Articles

7 Tip Aman Transaksi Online demi Mencegah Kebocoran Data dan Kejahatan Lain

Sudah baca berita kan, bahwa terjadi kebocoran data pribadi pengguna yang melakukan transaksi online di beberapa situs ecommerce? Padahal belum lama juga ada masalah Cambridge Analytica yang melibatkan jaringan pertemanan terbesar, Facebook.

Mungkin kamu ada yang masih cukup awam akan keamanan berinternet ini, sehingga bingung, apa pentingnya hal ini hingga semua orang meributkannya? Well, kalau dijelaskan sih bakalan panjang artikelnya. Tapi pada intinya, data pribadimu sebagai pengguna internet memang merupakan komoditi yang tak murah dan paling dicari oleh mereka-mereka–terutama yang memiliki kepentingan bisnis–di internet.

Dengan data pribadimu yang tersedia itu, orang akan dapat menjual barang-barang padamu, memengaruhi pendapatmu hingga membuatmu melakukan sesuatu, bahkan membuatmu berubah pandangan ideologi.

Karena itu kebocoran data pribadi selalu menjadi isu yang panas. Dan, biasanya, hal ini paling banyak terjadi di situs jejaring ataupun ecommerce, karena di situs-situs tersebutlah kamu harus “menyerahkan” data–meliputi nama, email, alamat, sampai nomor handphone–untuk keperluan personalisasi akun. Di ecommerce, bahkan kamu harus memasukkan nomor kartu kredit untuk keperluan pembayaran transaksi online.

Tak semata-mata menjadi kesalahan pemilik situs, hal ini juga menjadi tanggung jawab kita sendiri sebagai pribadi yang “menyerahkan” data tersebut pada mereka. So, kitalah yang harus cerdas dan bijak jika dimintai data pribadi. Kita harus tahu, kapan kita bisa memberikan data dan kapankah kita harus menolaknya.

Berikut ini ada beberapa hal yang bisa kamu lakukan, terutama untuk mengamankan dirimu saat melakukan transaksi online, demi mencegah (atau setidaknya meminimalkan) terjadinya kebocoran data pribadi dan juga kejahatan siber lainnya.

7 Hal Waspada Saat Melakukan Transaksi Online demi Meminimalkan Peluang Terjadinya Kebocoran Data Pribadi dan Kejahatan Siber Lainnya

7 Tip Aman Transaksi Online demi Mencegah Kebocoran Data dan Kejahatan Lain

1. Pastikan situs online shop aman dan asli

Salah satu trik yang biasa dipakai oleh penjahat siber adalah membuat situs palsu. Karena itu, kamu sebagai pembeli harus mewaspadai hal ini. Biasanya situsnya akan memiliki alamat yang ganjil. Misalnya, taruhlah QM Financial adalah situs belanja online, maka alih-alih beralamat qmfinancial.com–yang merupakan alamat situs aslinya–situs palsu akan beralamat di qm-financial.com.

So, kamu memang harus jeli. Pastikan kamu hanya melakukan transaksi online di situs asli ecommerce, online shop, atau situs jejaringnya ya. Ini adalah langkah pertama yang paling penting untuk mencegah kebocoran data.

Di samping itu, kamu perlu pula memperhatikan, apakah alamat situs tersebut berawalan “https” alih-alih hanya “http” saja. Huruf “s” pada https berarti “security”, yang berarti situs tersebut lolos sertifikasi keamanan. Hal ini sangat penting, terutama jika kamu nantinya dituntut untuk menyerahkan berbagai data diri untuk keperluan transaksi online.

Jika kamu tidak harus melakukan transaksi online, maka membuka situs beralamat http pun tidak masalah. Hanya saja, kamu harus tetap waspada, terutama jika browser kamu memberikan sinyal tanda bahaya.

2. Pastikan koneksi aman

Biasanya kita memang akan girang banget kalau bisa mendapatkan koneksi wifi gratisan di tempat publik, ya kan? Namun, hal ini justru harus membuatmu lebih waspada.

Para penjahat siber biasanya membobol akun pengguna internet dari wifi publik, sehingga di sinilah paling rentan terjadi kebocoran data pribadi.

Jadi gimana dong? Yah, boleh saja kamu menggunakan wifi gratisan ini, tapi pastikan, ketika kamu melakukan login ke mana pun–baik itu ke email, ke akun ecommerce, ke jejaring pertemanan–kamu memakai kuota internetmu pribadi.

Kalau hanya untuk scrolling, window shopping, atau baca-baca saja–setelah kamu login–enggak masalah pakai wifi gratisan.

Terapkan Work From Home, Ini 5 Tip untuk Perusahaan

3. Update browser, antivirus, aplikasi, dan operating system

Browser, antivirus, aplikasi, dan OS yang ketinggalan versi bisa menjadi celah bagi para penjahat siber untuk membobol dinding keamanan dan memperbesar peluang terjadinya kebocoran data.

Jadi, jangan abaikan permintaan update di smartphone kamu ya. Segera update jika ada request untuk memperbarui versinya.

4. Amankan nomor kartu

Mau pamer apa pun di media sosial, jangan sampai kamu mengambil foto kartu kredit, kartu debit, buku tabungan, atau sejenisnya, dan mengunggahnya ke platform yang bisa diakses oleh orang banyak untuk mencegah terjadi kebocoran data ini.

Jika memang harus mengirimkan foto kartu kredit dan semacamnya, untuk keperluan pribadi, lebih baik kamu kirimkan via email atau WhatsApp yang memiliki fitur encrypting, sehingga pesanmu akan lebih aman.

5 Jenis Investasi pada Diri Sendiri yang Bisa Dilakukan Selama Masa Pandemi

5. Pastikan password aman

Jangan gunakan password yang sama untuk semua akun yang kamu miliki, baik itu untuk keperluan transaksi online. Karena begitu satu akunmu dibobol, maka selanjutnya gampang saja buat si penjahat siber untuk membobol akunmu yang lain.

Jadi, pastikan password yang berbeda untuk setiap akun. Gantilah password setiap 6 bulan sekali demi mencegah kebocoran data.

6. Awas phising!

Kadang kita mendapatkan email yang berisi semacam penawaran atau bahkan peringatan, bahwa terjadi sesuatu di salah satu akun pribadi kita, dan kita diminta untuk klik satu tautan.

Di sini, kita harus meningkatkan kewaspadaan. Pastikan email benar-benar datang dari akun resminya. Jika si pengirim menggunakan alamat yang “aneh”–biasanya sih pakai akun gratisan di Gmail atau Yahoo–maka kamu patut untuk waspada.

Jangan langsung klik pada tautannya ya. Selidiki dulu, apakah semuanya memang asli.

5 Langkah Melunasi Utang Keluarga Warisan

7. Simpan bukti transaksi online

Setiap kali kita melakukan transaksi online, maka saat itu pula kita akan mendapatkan bukti transaksi, baik yang bisa dilihat di akun pribadi kita di ecommerce, aplikasinya, maupun yang dikirim melalui email. Simpanlah bukti transaksi online ini sampai transaksi benar-benar selesai; barang sudah sampai dengan aman, tak ada komplain, dan kita juga sudah membayar kewajiban.

Setelah itu, langsung hapus.

Masalah kebocoran data dan keamanan transaksi online ke depannya masih akan terjadi, apalagi dengan kondisi kita sekarang yang akan lebih banyak berbelanja secara daring. Karena itu, kitalah yang harus waspada dan cerdas saat hendak beraktivitas di dunia maya, apa pun aktivitas itu.

Tetap waspada ya!

Yuk, belajar mengelola keuangan dengan lebih baik lagi! Ikuti kelas-kelas finansial online QM Financial, pilih sesuai kebutuhanmu.

Stay tuned di akun Instagram QM Financial untuk berbagai update dan info seputar keuangan, agar kita lebih bijak dalam mengambil keputusan penting untuk hidup kita ke depan.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Daftarkan email Anda untuk update terbaru dari QM!

Contact Us

Grand Wijaya Centre Blok A no.3-4
Jl. Wijaya II, Pulo-Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Anda juga dapat menghubungi kami melalui:
WhatsApp/SMS/Call: 08111500688
Email: info@qmfinancial.com

atau silakan isi form kontak berikut:

Berkarir bersama QM

QM Financial memiliki mimpi mewujudkan masyarakat yang memiliki literasi keuangan agar berdaya secara finansial. Anda dapat mengirimkan CV dan menceritakan kenapa Anda tertarik untuk bergabung dengan kami serta bagaimana cara Anda dapat berkontribusi melalui surel ke hr@qmfinancial.com

Keep in Touch