Planner Blog

AsJi, antara Perlu dan Tidak

Dulu saya sama sekali tidak paham dengan produk yang satu ini. Bahkan, saya sempat berpikir produk ini justru merugikan orang.

Yaiyalah, kita membayar sejumlah uang setiap tahun untuk menjaminkan sesuatu yang kita tidak bisa pastikan kapan terjadi.

Yup, menjamin kematian kita! Bahkan ada beberapa yang mengatakan “Iya kalau kita meninggal, kita untung…kalau nggak, yaa rugi dong”.

Pendapat itu bisa jadi benar karena  uang yang kita bayarkan akan “hilang” jika ternyata kita sebagai tertanggung masih hidup selama periode asuransi jiwa.

Setelah saya mendapat penjelasan dari salah satu senior planner, saya meyakini kalau asuransi jiwa ini memang dibutuhkan terutama bagi orang-orang yang punya tanggungan secara finansial bagi keluarganya.

Sebenarnya konsep asuransi jiwa bukan bermaksud untuk menggantikan nyawa orang yang meninggal, karena ada beberapa yang mengatakan “Nyawa orang kan nggak bisa dinilai dengan uang”. Namun, konsep asuransi jiwa adalah menggantikan pendapatan yang hilang akibat kematian orang tersebut.

Misal seorang Bapak berumur 30 tahun yang memiliki pendapatan Rp. 7 juta perbulan dan bisa menabung Rp. 1 juta perbulan. Bila meninggal dunia saat berumur 45 tahun akibat kecelakaan misalnya, maka jumlah tabungan yang dimilikinya hanya sejumlah Rp. 180 juta.

Lain halnya jika dia memiliki asuransi jiwa berjangka (termlife insurance) selama 20 tahun. Dengan uang pertanggungan (uang yang dibayarkan jika dia meninggal) sebesar Rp. 500 juta, cukup membayar premi asuransi kurang lebih sebesar Rp. 2,2 juta per tahun! (Angka ini merupakan simulasi menggunakan salah satu produk asuransi jiwa).

Itu berarti untuk bisa “mengumpulkan” Rp. 500 juta, dia hanya mengeluarkan biaya Rp. 33 juta selama 15 tahun. Jadi menurut saya, ketika seseorang membeli produk asuransi jiwa dia bukan hanya peduli dengan keluarganya tetapi juga orang yang cerdas secara finansial!

Tapi meskipun demikian, nggak semua orang butuh produk ini lho. Orang yang tidak membutuhkan asuransi jiwa antara lain:

  • Orang yang nggak punya tanggung jawab finansial buat orang lain. Jadi, kalau ketika Anda meninggal dan tidak ada pihak yang kehilangan secara finansial, Anda belum membutuhkan jenis asuransi ini.
  • Orang yang sudah punya memiliki harta berlebih, yang hartanya ini bisa digunakan untuk menghidupi keluarganya yang ditinggalkan tanpa harus memiliki asuransi jiwa.
  • Orang yang tidak memiliki pendapatan maka tidak memerlukan asuransi jiwa. Karena tidak ada pendapatan yang hilang bila orang ini meninggal.

Nah, kalau Anda masuk dari salah satu dari tiga kategori diatas, maka Anda bisa dengan lantang mengatakan “Saya tidak butuh asuransi jiwa” pada agen asuransi yang mendatangi Anda :)

Semoga bermanfaat!

Meta|Research |@rahmamieta

TOPICS


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Daftarkan email Anda untuk update terbaru dari QM!

Contact Us

Grand Wijaya Centre Blok A no.3-4
Jl. Wijaya II, Pulo-Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Anda juga dapat menghubungi kami melalui:
WhatsApp/SMS/Call: 08111500688
Email: info@qmfinancial.com

atau silakan isi form kontak berikut:

Berkarir bersama QM

QM Financial memiliki mimpi mewujudkan masyarakat yang memiliki literasi keuangan agar berdaya secara finansial. Anda dapat mengirimkan CV dan menceritakan kenapa Anda tertarik untuk bergabung dengan kami serta bagaimana cara Anda dapat berkontribusi melalui surel ke hr@qmfinancial.com

Keep in Touch