Unitlink

CATET : Saya Ligwina Hananto. Saya TIDAK membeli asuransi unitlink :P

Ada beberapa ’teman’ yang tanya kenapa saya TIDAK BELI unitlink. Banyak banget alasannya Boss :).

Mungkin ya… kalau ada teman-teman yang mau seperti saya :P jawaban seperti di bawah ini bisa membantu heuheuheu…

Mbak, produk kami adalah produk unitlink dari perusahaan ternama XYZ.

Gak mau Mas, saya gak perlu unitlink.

Tapi kan perlu investasi Mbak.

Sudah investasi dong Mas. Untuk investasi saya pakai beberapa Reksadana, beberapa bisnis, properti dan saham.

Tapi reksadana kan ada risikonya Mbak.

Unit investasi dalam unitlink itu kan reksadana juga Mas. Resiko investasinya sama saja, tergantung jenis instrumen di dalamnya.

Unitlink kan ada asuransinya… dengan 1 juta / bulan, UP nya besar lho Rp 280 juta.

No thank you. Rp280 juta gak cukup Mas. Itu cuma seharga mobil suami saya. Masak nilai nya suami saya disamain sama mobilnya?

Kami sudah fully covered Mas, Uang Pertanggungannya Rp 1M, cuma bayar Rp 4 juta / tahun. Uang Pertanggungan Rp 4M, cuma bayar Rp 13 juta /tahun. Jauh kan?

(FYI, asuransi jiwa term life 10 tahun untuk seseorang berusia sekitar 30 tahun, dengan Uang Pertanggungan di bawah Rp 400 juta, paling-paling preminya hanya Rp 750 ribu / tahun)

Dalam unitlink ada waiver dan rider yang sangat berguna lho Mbak. Jadi kalau ada apa-apa dan tidak dapat membayarkan premi nya lagi, perusahan asuransi akan melanjutkan investasinya. Jadi di tahun ke 13, uang sekolah S1 nya dapat tetap tercapai.

UP asuransi jiwa kami sudah sangat memadai. Jadi kalau ada apa-apa, justru UP ini yang harusnya langsung keluar, gak usah nunggu 13 tahun lagi dan kami investasikan kembali sekarang. (Money today is worth more than money 13 years from now!) Target dana S1 anak saya 13 tahun lagi Rp 1,5 M, kalau UP nya
4M artinya didepositokan juga sudah cukup.

Kalau sampai perusahaan asuransinya gak mau membayarkan klaim dengan UP jiwa ini pun, aset yang ada masih dapat dikelola agar menghasilkan nilai yang optimal.

Yang ini ada investasinya lho Mbak.

Unit investasi dalam unitlink itu sama saja dengan reksadana. Jadi investasinya langsung aja di reksadana Mas. Jadi kalau  Investasinya Rp 500ribu per bulan atau Rp 6 juta /tahun. Terus asuransinya dibeli terpisah dengan asuransi jiwa term life 10 thn (beserta asuransi kecelakaan), UP Rp 1 M, premi Rp 4 juta /tahun. Jadi dengan bayar Rp 10 juta / tahun saya dapat UP lebih besar, investasi saya di reksadana cuma dipotong 0% – 2% subscription fee. Tadi Mas kasih saya ilustrasi Rp 12 juta /tahun, UP cuma Rp 280 juta, unit investasi dipotong fee 5% dan tahun-tahun pertama gak langsung masuk ke unit investasinya.

Oh Term life, itu kan traditional Mbak. Kami udah gak jual itu.

Kenapa dong gak mau jual? Mau traditional atau modern gak masalah Mas. Yang penting produknya membuat Financial Plan saya efisien. Dengan mengeluarkan uang yang lebih sedikit, saya dapat lebih banyak coverage dan unit investasi yang saya dapatkan lebih banyak, gak dipotong-potong fee terlalu banyak. Ini belum ngomongin return lho.

Term life kan gak ada nilai tunainya Mbak? Terus kalau sudah tua, umur 55 misalnya, jadi mahal kan preminya Mbak.

Saya perlu asuransi jiwa untuk perlindungan jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Saya tidak beli asuransi untuk cari nilai tunai. Semua nilai tunai tercapai dengan investasi yang sistematik. Saya membuat Financial Plan keluarga saya lengkap dengan Dana Darurat dan investasi dibagi berdasarkan tujuan. Jadi keperluan asuransi pun harus direview tiap tahun.

Umur 55 tahun harusnya sudah siap dengan dana pensiun dong. Jadi gak perlu lagi asuransi jiwa. Kalau pun belum punya dana pensiun, anak-anak harusnya sudah besar-besar. They should take care of themselves, gak perlu lagi nilai tunai atau Uang Pertanggungan asuransi jiwa dari kami. Umur segitu yang saya perlukan jadinya asuransi kesehatan untuk pensiunan dan Dana Pensiun dalam jumlah besar.

Betul Mbak, kesehatan penting sekali. Yang ini ada untuk penyakit kritisnya Mbak. 40 penyakit kritis yang dicover.

Permisi ya… coba deh periksa di polis asuransi yang sudah jadi. Asuransi penyakit kritis ini gak akan langsung keluar begitu kena diagnosa. Fungsi asuransi penyakit kritis ini fungsinya seperti asuransi kecelakaan : untuk menggantikan hilangnya penghasilan karena ketika kena penyakit kritis kita gak bisa bekerja normal lagi. Bukan untuk mengobati. Jadi kalo kena diabetes, masih bisa hidup 7 tahun lagi, ya gak keluar tuh UP penyakit kritisnya. Gagal ginjal kedua-duanya dan tidak bisa transplan lagi, baru keluar UP penyakit kritisnya. Stroke, keluar UP nya. Kanker, stadium 4 baru keluar UP nya.

Jadi kalau kena penyakit kritis gimana dong Mbak?

Harusnya Dana Daruratnya ada tuh Mas kalo cuma mau Rp 280 juta. Kalau kuatir dengan bagaimana mengobati penyakit kritis, kita perlu asuransi kesehatan yang bagus banget – yang mau bayarin biaya berobat rutin untuk penyakit kronis.

Terutama yang ada guarantee renewability nya. Nah di Indonesia belum ada aturan yang mengharuskan guarantee renewability, jadi mending ambil asuransi kesehatan yang premium, udah ada kok dari luar negeri. Tinggal dibandingkan mana yang prioritas, beli asuransi premium ini atau investasi. Premi asuransi kesehatan premium itu berkisar antara US$700-US$7000, dengan benefit pembayaran jika sakit yang aduhai juga.

Yang syariah juga ada lho Mbak

(may be it’s the jilbab thing hehehe)
Mas, bukan soal syariah gak syariahnya. Tapi struktur produk unitlink nya ini yang gak nyambung sama sekali dengan Financial Plan saya. Kalau mau cari produk syariah, reksadana juga banyak yang syariah.

Return unitlink tinggi lho Mbak.

Kalau mau return tinggi, justru jangan di unitlink Mas. Reksadana Saham tuh resiko tinggi, return juga sekarang lagi tinggi. Sama kan unitlink juga punya kok reksadana saham, disebutnya equity fund, padahal sama aja. Jadi tinggal liat, hayo berapa return equity fund nya?

Itu kan cuma urusan MI mana yang lebih jago aja. Jadi siapa MI nya?

Schroders, Fortis, Manulife, Trimegah, Danareksa? MI-MI itu semua jual reksadananya sendiri lho, beli langsung atau lewat bank juga bisa, subscription fee nya juga lebih rendah 0%-2%, di unitlink 3%-5% kan? Coba deh cek siapa MI nya. Kalau MI ini gak jual reksadananya (baca: unit investasi dari unitlink) kecuali lewat asuransi yang sister companynya, malah gawat dong. Artinya distribusinya terbatas sekali. Ya simple aja, bandingin  Performance nya dengan MI lain. Kita mempercayakan dana kita dikelola oleh MI, ya harus mau membandingkan MI-MI ini dong.

Tapi, ngapain saya beli reksadananya Schroders, Manulife, Fortis atau Danareksa lewat asuransi kalo saya bisa beli langsung ke mereka atau lewat bank?

(FYI periksa performance MI di unitlink dan reksadana. Harusnya dalam 3 tahun terakhir equity fund dari unitlink dan reksadana dapat menghasilkan return > 40% per tahun. Jadi kalau ada MI yang equity fund nya di tahun 2005 hanya menghasilkan 14%…. tanya kenapa! Yang bener aja, diputerin ke mana tuh uangnya, ngaku aja equity fund, jangan-jangan isinya bukan saham. Gawat gak tuh?)

Ya diversifikasi aja Mbak. Kalau punya uang lebih, bisa ditaro di unitlink.

Mas, unit investasi dalam unitlink itu sama aja dengan reksadana. Jadi kalau mau diversifikasi bukan lewat unitlink, tapi di jenis instrument nya. Money Market, Fixed Income, Balance or Equity. Jadi diversifikasi bukan liat di struktur asuransi yang digabungkan dengan unit investasi reksadana dong. It doesn’t make sense.

Ya tapi kan gak semua orang seperti Mbak Wina…

Lho, kenapa gak? Tell me : Why not?  Coba kasih alasan yang bener.  Kenapa kita semua gak bisa bikin Financial Plan yang komprehensif – yang lengkap – yang betul-betul memperhatikan semua kebutuhan keluarga kita? Kenapa kita semua gak bisa membuat diri lebih pintar supaya bisa mengerti semua isi dagangan produk-produk investasi atau asuransi yang sedang ditawarkan di depan mata kita? Kenapa kita semua gak bisa membeli produk keuangan dengan lebih efisien, sehingga gak bayar fee kebanyakan, gak beli produk yang underperforming, dan bisa mencapai lebih banyak tujuan finansial dengan lebih cepat? Gak ada kan alasan supaya kita gak bisa begitu?

Tell me why I need this??? :? Seriously…
Listen up! Let’s say this together… out loud…

You ARE smart! You continuously gain more knowledge on investment. Check out the numbers and let the numbers speak to you…


Numbers don’t lie!

Ligwina Hananto

TOPICS


33 tanggapan untuk “CATET : Saya Ligwina Hananto. Saya TIDAK membeli asuransi unitlink :P”

  1. Layong berkata:

    Hello mbak. boleh tau asuransi apa yang 750rb/thn tp up bisa 400juta? dan asuransi kesehatan apa yang dari luar negeri itu?
    thanks.

  2. Michael berkata:

    Terima kasih mba, atas tulisannya. Sangat menguatkan saya untuk mengambil asuransi jiwa murni + investasi di Reksadana. Kalau boleh tahu, asuransi jiwa apa ya dengan UP yang besar seperti yang mba tuliskan di atas? Atau ada rekomendasi Asuransi Jiwa dengan premi kecil dan UP besar?
    Terima kasih sebelumnya,

    michael

  3. epsilon berkata:

    Thx insightnya; poinnya di “kami sudah nggak jual lagi” itu mbak , karena lebih mudah memasarkan UL dan untungnya lebih gede karena hidden costnya itu

  4. Rafika berkata:

    mba, saya sudah terlanjur beli unitlink dan sudah berjalan 3,5 tahun dengan total kontrak 7 tahun. Menurut Mba, saya stop aja atau engga ya Mba?

    • Betymey berkata:

      Unit link memang bukan investasi yang menguntungkan , setelah membaca artikel ini,saya jadi tambah mantap untuk berhenti dari asuransi unit link ini..sy sudah membayar 5 taon lbh, tp sy cek nilaix saat ini hanya 30 % dari total premi yang saya bayarkan. Mana klo dihitung2 coveran proteksinya jg kecil,nd sebanding .benar2 rugi.

  5. Edy Hartono berkata:

    Bagaimana dengan manfaat sistem kontrak unit link? Jika sudah pernah klaim, biasanya asuransi kesehatan murni akan menutup produknya untuk orang tersebut, sedangkan sistem unit link akan jalan terus sampai usia 75/99 tahun.

  6. johan berkata:

    karena market unit link lebih besar daripada market tradisional.
    pada market unit link banyak produk riders
    Sehingga produk unit link lebih memikat dikarenakan kemasanannya riders.
    kemasan riders unit link terus mengalami pembaharuan menjadi lebih baik baik dari segi premi dan manfaat ridersnya.
    Unit link bisa masuk ke semua segmen masyarakat baik kelas bawah , menengah dan kalangan atas.
    Unit link lebih mampu menjawab rantangan market daripada tradisional

  7. johan berkata:

    Diluar negeri asuransi jiwa dan kesehatan dipengaruhi
    faktor tunjangan sosial dari pemerintah baik phk, melanjutkan pendidikan dan masa pensiun.
    Asuransi kesehatan diluar negeri tidak perlu rawat inap .
    Di Indonesia asuransi kesehatan wajib rawat inap.
    Tidak ada tunjangan sosial baik phk, melanjutkan pendidikan dan masa pensiun.
    Sehingga masyarakat Indonesia sangat rentan sekali dari keadaan yang akan merugikan dari segi kesehatan dan finansialnya juga kesadaran asuransinya sangat rendah.
    Negara maju kemajuan rakyatnya disokong asuransi dan ini disokong oleh pemerintah sebaliknya di Indonesia.
    Tidak adanya perbaikan sosial masyarakat dan asuransi masih menjadi beban dan bukan sebagai daya dorong pertumbuhan ekonomi masyarakat.

  8. idmhdsdk berkata:

    harus tau banget nih tentang saham biar ngga salah invest. terima kasih gans.

  9. Terimakasih informasinya

  10. Agung berkata:

    Thanks infonya.. Kalo.mau ambil.asuransi jiwa murni, ada rekomendasi asuransi apa dan nama produknya?

  11. Yana berkata:

    mba bagus banget deskripsinya. saya baru aja malah berhutang masa sama perushaan asuransi. gila….
    yah akhirnya saya stop.

    sekarang saya cari asuransi murni aja.

    ada reff kah mba?

  12. yudhi berkata:

    manulife untu tradisionalny lumayan…

  13. abi berkata:

    Halo.. mau konsultasi dong.
    sy ikut unitlink asurinansi jiwa Alxxxnz.. dengan UP 400jt, premi 350rb / bln, skr saya sudah jalan 4 tahun.

    saya setahun belakangan ini baru melek tentang investasi (Saham, Reksadana, Obligasi, dll) dan sudah mulai untuk investasi ini.
    dan saya baru “ngeuh” sebaiknya kita memisahkan antara investasi dan asuransi. manfaatnya ternyata lebih besar.

    yang ingin saya tanyakan, apakah saya perlu melanjutkan unit link saya apa lebih baik saya tutup saja?

    terima kasih

  14. mocca berkata:

    jadi asuransi jiwa yang bagus tuh apa aja sih ?

  15. Dissecting Money berkata:

    Artikel mengenai unitlink favorit saya!

    Keep posting mrs.

    Thanks for what you do!

  16. Syau berkata:

    Mbak.. ibu ibu kmaren ada yg nanya, asuransi pendidikan itu ada nggak sih? Kalo nggak ada, apakah sebaiknya investasi reksadana untuk dana pendidikan?
    Trus asuransi untuk anak dimulai sejak usia berapa?
    Thanks

  17. QM Financial berkata:

    Untuk asuransi pendidikan, bisa dibaca di artikel ini: http://www.qmfinancial.com/2019/12/tentang-asuransi-pendidikan/

    Jika ingin membuat dana pendidikan, pilihlah investasi yang paling sesuai dengan profil risiko kita.

    Asuransi untuk anak ini asuransi kesehatankah? Kalau asuransi kesehatan, bisa dimulai kapan saja. Bahkan lebih dini lebih baik.

    Kalau yang dimaksud dana pendidikan anak, sebaiknya dimulai secepat mungkin. Karena nilai investasi akan semakin ringan jika dimulai semakin dini.

  18. Winda berkata:

    Apa yg harus sy lakukan pd saat ini, dana investasi saya jatuh 50% sdgkan saya hrs bayar premi terakhir di tahun ke 4 ini…. bila sy paksakan tutup dana sy terkena penalty lg 20%…. Mohon pencerahannya

  19. Asuransi kesehatan murni berkata:

    Bagus mba pencerahannya & memang kita pun suka memberikan pencerahan seperti ini ke setiap calon nasabah & nasabah kita. Plus minusnya case by case tergantung kebutuhan setiap org jg. Karena kondisi setiap keluarga & org per org berbeda2 jg kebutuhannya

  20. Feirda Junwera berkata:

    Tugas agen asuransi itu adalah mencari kebutuhan calon nasabah dan bgm profil resiko yg mau ditanggung. Mau yg unit link atau tradisional, tergantung dengan tujuan keuangannya. Unit link/tradisional ada kelebihan dan kekurangannya, bukan tugas agen meminta seseorang membeli unit link/tradisional. Dan tugas pembeli tahu apa yg dibeli, jangan komplen di kemudian hari.

  21. Erwin berkata:

    Saya sudah coba pelajari tradisional VS unit link, dlu sy ANTI UNIT LINK juga. Intinya unit link gk seburuk itu, tradisional jg gk sebagus itu, soso lah, PLUS MINUS . CMIIW yah.

    Tradisional itu kita beli ASURANSI utk tahunan, iyah lebih murah bgt drpd unit link bsa 2 3 kli lipat dengan manfaat yg sama, perbulan bisa 400 rb di cover RS smw,dll. tapi kalo nasabah ada sakit keras trus CLAIM, premi nya bisa naek gede ato mlh gk bsa lanjut lagi taun depan. intinya gk ada kepastian utk taun2 depan nya bsa lanjut apa gk kalo ud sakit.

    Unit link ibarat beli INVESTASI bonus nya dpt asuransi. Lebih mahal, banyak potongan ini itu ibarat dengan hrg 1jt an dpt setara 400 rb tradisional, tapi kita uda deal dari awal, misal preminya 1jt, ya flat ampe waktu yg ditentuin walopun ada Claim .

    Jd prusaan asuransi gambling aja kalo di unitlink, ya kalo nasabah ny kna sakit kritis trus claim ya dia rugi bgt krn masi harus cover itu nasabah yg ud sakit2an dengan premi FLAT, tapi buat meminimalisir rugi ya dia buat premi nya dari awal tu lb mahal trus dana nya di puter2in ama dia , trus byk potongan di awal2 taun.
    Kalo tradisional gambling jg tapi beda nya kalo nasabahnya claim yaudah taun depan naik preminya kalo uda kritis bgt bsa kgk di perpanjang asuransiny buat tahun dpn, kan itu nasabah uda gk sehat lagi .
    Nahh, Silahkan dipikir2

  22. Nana berkata:

    Sama juga nih, saya dulu anti unit link tapi kemaren temen yang nawarin dan baru tau kalo tradisional itu bisa tengah2 ga diperpanjang kalo udah sakit. Setuju unit link sangat ga oke ketika dipasarkan sebagai instrumen investasi, tapi justru part flatness dia yang menarik. Salah strategi nih agen asuransi selama ini haha

  23. Eman berkata:

    Mana ada aturan itu? Masa ditengah-tengah si pihak asuransi nengokin pesertanya lagi sakit atau engga.

    Asuransi term life murni perjanjiannya kalau pesertanya meninggal, maka dapat up sejumlah perjanjinan. sesederhana itu.

  24. yant.. berkata:

    ada asuransi jiwa tradisional dmn program nya 10thn kontribusi 20thn proteksi. jika Alhamdulillah panjangan umur premi 100kembli.

  25. Rahmad berkata:

    Sy ambil UL tanpa akuisisi. Usia 38, premi 7jt, UP 1M. Biaya as sekitar 260rb per bulan atau 3.2jt per thn termasuk biaya polis. Msh lebih rendah dari biaya term life.

    Walaupun akan naik krn bertambahnya usia. Tp not bad lah. Klo duit lg seret, bs dibyr bulanan sistem top up, yg penting polis msh bs aktif :))

  26. Herin berkata:

    Halo Mbak,
    Minta saran, untuk asuransi kesehatan bagi orang tua, apakah memang pilihannya masih samam yaitu asuransi kesehatan non UL?
    saya mau mengasuransikan orang tua saya, tapi saya bingung, apakah baiknya non UL atau UL.
    pertimbangannya premi khawatir dinaikkan tinggi sekali (pada non UL). Meskipun jika di UL, saya juga memahami penjelasan Mbak di atas.
    PLease advice. THank you.

  27. Bantu jawab, tergantung dengan kebutuhannya, asuransi tradisional mempunyai benefit dengan premi yang lebih murah, tetapi harus diingat bahwa preminya akan meningkat sesuai dengan pertambahan usia. Untuk polis UL akan terasa berat ketika pembayaran di awal, tetapi untuk jangka panjang akan lebih “worthed” berhubung adanya sistem “level of premium”. Semoga bermanfaat^^

  28. Ali berkata:

    Saya masuk asuransi mvp manulife plus rider kesehatan , memang ada unit link nya, tapi kalau lihat cost rider yang dibebankan cukup besar mencapai sau juta perbulan,belum termasuk biaya biaya lainnya, saya kira percuma ada unit linknya. Karena tidak akan nampak hasil nilai yang kita dapatkan…akhirnya saya tutup.

    Salah saya kenapa tidak tanyakan dulu biaya ridernya.
    Jadi salah langkah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Daftarkan email Anda untuk update terbaru dari QM!

Contact Us

Grand Wijaya Centre Blok A no.3-4
Jl. Wijaya II, Pulo-Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Anda juga dapat menghubungi kami melalui:
WhatsApp/SMS/Call: 08111500688
Email: info@qmfinancial.com

atau silakan isi form kontak berikut:

    Berkarir bersama QM

    QM Financial memiliki mimpi mewujudkan masyarakat yang memiliki literasi keuangan agar berdaya secara finansial. Anda dapat mengirimkan CV dan menceritakan kenapa Anda tertarik untuk bergabung dengan kami serta bagaimana cara Anda dapat berkontribusi melalui surel ke hr@qmfinancial.com

    Keep in Touch