Planner Blog, PLANNERS BLOG

Fancy Baby Stuff VS Education Fund

pic from gettyimages

pic from gettyimages

Menjadi orangtua bukanlah pekerjaan mudah dan membutuhkan pembelajaran seumur hidup untuk membentuk manusia seutuhnya. Buat orangtua baru, ini adalah pengalaman mengasyikkan, mendebarkan sekaligus menakutkan terutama dalam hal keuangan seperti  kenaikan biaya pendidikan dan mahalnya kehidupan yang layak bagi buah hati.

Namun benarkah adanya?

Saya teringat pencatatan keuangan sebelum dan sesudah memiliki anak memang berbeda. Setiap orang bisa berbeda, namun saya pribadi mengalami sekitar 1,2 sampai 1,5 kali lipat kenaikan pengeluaran bulanan selama 2 tahun pertama semenjak anak saya lahir.

Komponen yang bertambah dalam keuangan saya adalah:

  1. Biaya pekerja rumah dan atau daycare (saya ibu bekerja dan dari awal saya menggunakan ART. Ketika anak sudah 1,5 tahun saya menggunakan jasa daycare)
  2. Imunisasi
  3. Biaya ke dokter (anak sempat mengalami jaundice dengan bilirubin tinggi dan sempat di rawat)
  4. Mainan
  5. Pakaian dan popok
  6. Susu UHT dari awal 1 tahun sebagai tambahan pendamping ASI
  7. Kegilaan saya terhadap online shop untuk perlengkapan bayi yang tidak wajib tapi buat saya lucu dan penting. Seperti makanan organik, kolam renang kecil dan lainnya

Banyak? Hehehe, orangtua juga terkadang suka “balas dendam”. Dulu merasa jarang ada buku anak-anak, sekarang saya selalu beli buku. Ada bando lucu, saya beli. Ada makanan organik, beli. Padahal boro-boro saya pernah makan makanan organik sebelumnya. Semua itu saya beli di online shop, merasa semua itu penting tapi ternyata saya tidak selektif. Beberapa barang menjadi mubazir dan saya berada di standar hidup yang belum selayaknya saya nikmati, semua diatasnamakan “sayang anak”.

Untunglah saya sadar segera (karena melihat rekening tabungan kok jauh berkurang hehehe).  Dan mulailah saya memilah-milah, karena ada yang lebih penting untuk dipikirkan yaitu pendidikan anak.

Dan saya membuat langkah-langkah sebagai berikut:

  • Anggaran. Dibuat sebelum suami dan saya menerima gaji. Termasuk untuk keperluan anak selama sebulan. Seperti poin 1-6 di atas.
  • Untuk hal-hal yang sifatnya tidak tetap seperti biaya rawat inap rumah sakit maka saya masukkan ke dalam dana darurat rutin.
  • Untuk kegilaan terhadap online shop baby stuff, saya menganggarkan sekitar 2-5% dari penghasilan bulanan dan hanya membeli jika ada dananya. Jika tidak ada dananya tidak membeli. Saya menahan diri agar tidak berlebihan membelikan banyak barang kepada anak. Niatnya juga menanamkan kebiasaan tidak boros.
  • Mulai menghitung dana pendidikan anak saya dengan lebih tajam dan mengevaluasinya. 

Memiliki amanah berupa anak memang menambah pengeluaran. Menghabiskan dana saat ini untuk biaya-biaya yang sifatnya fancy tidak salah, namun ada hal lain yang lebih wajib yaitu mempersiapkan si anak untuk hidup di masa depannya.

Kaukabus | Planner | @kaukabus

*artikel terkait dapat dibaca di sini

TOPICS


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Daftarkan email Anda untuk update terbaru dari QM!

Contact Us

Ingin mengundang QM untuk kegiatan di tempat Anda? Punya pertanyaan seputar literasi finansial? Tinggalkan pesan dan kami akan segera menghubungi Anda!

Our Location

Grand Wijaya Center Blok D No. 11
Jl. Wijaya II
Jakarta Selatan
Telp: (021) 293 294 08 / 09
Email: info@qmfinancial.com

Keep in Touch