ di rumah. Seharusnya sebagai manajer keuangan, saya percaya perempuan bisa jadi partner diskusi yang menyenangkan untuk pasangannya. Trust needs to be earned, jadi kita perlu belajar terus supaya bisa dipercaya dong!
Berikut sepenggal Q&A seru di acara tersebut :
Fenny :
Saya punya usaha, jadi penghasilan fluktuatir. Apa perlu safety net? Saya gak suka aja kalo simpan uang untuk Dana Darurat kan dananya gak bisa yang agresif. Padahal saya maunya investasi itu yang lebih agresif. Musti gimana ya?
Jawaban :
Kalau penghasilan fluktuatif, gampang aja kok, pengeluarannya kan bisa dibikin fixed. Balik ke basic aja : berapa sih sebetulnya biaya hidup kita setiap bulan. Rp 1 juta, Rp 3 juta, Rp 5 juta, atau Rp 15 juta? Dengan begitu, sekarang Fenny punya target buat usahanya supaya menghasilkan minimum sebesar biaya hidup per bulan. Kalau ternyata menghasilkan lebih, bisa disimpan untuk Dana Darurat dan Investasi Bulanannya. Kalau ternyata lebih rendah, uang di Dana Darurat itu bisa dipakai untuk menutupi kekurangannya.
Jadi untuk teman-teman yang punya usaha, jangan lupa bahwa saat usaha kita masih kecil dan belum bisa memberikan penghasilan yang tetap, Dana Darurat ini fungsinya jadi lebih penting lagi dibandingkan untuk teman-teman yang karyawan. Nah kalau mau investasi di produk lebih agresif, tetap bisa dilakukan – sesuaikan dengan Tujuan Finansial saja. Yang pasti Tujuan Finansial Dana Darurat tidak bisa menggunakan produk yang terlalu agresif. Ada juga sih beberapa klien yang tetap menginginkan produk agresif untuk Dana Darurat, tapi dengan porsi yang tidak terlalu besar, misalnya 20-30% dari Dana Darurat saja.
Lucky :
Saya sedang merintis karir jadi perencana keuangan independen. Sudah mulai punya klien. Mau tanya kenapa untuk Dana Pendidikan hanya menghitung Uang Pangkalnya saja?
Jawaban :
Karena kalau semua elemen Dana Pendidikan dimasukkan ke dalam perhitungan, kita akan nangis kejer! Hehehehe... ada beberapa elemen biaya pendidikan : Uang Pangkal, SPP bulanan, uang pendaftaran tahunan, uang buku, uang seragam sampai biaya kegiatan les dan ekskul. Masalahnya kenaikan biaya pendidikan itu diasumsikan antara 15% - 20% per tahun, maka semua elemen biaya pendidikan itu akan jadi sangat besar di kemudian hari.
Untuk memudahkan perhitungan dan membuat Rencana Dana Pendidikan ini lebih implementable, kita bisa menghitung Dana Pendidikan dengan cara : hitung Uang Pangkal saja untuk tingkat TK-SMA. Sementara untuk Perguruan Tinggi : hitung semua biaya dari anak masuk kuliah hingga lulus – untuk pendidikan di kota yang berbeda, hitung juga biaya hidup per bulan untuk anak.
Wuri :
Saya punya bisnis kecil. Kok gak tertarik ya investasi. Kayaknya, mending duitnya buat bisnis aja deh. Selama ini itung-itungan saya, kalau bikin bisnis saya bisa ngukur untungnya. Kalau untuk investasi, kan gak tau.
Jawaban :
Selamat datang di jebakan Batman! Banyak sekali orang yang punya bisnis memang berpikir begitu : “mending gue puterin di bisnis gue, jelas ngukur untungnya gimana”. Padahal namanya bisnis kan tetap gak ada garansinya juga. Gak ada lho bisnis yang dijamin untung 100% selama-lamanya!
Saya punya teman yang cerita dengan semangat bagaimana dia terus menerus setor modal ke dalam bisnisnya. Ini membuat saya jadi bertanya-tanya, sebetulnya usahanya untung gak sih? Ternyata waktu ditanya berapa omzet, berapa variable cost, berapa fixed cost dan berapa laba/rugi, teman saya gak bisa jawab! Bahkan waktu saya tanya dapat gaji atau bagi hasil gak dari bisnisnya, teman saya ini berkelit : ya kan uangnya lagi diputerin di bisnisnya.
Nah bedain yuk. Investasi bulanan yang kita lakukan di Reksadana, itu untuk mencapai Tujuan Finansial kita misalnya Dana Darurat, Dana Pendidikan dan Dana Pensiun. Sementara Bisnis kita fungsinya untuk memberikan penghasilan untuk kita, mulai dari terima gaji atau bagi hasil.
Ceritanya sekarang, Wuri, tebakan saya ya... bisnisnya Wuri belum memberikan gaji atau bagi hasil untuk Wuri ya?
(di sini Wuri ketawa ngakak hehehe...)
Begitu catatan perjalanan saya kali ini. Senang rasanya bisa ngobrol banyak dengan para perempuan pintar di acara ini. Saya selalu belajar banyak di setiap acara yang saya hadiri. Karena setiap kali bisa sharing pengalaman saya, para peserta pun sharing pengalaman mereka. Ilmu memang untuk di-share. Cheers, Ligwina Hananto
Bagian ini adalah bagian dari CEO Blog yang berisi catatan perjalanan saya keliling bertemu orang banyak. Saya punya kebiasaan baru membuat catatan kecil setiap kali jadi pembicara. Selalu banyak pertanyaan dari peserta seminar yang saya hadiri. Siapa tahu ada di antara Anda yang punya pertanyaan yang sama, bisa terjawab di sini
Semoga Anda menikmati artikel ini seperti saya menikmati setiap seminarnya!
Ayo undang Tim QM Financial untuk hadir di acara kantor / kampus / keluarga Anda, silakan hubungi :
Tim Sales ~ Mario & Yani di 021-57948040 /
This e-mail address is being protected from spam bots, you need JavaScript enabled to view it
|
|
|