Articles, Topik Terkini

Setelah Resign, Ke Manakah Alokasi Dana Pensiun?

Akhir bulan Januari lalu saya resign dari perusahaan tempat saya bekerja. Perusahaan saya mengelola dana pensiunnya sendiri. Setiap bulan gaji saya dipotong untuk iuran dana pensiun. Dana pensiun yang  saya ikuti memberikan manfaat pasti. Besaran dana pensiun yang saya terima didasarkan pada perhitungan gaji terakhir dan masa kerja.

Karena saya resign sebelum masa pensiun normal maupun masa pensiun dini, opsi yang diberikan ada 3 macam:

  1. Mengambil dana pensiun penuh di usia pensiun (55tahun)
  2. Mengambil dana pensiun sebagian di usia pensiun dini (45 tahun)
  3. Mengambil dana pensiun pada saat resign dengan perhitungan present value seusai usia pada saat resign

Dari ketiga opsi di atas, nilai dana pensiun yang paling besar ada di opsi pertama. Namun dana tersebut baru bisa diambil pada saat saya berusia 55 tahun, itu berarti masih 23 tahun lagi. Besaran uang yang sama, lebih bernilai saat ini dibanding di masa depan.

Misalnya dari hasil perhitungan rumus manfaat pasti, seharusnya saya menerima dana pensiun sebesar Rp100.00.000 di usia 55 tahun, sedangkan saya hanya akan menerima Rp15.00.000 jika dana pensiun dicairkan pada saat resign. Dana pensiun Rp100.00.000 tentu jumlah yang cukup besar saat ini. Lumayan untuk mempercepat pelunasan KPR J. Namun dengan asumsi inflasi 5% (rata-rata inflasi 4 tahun terakhir), Rp100juta 23 tahun lagi sebanding dengan Rp32.000.000 tahun ini. Yah, gak cukup deh buat lunasin KPR L. Oleh karena itu, saya memilih opsi ketiga: mengambil dana pensiun pada saat resign senilai present value.

Eits. Jangan senang dulu dengan dana segar di depan mata. Ingat mantra #tujuanloeapa dari Ligwina Hananto! Dana yang telah dicairkan ini adalah dana pensiun. Jadi, sudah seharusnya dana tersebut dialokasikan kembali untuk masa pensiun nanti. Ada beberapa alternatif yang bisa dipilih:

  1. Mengalihkan dana ke Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK)
  2. Mengalikan dana ke Dana Pensiun Pemberi Kerja (DPPK)
  3. Mengalihkan ke dana pensiun pribadi

Karena saya belum familiar dengan DPLK, dan belum bisa bergabung ke DPPK terkait masa probation, saya pun memilih opsi ketiga, yaitu mengalihkan dana ke dana pensiun pribadi. Sejak mengenal reksadana empat tahun yang lalu, saya sudah mulai berinvestasi untuk dana pensiun.

“Pensiunnya kan masih lama, ngapain siapin dana pensiun sekarang?”

Justru karena pensiunnya masih lama, saya jadi lebih leluasa menyiapkan dana pensiun. Gak perlu khawatir dengan fluktuasi yang terjadi di pasar modal, toh pasti akan recovery. Lagipula, dengan mulai investasi sejak dini, besaran dana yang harus diinvestasikan setiap bulannya jadi lebih kecil loh.

Misal, dengan usia saya yang 32 tahun dan usia harapan pensiun di usia 55 tahun, saya masih punya 23 tahun lagi untuk mempersiapkan dana pensiun. Dengan asumsi biaya hidup bulanan Rp5.000.000 dan inflasi 5%, saya akan memerlukan dana pensiun sebesar Rp3M. Angka yang besar ya.

Dana pensiun ini bisa saya capai dengan investasi rutin sebesar Rp1.250.000 di produk dengan imbal hasil 15% per tahun. Kalau saya baru menyiapkan dana pensiun di usia 40 tahun, dengan imbal hasil yang sama saya akan perlu berinvestasi sebesar Rp3.000.000 per bulan. Jauh ya bedanya? Ini karena ada prinsip bunga berbunga.

Jadi pilih invest sekarang atau nanti?  Your money, your choice, your resposibility. :D

 

Fransisca Emi | Financial Trainer


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Daftarkan email Anda untuk update terbaru dari QM!

Contact Us

Ingin mengundang QM untuk kegiatan di tempat Anda? Punya pertanyaan seputar literasi finansial? Tinggalkan pesan dan kami akan segera menghubungi Anda!

Our Location

Grand Wijaya Center Blok D No. 11
Jl. Wijaya II
Jakarta Selatan
Telp: (021) 293 294 08 / 09
Email: info@qmfinancial.com

Keep in Touch